Chapter 004
Sesampainya aku di kostsan, aku langsung naik menuju kamar dan bergegas mandi. Setelah selesai mandi, aku menyempatkan diri untuk membuka internet. Seperti biasa, aku langsung membuka situs sosial yaitu Facebook melalui komputer jadulku.
Aku iseng mencari nama Aci di situs tersebut. Namun hasilnya banyak sekali dan tidak mungkin aku melihatnya satu persatu. Aku lebih memilih untuk bertanya nama lengkapnya nanti. Aku yang sambil mengusap-usap kepalaku dengan handuk aku melihat telepon genggamku. Ternyata ada sms dan itu dari Aci. Dia meminta tolong aku untuk menemani adiknya besok malam, karena dia ada urusan penting yang mendadak. Aku sambil senyam-senyum mengiyakan permintaan dia dengan membalas smsnya.
Aku berpikir akan dapat kesempatan lebih dekat dengannya, sambil tertawa malu di dalam hati. Tapi perutku yang keroncongan membuyarkan semuanya. Akupun pergi keluar mencari makan. Akupun berhenti disebuah warteg. Tanpa berpikir panjang aku langsung memesan dan makan di tempat itu.
Setelah aku selesai makan dan hendak ingin minum, ada yang menyapa aku.
“Tumben engga masak indomie ?”, tanya seorang wanita.
Ternyata dia pramugari yang satu kost dengan aku.
“Engga kak, capek, jadinya mendingan makan di warteg aja deh. Lagipula masa makan mie terus kak hehehehe”, jawab aku.
“Iya juga ya, udah selesainya makannya ?”, tanya pramugari tersebut.
“Iya kak, kaka tumben udah pulang ?”,sahutku.
“Iya, kan kemarin baru pulang masa udah jalan lagi. Besok kaka paling berangkat lagi ke Surabaya”, jawab pramugari.
“Oh gitu kak, kalo gitu aku duluan ya kak, masih ada tugas”, balasku sambil malu-malu.
“Oh iya, iya, silahkan”, balasnya.
Ternyata memang cocok dia menjadi pramugari selain cantik dia juga sopan dan ramah. Semakin membuat aku deg-degan.
Akupun melanjutkan langkah kecilku kembali menuju kostsan. Sesampainya disana aku melihat Bagus, Sam dan Leo sedang sibuk menyiapkan perlengkapan untuk OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) besok. Aku yang belum menyiapkan apa-apapun tercengang melihat mereka. Akhirnya aku meminta saja kepada mereka apa yang harus dibawa besok. Beras 1,5 liter aku kumpulkan dari tiga orang tersebut. Masing-masing aku dapat setengah liter.
“Haaahh, belum apa-apa udah minta-minta gimana nanti. Kita 4 tahun bakalan satu kost nih”, celetuk Leo.
“Awas, aja ini anak kalau dia ternyata lebih sering minta sama gue !”, sahut aku dalam hati karena merasa tersindir.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, kamipun masuk ke kamar masing-masing karena waktu sudah menunjukan jam 9 malam lewat dan juga besok pagi jam setengah 7 pagi sudah harus ada di kampus. Aku yang lelah, tertidur dengan begitu mudahnya.
“Brrrrrrrrrrrrrr…”, gigil aku.
Dinginpun membangunkan aku. Meski alarmku belum berbunyi tapi aku mencoba menyegarkan diri. Waktu menunjukan pukul 4 pagi. Aku melihat ketempat biasa terdapat aku melihat surat dan aku tidak melihat sepucuk suratpun ada disana. Aku yang tambah penasaran, aku mencoba menanti kapan suratnya dating. Sampai pukul 5 ternyata tidak ada surat yang datang. Aku tinggal mandi sebentar, ternyata juga tidak muncul sepucuk suratpun. Lalu akupun menyiapkan barang bawaan hari ini jangan sampai ada yang lupa.
Jam 6 tepat aku selesai dan siap berangkat ke kampus, namun belum ada surat yang datang. Tanpa aku peduli akupun bergegas berangkat ke kampus.
Ketika keluar kamar, aku bertemu Sam, Leo dan Bagus, tapi entah kemana si Eko. Tiba-tiba ada orang yang keluar dari kamar mandi. Itu si Eko, baru selesai mandi. Tidur paling cepat tapi malah dia yang belum siap. Kamipun memutuskan untuk jalan terlebih dahulu. Karna waktu untuk sampai di kampus tinggal 30 menit lagi. Kamipun bergegas mencari angkutan umum, karena selama tiga hari kita OMB tidak diperkenankan membawa kendaraan. Setelah dapat angkutan, kitapun menyuruh supir angkutan tersebut ngebut. Namu ketika ingin jalan, ada suara teriakan.
“ Woi, tungguin !”, seru Eko.
“Wah, cepetan ko !”, balas Sam.
Setelah Eko naik, supirpun langsung menancap gas. Sesampainya di kampus, kami dihadapkan seribu mahasiswa baru. Kami pun berpisah menuju kelompok masing-masing. Akupun mengikuti jalannya OMB sampai jam istirahat.
Karna tenggorokan aku yang haus, aku membuka tasku dan aku mengambil botol minumku. Sewaktu aku melihat kedalam tas, ternyata ada surat dan pulpen yang biasa ada di kamarku. Aku sempat heran, aku tidak pernah memasukan surat itu kedalam tas, mengapa bisa ada di dalam tasku. Tanpa peduli jawabannya aku langsung membaca surat tersebut.
Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor pesawat GA 326 jurusan Jakarta-Surabaya gagal lepas landas pada pukul 14.15. Lima orang awak kapal menjadi korban jiwa dan puluhan penumpang luka berat serta lainnya luka ringan. Hal, ini disebabkan perubahan cuaca secara mendadak sehingga mengganggu pilot untuk lepas landas.
Aku langsung teringat dengan pramugari yang bertemu tadi malam. Dia akan terbang ke Surabaya hari ini, jangan-jangan pesawat yang akan ditumpanginya mengalami hal seperti itu. Aku bergegas mencari pintu keluar kampus karena waktu telah menunjukan pukul 12.56. Aku melihat pintu utama sudah dipadati senior, sehingga aku tidak mungkin keluar melalui pintu tersebut. Lalu akupun lewat pintu belakang. Hanya ada beberapa satpam disana, jadi aku memutuskan untuk lewat pintu itu.
Saat aku menuju disana aku bertemu dengan teman sekelompok aku. Aku meminta dia untuk menitip tasku agar tidak terlalu mencurigakan keluar kampus. Setelah keluar kampus akupun langsung menaiki ojeg menuju kostsan aku.
Sesampainya di kostsan memang ada mobil penjemput bergambar Garuda Airlines. Aku melirik sebentar kedalam mobil ternyata di kursi kiri depan ada pria, tampaknya seorang pilot pesawatnya. Aku menyuruh ojegku untuk tunggu sebentar. Akupun masuk kedalam kostsanku. Aku memberanikan diri menuju kamar pramugari tersebut. Sempat ragu untuk mengetuk pintunya. Namun sebelum aku mengetuk, pramugari tersebut sudah membukanya. Aku yang kaget tergagap-gagap untuk bertanya.
“Ada apa ?”, tanya pramugari heran.
“Eee, eenggak kak, kaka mau ke Surabaya kan ?”, tanyaku.
“Iya, emangnya kenapa ?”,balasnya.
“Nomer pesawat kaka berapa ? GA 326 bukan ?”, tanyaku panik.
“Iya bener, udah kaka mau berangkat dulu ya udah ditunggu supir didepan dan pesawat kaka jam 2”, sahut dia.
“Sebentar kak, nanti bakalan ada perubahan cuaca mendadak, jadi tolong beritahu pilotnya supaya menunda penerbangan setelah cuaca tersebut berubah”, kataku.
“Kamu tau darimana ? Jangan sok tau !”, sahutnya.
“Ya aku tau aja kak”, jawabku.
Lalu pramugari tersebut tidak peduli kata-kataku dan langsung menarik kopernya. Aku yang bingung tidak bisa bicara apa-apa lagi. Tak sengaja aku melihat kearah bawah meja dapur. Aku melihat ada sepotong kayu dengan paku yang tertancap. Aku langsung mengambil dan lari menghampiri mobil penjemput tersebut. Lalu aku pukul ban mobil tersebut dengan kayu dan ban mobil itupun bocor. Akupun langsung bergegas menaiki ojegku yang tadi aku suruh tunggu untuk balik ke kampus.
Selama perjalanan ke kampus, aku melihat surat tersebut. Ternyata tulisannya belum hilang menandakan aku belum berhasil. Aku lipat kembali dan kumasukan saja surat itu kekantong celanaku.
Sesampainya dikampus aku langsung lewat pintu belakang yang tembus ke toilet belakang. Aku berjalan sambil pura-pura membenarkan resleting, agar mereka mengira aku dari kamar mandi. Akupun langsung mencari barisan kelompok aku. Ternyata sedang ada seminar, sehingga orang-orang tidak terlalu fokus dengan aku. Disela-sela seminar, aku menyempatkan diri membaca surat tersebut dan akhirnya hilang juga tulisannya. Akupun menjadi sedikit lega dan fokus kembali mengikuti acara.
Pukul 16.30 menandakan acara OMB hari pertama selesai. Akupun bergegas pulang naik angkutan umum dengan anak kost yang lainnya. Sesampainya ditempat kost, aku langsung mandi dan berkaca ria, karena mau kerumah Aci. Setelah selesai, akupun bergegas berangkat. Sebelum berangkat aku mengirim pesan melalu telepon genggamku ke Aci untuk memberitahu bahwa aku sedang menuju kesana.
“Wiih, mau kemana lo fan ? wangi amat ?”,tanya Sam.
“Prikitiiewww sam”,sahut aku.
“Wah baru berapa hari disini udah dapet uyee, uyee ajaa”,balasnya.
“Hahahaha..ya semoga aja lebih dari sekedar uyeee. Jalan dulu ya sam !”,balasku.
“Iyeee pan, sukses daaah !”, jawabnya.
Prikitiew itu bahasa lain dari wanita dan uye itu bahasa lain dari gebetan atau juga bukan teman dan bukan juga pacar. Itu bahasa yang secara tidak langsung disepakati anak kost sebagai kata kode, agar orang lain tidak bisa tahu selain anak kost.
Sesampainya di rumah Aci, akupun mengetuk pintunya. Tok…Tok…Tok…Hati aku terkejut ketika melihat wanita dengan gaun merah membukakan pintu untuk aku.
“Ohhh, Irfan, sebentar y ague panggil dulu si Aldi”, kata Aci.
“Aldi !! Aldi !! sini !! ada mas Irfan !” serunya.
Acipun masuk ke dalam rumah mencari Aldi. Aku yang masih terpesona, akhirnya sadar setelah Aldi menarik-narik tanganku.
“Kak, kak, kak !”,panggil Aldi.
“Eh iya di, maaf kaka ngelamun. Kaka kamu cantik juga ya”, balasku.
“Waaah, kaka, dia udah punya pacar”,jawab Aldi.
Tanpa sempat bertanya siapa, Aci pun keluar rumah dengan menggandeng seorang pria.
“Doni ?”, tanyaku.
“Irfan ? Ada apa kesini ?”, balasnya.
“Ini mau jemput si Aldi, kata kakanya mau dititip ke gue”, balasku.
“Ohhh, gitu !”, balasnya.
“Kalian udah saling kenal ?” tanya Aci.
“Iya ci, tapi ceritanya panjang, nanti aku certain pas kita makan ya”, jawab Doni.
“Oke, kalo begitu, kita nitip Aldi ya Fan ?”, tanya Aci.
“Iya, engga apa-apa kok, nanti hub gue aja waktu mau pulang”,jawabku.
Merekapun berjalan menuju sebuah mobil sedan buatan eropa dan langsung menancap gas.
“Tuh kan kak, apa aku bilang”, sahut Aldi.
“Wuaaaah, kalo gitu ga usah dibahas lagi ya. Kamu ikut kaka aja yuk ke kostsan kaka ?”,tanyaku.
“Yaudah ayo kak !”,sahutnya.
Kamipun menaiki motor maticku, bukan mobil sedan buatan eropa. Sambil mengeluh dalam hati, ternyata urusan penting dan mendadaknya itu pergi makan malam dengan laki-laki lain.
Bersambung…