Pages

Labels

Selasa, 26 Oktober 2010

Pesan Nyata (002)

Chapter 002

Aku keluar kamar dan lihat sekeliling yang masih sepi tanpa ada tanda – tanda kehidupan. Lalu datang seorang pria, ia mengaku bernama Bagus. Aku sempat heran ketika berkenalan dengannya.

“Irfan !”, tegasku.

“Bagus !”, balas dia.

“Nih orang baik banget kok baru kenal aja sudah bilang nama aku bagus” sahutku dalam hati.

Setelah kenal lebih jauh ternyata dia juga kuliah di tempat yang sama dengan aku. Tak lama kemudian tampak 2 orang pria membawa tas. Mereka berdua Leo dan Sam. Kami pun akhirnya ngobrol-ngobrol lebih dekat, karena kita satu kost dan satu kampus.

Karena aku merasa letih akupun memutuskan untuk pergi tidur duluan. Lama tak berselang aku masuk kamar sudah tidak terdengar lagi suara mereka mengobrol. Langsung dengan lelapnya akupun tertidur.

Tanpa sadar pagi pun sudah datang lagi. Aku bangun dan mengucek-ngucek mata sebentar. Tampak dengan mata yang masih setengah sadar, pulpen dan selembar surat seperti hari kemarin. Aku baca sejenak dan seperti kemarin tampak tulisan seperti berita.

Seorang anak tewas seketika, diduga anak tersebut bunuh diri lompat dari jembatan penyebrangan yang di bawahnya adalah tol Jakarta-Merak. Anak tersebut bernama Aldi usia 8 tahun. Didalam surat tersebut juga diberitahukan waktunya sekitar jam 10.30.

Aku langsung melihat jam dan terlihat 9.45. Akupun bergegas mandi dan langsung berangkat. Pukul 10.15 aku sudah ada ditempat tersebut sambil membawa surat tersebut. Aku tengok kanan kiri tak ada satu anak kecil pun yang melintas di jembatan tersebut.

Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. Ternyata ada sms dari Tara. Dia meminta aku untuk ketemu di sekolahnya jam 11 tepat. Lalu aku membalas bahwa aku tidak bisa kesana jam 11. Sedangkan perjalanan kesekolah dia aja paling cepat 1 jam. Lalu dia bilang kalo terlalu lama dia akan pulang dan tidak jadi ketemu. Iya aku kesana secepatnya balas aku.

Lepas pandanganku dari sms Tara, aku melihat anak kecil lewat di depan aku.

“Kamu Aldi kan ?”, tanya aku sambil menarik tangannya.

“Iya, aku Aldi !”, nampak ketakutan sambil mencoba melepaskan genggaman tanganku .

“Ga usah takut, kaka cuman mau nanya. Kamu kenapa mau bunuh diri ?”, tanyaku dengan wajah imut.

“Kok kaka tau aku mau bunuh diri ?”, balas dia penasaran.

“Ya, kaka tau aja. Ada yang bisikin kaka tadi malam “, canda aku sambil mengelus rambutnya.

Anak itupun tersenyum sejenak.

“Aku merasa bersalah kak, lebih baik aku mati aja kan ? Biar aku engga nyusahin kaka aku. Aku yang udah bikin kaka kehilangan segalanya”, jawab dia.

“Oh, Kamu punya kaka. Ya, tapi engga gitu donk di, kamu harusnya bantuin kaka kamu. Kalo kamu bunuh diri nanti yang bantuin kaka kamu siapa ? Kamu mau kaka kamu sendirian ? Kamu sayang engga sama dia ?”,tanya aku sambil berlutut dan menatap matanya.

“Ya, Sayang ka !”, jawab dia.

“Nah kalo gitu mendingan sekarang kamu pulang bantuin kaka kamu”, suruh aku.

“Kok kaka bisa tau kaka aku nantinya sendirian ? Kaka pacarnya ya ?”, tanya dia.

“Engga kok, pokoknya kaka tau aja”, jawab aku sambil tersenyum padanya.

“Yaudah aku pulang dulu ya kak”, sahut dia.

“Iya hati-hati ya”, balas aku.

Padahal disurat tersebut ada penjelasan anak itu meninggalkan siapa aja ketika dia meninggal dan ternyata hanya seorang kaka perempuan.

Aku lihat kembali surat tersebut dan aku kaget ketika melihat tulisannya hilang entah kenapa. Mungkin itu tanda aku berhasil menyelamatkan nyawa anak tersebut.

Aku melihat jam tanganku dan ternyata sudah hampir jam 11. Akupun bergegas menaiki motor dan berangkat menuju sekolah Tara.

Sesampainya disana aku melihat keadaan sekolah yang telah sepi kosong. Memang waktu sudah menunjukan jam 12.10 Aku tanya satpam sekolahnya.

“Pa, masih ada orang engga pa di dalem ?”, tanya aku.

“Wah udah pulang semua mas”, jawab satpam tersebut.

“Ohh, makasih ya pa, permisi”, kata aku.

Aku langsung sms Tara menanyakan keberadaan dia. Setelah cukup lama menunggu, sms dari diapun masuk ke telepon genggamku. Dia berkata kalau dia ada dirumah temannya bernama Tira. Akupun langsung tancap gas menuju rumahnya Tira.

Sesampainya disana aku disuguhkan tampang yang kurang bersahabat dan aku dicuekin. Setiap aku memandang dia, dia langsung buang mukanya ke arah lain. Aku diam sendiri sampai akhirnya Tira yang mengajak aku ngobrol. Sampai azan maghrib menggema aku masih dianggap tidak ada. Akhirnya aku pamit sama Tira buat Solat Maghrib.

Setelah selesai solat dan berdoa, akupun menarik tangannya Tara dan membawanya ke teras depan rumahnya Tira.

“Mau kamu apa sih ?”, tanya aku.

“Aku mau putus !”, jawabnya tegas.

“Waaauuuu, aku sudah jauh-jauh dari Serpong ke Tebet cuman buat denger kata itu”, jawab aku dalam hati.

“Terserah mau kamu apa pokoknya yang aku mau itu”, lanjut dia.

“Emang kamu udah engga sayang sama aku ?”, tanya aku tegas.

“Engga, tadinya aku mau jalan sama kamu, tapi kamunya kelamaan tau ga ! Aku udah males duluan. Tadinya aku mau ngetes aku masih sayang ga sama kamu “, jawab dia sambil membentak.

“Dengerin penjelasan aku dulu donk, aku kasih tau kenapa aku telat. Ada hal yang lebih penting”, jawab aku sambil menghela nafas.

“Ohh, jadi ada yang lebih penting dari aku ? Udah cukup aku ga mau denger penjelasan kamu lagi. Kamu kalo mau pulang, pulang aja sekarang sana. Aku udah engga bisa pokoknya jalanin hubungan pacaran sama kamu !”, jawab dia.

Akupun sudah tidak bisa mengucap kata lagi dan langsung mengambil helm dan jaket aku, berharap Tara akan mencegah aku pergi. Namun sampai aku menyalahkan motor dia tetap tidak mau menatap aku. Mungkin emang dia ingin aku pergi jauh-jauh.

Segera aku gas motorku dengan berat hati. Aku pergi begitu saja tanpa peduli lagi. Sepanjang perjalanan aku berharap sekali sesuatu terjadi padaku. Agar Tara tau bagaimana bila kehilangan seorang aku. Namun aku berpikir lagi, memang itu yang dia inginkan. Jadi aku coba menenangkan pikiran dengan melihat berbagai ekspresi orang-orang saat di jalan pulang. Tersenyum aku ketika ada orang yang sedang naik ojek, dia menangis kencang sambil menelpon. Membuat semua pengguna jalan langsung tertuju padanya. Aku menebak dia juga baru putus mungkin. Peristiwa itu membuat aku berpikir, tidak cuman aku yang merasakan patah hati. Aku berusaha tegar sebisa mungkin.

Sempat hati berpikir menyalahkan surat tadi pagi. Seandainya aku tidak pernah mendapat surat itu mungkin aku tidak akan telat menjemput dia. Tapi aku pikir sudahlah, itu memang takdir buat aku. Walaupun aku merasa itu sebagai kutukan.

Tanpa sadar aku sudah dekat dengan kostsan aku. Sesampainya disana, kulihat kostsan cukup ramai. Ternyata Bagus, Leo dan Sam sedang pada masak.

“Dasar cowo, masak aja berisik !”, kataku dalam hati.

Akupun naik ke atas menuju kamarku. Aku langsung ganti baju dan cuci muka sebentar lalu aku menyusul yang sedang pada masak. Aku sempatkan diri bertanya pada mereka.

“Eh, pada dapet surat ga setiap pagi ?”, tanyaku.

Mereka menjawab tidak pernah, malah jadi bahan bercandaan yang mereka kira surat cinta. Akupun ikut tertawa, cukup menghibur hati aku yang sedang hancur begini.

Ketika sedang asik mengobrol dan masak, semua pandangan tertuju pada pintu masuk kostsan. Dengan mata yang berbinar-binar dan terpaku. Kita melihat bidadari seperti turun dari langit. Memang seperti itulah kenyataannya. Tampak 2 wanita berseragam pramugari baru pulang dengan mobil antar jemput. Ketika mereka berbalik arah menuju kamarnya, kamipun saling menatap dan terpana dalam hati.

Kamipun melanjutkan masak dengan keringat dingin dan salah tingkah sedikit cari perhatian. Karena dari lirikan kita berempat mereka berdua sedang menuju ke arah kita. Ternyata kamarnya dekat dengan dapur. Dalam hati aku langsung timbul niat untuk sering-sering masak.

Setelah selesai masak kamipun kembali ke atas untuk menikmati makanan tersebut walaupun hanya mie goreng telur dengan beberapa nugget. Karena aku tidak menyumbang apa-apa aku hanya menyaksikan mereka makan. Akupun memutuskan untuk masuk ke kamar duluan.

Waktu sudah larut jadi aku putuskan untuk langsung tidur, karena besok hari pertama aku ke kampus.

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar