Pages

Labels

Selasa, 26 Oktober 2010

Pesan Nyata (003)

Chapter 003

Hmmmmmt, hmmmmt, hmmmmmt alarm di handphoneku bergetar menandakan aku sudah harus bangun dan bersiap-siap. Kubangun dan membuka mata, hanya bisa pasrah ketika aku disuguhkan sepucuk surat seperti hari kemarin. Aku berharap surat itu bisa berubah menjadi makanan hangat. Tanpa aku perduli surat itu aku bergegas mandi. Karna hari ini hari Senin dan aku harus pergi ke kampus untuk daftar ulang.

Kubasahi semua kepalaku dengan air, agar bisa mendinginkan sedikit kepala ini yang hampir pecah karena kejadian kemarin. Kuyakini mulai hari ini aku akan masuk kedalam proses untuk melupakanya. Walau sempat aku berpikir bahwa aku tidak bisa, tapi aku harus.

Setelah selesai mandi dan berpakaian. Aku membuat sarapan, ya walaupun hanya sekedar roti tapi cukup mengganjel perut pagi ini. Sambil ku baca surat yang datang hari ini.
Jam 15.35 WIB terjadi perampokan di sebuah rumah di daerah Cildeug. Rumah tersebut milik seorang dokter. Tersangka berhasil kabur dengan membawa uang sebesar 150 juta beserta perhiasan dan mobil milik anak dokter tersebut. Dalam peristiwa tersebut dua orang dinyatakan tewas tertembak. Seorang satpam dan anak pemilik rumah tersebut. Tertera juga alamat rumah itu dengan lengkap. Begitulah kurang lebih isi surat yang datang hari itu.

Aku langsung lihat jam, ternyata baru menunjukan pukul 8.15. Jadi aku masih sempat untuk pergi ke kampus terlebih dahulu. Setelah selesai sarapan akupun menyiapkan data-data

yang harus dikumpulkan. Setelah itu aku berangkat.

Sesampainya di kampus, aku lihat pemandangan yang ramai. Sehingga aku harus menunggu giliran. Aku dapat giliran pada jam 10. Aku harus menunggu satu setengah jam lagi untuk bisa daftar ulang.

Kusempati diri untuk melihat sekeliling, mencari pengganti Tara tapi, rata-rata bukan tipe aku ternyata. Setelah lama menunggu, gilirankupun tiba. Langsung aku kumpulkan berkas-berkas dan foto untuk kartu mahasiswa. Aku diberitahu bahwa akan ada pertemuan untuk persiapan OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) jam 16.00 di kampus.

Saat ingin jalan pulang aku bertemu Bagus, Sam dan Leo. Lalu aku dekati mereka. Ternyata mereka juga baru selesai daftar ulang, lalu kamipun memutuskan untuk pulang bareng. Sesampainya di kostsan ternyata ada mahasiswa baru juga yang kuliah di kampus yang sama denganku. Kami pun berkenalan dan cerita banyak. Namanya Eko, ternyata rumah dia di daerah Jakarta Barat. Aku sempatkan diri untuk bertanya jalan ke arah Ciledug. Dia berkata bahwa itu searah dengan rumahnya dan diapun menjelaskan jalan menuju arah sana. Lalu dia bertanya ada apa di Ciledug. Aku bilang padanya bahwa ada urusan mendadak. Lalu dia mengingatkan kalau nanti jam 4 sore ada pertemuan persiapan OMB.

Setelah panjang mengobrol dengan mereka, akupun memutuskan untuk masak makan siang. Aku sambil berharap bahwa pramugari yang tadi malam akan menyapaku. Setelah aku ambil mangkok, garpu, indomie dan telur, akupun menuju dapur di bawah.

Aku melihat pintu kamar mereka tertutup rapat. Akupun putus asa. Selang beberapa lama aku merebus indomie. Tiba-tiba ada yang menyapaku.

“Ngekost disini juga ya ? kuliah apa kerja ?”, tanya seorang pramugari sambil mencuci piring bekas dia makan.

“Eeeeee, Iya kak. Masih kuliah kok kak,” jawab aku sedikit terkejut.

“Ooooh, semester berapa ? “, balas pramugari.

“Baru semester satu kak. Baru masuk kuliah besok, hehehehe”, jawab aku.

“Oh iya, emang ada cara masak baru indomie ya ?”, tanyanya.

“Uppss, oh iya salah masukin bumbu kak. Waaaduuuuh”, jawab aku sambil panik karena salah memasukan bumbu.

Aku menaburkan bumbu pada rebusan indomie bukannya pada mangkok.
Setelah selesai mencuci piring dia masuk kembali ke kamar. Akupun melanjutkan masak dan kemudian aku makan.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 13:30. Aku sudah harus berangkat ke Ciledug. Aku berangkat dengan bermodalkan nekat dan sepucuk surat. Aku terus menelusuri jalan yang sudah diberitahukan oleh Eko.Alam Sutra – Graha Raya – Ciledug itulah rute yang aku tempuh. Cukup membuat aku pusing karna jalannya berliku-liku. Setelah hampir satu jam akhirnya aku sampai pada komplek perumahan yang tertera di surat itu.

Saat aku tiba, pagar rumah sudah terbuka dan aku melihat mobil boks parkir di depan rumah itu. Aku langsung memarkirkan motorku dan berusaha mencari sebalok kayu. Lalu aku masuk dengan membawa sebalok kayu. Aku melangkah pelan-pelan menuju garasi kayu yang agak terbuka sedikit. Aku lihat seorang satpam sedang menghadap ke tembok dengan tangan dibelakang kepala. Setelah aku lihat lagi, ternyata dia sedang ditodong pistol oleh seorang perampok.

Deg, deg, deg, deg… Jantungku berdetak kencang. Keringatku berkucuran keluar, kalau aku tidak berhasil mungkin bisa saja aku yang mati pikirku dalam hati. Aku tarik nafas dalam-dalam lalu aku beranikan diri. Aku tendang pintu tersebu. Perampok tersebut agak terkejut melihat aku yang datang tiba-tiba. Sebelum dia bisa berkutik lebih banyak aku langsung memukulnya dengan balok berkali-kali sampai dia jatuh dan tidak sadarkan diri. Satpam itu langsung mengambil pistol si perampok.

“Mas, mas tunggu sini aja ya, di dalam masih ada 3 orang lagi. Mas, jaga pintu itu, nanti kalo ada yang mau kabur, langsung pukul aja pake balok ya ?”, kata satpam terburu sambil berjalan menuju kedalam rumah.

“Oh, Iya iya pak !”, jawab ku sambil bersiap-siap.

Setelah satpam itu masuk, terdengar suara beberapa kali tembakan dan beberapa saat kemudian aku melihat satpam itu keluar sambil memegang bahunya, sepertinya terkena tembak. Tiba-tiba ada yang mengalungkan pisau ke leherku, ternyata dia perampok yang tadi aku pukuli. Balok kayu yang ada di tanganku langsung ditendangnya.

“Jatuhkan pistol lo !”, seru perampok itu kepada satpam tadi.

“Iya iya, tapi lepasin anak itu ! “, jawab satpam tersebut.

Aku pasrah tidak bisa bergerak, karena kalau bergerak putuslah leherku.
“Tidak, sekarang kumpulkan semua uang dan perhiasan milik tuan rumah ini !”, perintah perampok itu.

Doooor…. Terdengar suara peluru terbang menuju tepat di tangan perampok itu. Tembakan tersebut membuat tangannya terluka cukup parah dan melepaskan genggaman pisau dan aku. Akupun langsung berusaha lepas dari perampok itu sejauh-jauhnya. Ternyata itu peluru dari pistol anak pemilik rumah itu yang baru datang. Anak pemilik rumah itu ternyata seorang polisi. Kami langsung mengumpulkan para perampok itu dan mengikatnya. Ada yang hanya kakinya tertembak, ada yang hanya tangannya saja dan ada yang kedua-duanya tetembak.

Akupun meminta izin memakai kamar mandi, karena tangan dan pipiku terkena darah perampok itu, bahkan tanganku luka terkena pisau si perampok. Aku melihat kaca sejenak sambil mencuci tangan dan berpikir akhirnya selesai juga. Aku melihat jam tanganku ternyata sudah jam 15.15 sedangkan aku harus ada di kampus jam 16.00. Sebelum aku keluar aku sempatkan diri membaca surat yang tadi pagi aku dapat, ternyata tulisannya telah menghilang, pertanda berhasil diselamatkan. Aku bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju pintu keluar.

“Hei, Mas, tunggu !”, panggil anak pemilik rumah itu kepadaku.

“Eh, iya mas. Ada apa ?”, jawabku.

“Kok buru-buru banget ?, Mau kemana ?" tanya dia.

“Saya harus balik ke kampus. Ada urusan kuliah pak”, jawabku.

“Ohhhh, begitu, ok deh, terima kasih banyak yah. Oh iya, jangan panggil saya bapak. Panggil saja saya Doni !”, balas dia.

“Oh iya don, nama saya Irfan. Saya berangkat dulu ya ! Permisi !”, seru ku.

“Iya silahkan”, balas Doni.

Aku langsung memakai helm lagi dan langsung menancap gas menuju kampus. Sesampainya di kampus aku langsung mencari barisan kelompokku. Setelah selesai semua perkenalan dan permainan kelompok serta pembagian jadwal OMB besok dan apa saja yang harus dibawa selama OMB, akupun pulang.

Saat aku sedang mengendarai motor, aku melihat anak kecil sedang dikejar-kejar oleh tukang es krim. Ternyata itu si Aldi anak yang ingin bunuh diri kemarin. Akupun ikut mengejarnya. Setelah aku dekat akupun langsung menariknya.

“Hey, Aldi, Kamu kenapa lari-lari begitu dikejar penjual es krim ?”, tanya aku.
Aldi hanya terdiam dan kemudian menangis.

“Jangan tangkap aku ka’, aku ga mau masuk penjara”, jawab dia.

Tiba-tiba prnjual es krimpun sampai ditempat kami.

“Mas, ini adeknya ya ? Dia belum bayar tuh mas, main lari aja. Jangan diajarin maling dong mas, nanti gedenya mau jadi apa ?”, bentak penjual es krim.

“Iya iya maaf mas, emang berapa harga es krimnya biar saya yang bayar dua kali lipat deh mas ?”, jawabku.

“Jadi 15.000 mas, itu udah jadi 2 kali lipat“, sahut dia.

Akupun langsung mengambil uang dari dompetku.

“Ini mas uangnya, kembali 5000. Sekali lagi mohon maaf ya bang ?”, balasku.

Setelah memberi uang kembalian penjual es krim itupun pergi dengan muka yang sedikit kesal. Lalu aku membujuk Aldi yang masih menangis ketakutan.

“Udah, udah, kamu engga akan dipenjara kok di”, ucap ku kepada Aldi.

“Iya, iya kak, makasih yaa kak“, balas dia.

“Yaudah sekarang kakak anterin kamu pulang yah ?”, tanyaku.

“Iya kak, engga begitu jauh kok dari sini “, jawabnya.

“Oke, kalo gitu. Ayo naik motor kakak, pegangan ya ! Kasih unjuk jalannya !” seru aku.
“Iya iya kak“, sahutnya sambil menaiki motor aku.

Akhirnya kamipun sampai pada satu rumah kontrakan. Setelah turun dari motor Aldi mengetuk pintu rumah sambil memegang es krimnya. Akupun ikut turun mengantarnya. Selang beberapa lama Aldi mengetuk akhirnya dibukakan pintunya oleh kakaknya Aldi. Aku terpesona melihat kakaknya Aldi, sangat manis dan sederhana. Aku berpikir inilah yang aku cari.

“Mas, Adek saya mencuri lagi ya ? Maafin adek saya ya mas ! Sebentar uangnya saya ganti deh“, ucap dia sambil panik.

“Emmmmm, Mbak, engga usah. Saya ikhlas kok Mbak, boleh bicara sebentar engga Mbak tentang Aldi ?”, ucap aku terbata-bata.

“Oh iya, iya bisa kok. Sebentar saya ambilin minum dulu ya mas“, balasnya.

“Eh engga usah repot-repot mbak, cuman sebentar kok“, balasku.

Akhirnya kamipun duduk diteras depan rumahnya.

“Aldi, sana kamu mandi dulu ! Oh iya mas, kenalin nama saya Aci“, ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Oh iya, engga usah panggil mas, ngomongnya juga santai aja ci, kita seumuran kali nama gue Irfan“, sahutku sambil menyalami tangannya. Sengaja aku ngomong sedikit panjang biar bisa menggemgam tanganya agak lama.

“Oh gitu ya, iya deh fan. Oh iya si Aldi kenapa ?”, tanyanya penasaran.

“Sebenarnya ada masalah apa sih ? kalo boleh tau, soalnya kemarin gue liat dia mau bunuh diri dari jembatan di atas tol. Untung kebetulan gue ada disitu ci, langsung gue suruh pulang dia. Emangnya dia engga cerita apa-apa ci ?“, jawabku.

“Hah, engga ?”, balasnya keheranan.

“Dia bilang, dia engga mau bikin susah lo lagi ci !”, jawabku.

“Hmmmmmm, gitu, iya semenjak kita ditinggal ibu, semua biaya sekolah dia gue yang nanggung”, ucapnya.

“Hmmm, maaf yah gue turut berduka cita ci. Emangnya kapan meninggalnya ?”, tanyaku penasaran.

“Hari sabtu kemarin, dia tertabrak saat ingin mengejar si Aldi yang menyeberang sembarangan“, jawabnya sedih.

“Jangan-jangan ibu-ibu yang ada disurat waktu itu yang seharusnya bisa aku tolong tapi aku tidak menolongnya”, ucapku dalam hati.

“Sudah jangan sedih ci, mungkin memang sudah takdirnya. Ini pegang nomer handphone gue ci, kalo butuh apa-apa hubungin aja siapa tau bisa bantu, toh kost-kostsan gue juga ga begitu jauh dari sini”, ucapku sambil menuliskan nomer handphoneku di selembar kertas.

“Iya, iya makasih banyak ya fan. Mungkin adek gue bakalan dipukulin orang kali kalo ga ada lo fan”, balasnya.

Akupun akhirnya pamitan pulang dengan dia. Aku merasa sangat bersalah. Aku seperti yang membunuh ibu mereka namun tidak secara langsung. Harusnya aku bisa mencegah hal itu tidak terjadi. Mulai saat ini aku berjanji sama diriku sendiri aku akan senantiasa membantu mereka dari kesulitan dan akan mngikuti semua petunjuk surat yang selalu aku dapat setiap pagi. Walaupun harus mengorbankan waktu untuk kuliah ataupun yang lainnya. Karena nyawa orang lain lebih berharga daripada sekedar waktu yang aku punya.

Bersambung…

0 komentar:

Posting Komentar