Chapter 001
Irfan Budipradipta adalah nama lengkapku. Seorang pria yang baru saja lulus dari bangku SMU Swasta di daerah Pancoran. Aku bersyukur dapat kuliah di Universitas Swasta di kawasan Sumarecon Serpong dengan bantuan beasiswa.
Cerita ini berawal saat aku sedang berhenti menunggu bis yang akan membawaku pulang menuju rumah. Ada orang tua beruban namun terlihat masih segar. Mungkin umurya sekitar 50 sampai 60 tahunan, memakai kemeja kotak-kotak, celana hitam bahan dan anehnya memakai kacamata hitam. Padahal waktu di jam tanganku telah menunjukan pukul 20.30. Dia menabrak aku dan terjatuh.
“Maaf pak, lain kali lebih hati-hati ya pak !” ucap aku karena aku tak tega memarahinya. Lalu aku membantu membangunkan dirinya.
“Iya tidak apa-apa dek ! Ini sih bapak yang salah, bapak tidak lihat-lihat jalannya. Pasti nama kamu Irfan kan ?” tanya orang tersebut.
“Hah , Kok bapak tau nama saya ?” kagetku.
“Iya kamu menjatuhkan ini ?” jawab orang tersebut sambil menunjukan sebuah pulpen dengan merek Mont Blanc.
“Saya engga pernah punya pulpen sebagus itu pak,” jawab aku keheranan.
“Iya, ini punya kamu nak, Lihat tertulis inisial nama kamu. Pasti ini punya kamu kan ? Sudah ambil saja kalau begitu tak ada salahnya juga. Bapak mau pergi dulu ya”, kata orang tersebut.
Aku memandangi terus pulpen tersebut sambil keheranan. Perasaanku tidak pernah punya pulpen sebagus itu. Lalu orang tersebut pun melanjutkan langkahnya sambil menjulurkan tongkatnya. Ternyata dia buta. Aku tambah heran lagi kok bisa tahu di pulpen tersebut ada nama aku. Sejenak aku memandangi pulpen tersebut keheranan. Lalu ketika aku menoleh orang tersebut telah hilang begitu saja. Aku pun bergegas pulang menaiki bis. Sepanjang perjalanan aku berpikir apa maksud orang tersebut.
Sesampainya di rumah, aku pun menaruh tasku diatas meja. Bersih-bersih sebentar lalu aku tidur pulas karna waktu sudah menunjukan pukul 21.30 WIB. Badan terasa sangat lelah karena perjalanan pulang cukup menguras waktu dan tenaga. Dalam mimpi aku selalu terbayang wajah bapak tua tadi. Aku masih terheran-heran sendiri dan membisu.
Ketika pagi menyapa, aku bangun dari mimpiku langsung melihat jam yang ada di meja belajarku.Terlihat jam menunjukan pukul 7.15. Langsung aku bergegas bersiap-siap mandi dan merapihkan bajuku, karna aku hari ini akan pindah dari anak rumahan, jadi anak kostsan, sebut saja begitu.
Tak lupa aku pamit sebelum berangkat. Dengan berkendara sepeda motor metik aku menelusuri jalan yang menempuh waktu sekitar 2 jam dari rumah menuju ke kostsan. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan, menyita pikiranku di suatu sudut lampu merah. Aku melihat bayangan bapak tua yang memberikan aku pulpen. Mata di balik helm ini terpaku pada sudut itu, akupun terdiam dan heran apa yang dilakukan bapak tua tersebut.
Tinnn, tiiinnn, tiiinnn, suara klakson mobil dibelakangku menyadarkan ku dari lamunan sesaat. Bergegas ku menancap gas dan berpikir seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sesampainya disana, aku beristirahat sejenak lalu mencuci muka. Kutaruh semua barang di kamar kostku, lalu ku beranjak pergi lagi berputar-putar di daerah kostsan mencari tempat makan yang murah dan terjangkau. Serta ku kunjungi beberapa mall terdekat. Agar aku bisa mengetahui apa saja yang tersedia dalam mall tersebut. Ada dua mall yang cukup besar di dekat sini. Sebut saja Sumarecon Mall Serpong dan Lippo Karawaci.
Aku sampai di kostsan lagi pukul 21.00. Badan ku terasa lelah sekali karena hari ini menghabiskan waktu di jalan. Serasa aku akan bertambah tua di jalan. Untung kamarku telah aku bereskan 2 hari sebelumnya, jadi aku bisa langsung tidur dengan nyaman. Pulasku tertidur karna esok pagi adalah hari pertamaku tinggal di kostsan.
Terbangunku dari lelap tidak seperti biasa dirumah aku harus menyiapkan semuanya sendiri. Namun sebelum memulai aktifitasku, pandanganku terpaku oleh sepucuk surat dan diatasnya terdapat pulpen yang dikasih oleh bapak tua 2 hari lalu.
Seingat aku, pulpen tersebut aku tinggal di atas meja belajarku di rumah. Entah bagaimana caranya pulpen tersebut bisa sampai di kostsanku. Lalu ku baca sejenak isi surat tersebut.
Seorang ibu tewas ketika ingin menyeberang. Surat tersebut juga berisikan identitas wanita tersebut, tempat, waktu serta sebab dan akibat dia bisa tertabrak.
Disitu dijelaskan bahwa ia tertabrak karena ia berusaha menolong anaknya yang ingin menyebrang menerobos kendaraan yang sedang lalu lalang.
Aku pikir mungkin memang setiap hari akan mendapatkan informasi seperti ini karena tinggal di kostsan ini.
Akupun melanjutkan aktifitasku tanpa perdulikan surat tadi. Aku hari ini berniat untuk belanja keperluanku bulan ini. Waktu menunjukan pukul 10.15 ketika aku berangkat. Aku menuju salah satu Hypermarket yang terkenal di daerah BSD. Karena aku belum tahu betul daerah itu, aku menyambilkan waktu untuk menghafalkan nama jalan.
Lalu kulihat didekat persimpangan jalan lalu kulihat nama jalan Pahlawan Seribu. Aku tersenyum sendiri, setau aku cuman ada pulau seribu. Namun aku seperti sudah mengenal nama jalan tersebut. Tak peduli ku, akupun melanjutkan perjalananku.
Akupun sampai pada hypermarket tersebut. Selesai ku berbelanja aku segera menuju kasir. Tersentak aku seketika, saat aku menatap seorang gadis yang aku kenal dan aku cinta satu-satunya sedang menggandeng seorang pria yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Gadis itu bernama Tara. Ada yang bilang aku mirip sama dia, ada yang bilang aku jodoh sama dia tapi, semua yang bilang tersebut juga bilang dia tidak pantas buat aku.
Semakin percaya kalo dia udah tidak pantas lagi. Aku langsung menulis sebuah pesan dari telepon genggamku. Aku tanya keberadaan dia dimana. Dia hanya menjawab di rumah. Aku tidak berani mendekat aku hanya cukup mengetahui saja. Tidak enak dilihat orang banyak pikirku.
“Mas, totalnya jadi 129.000 rupiah”, tegur penjaga kasir menyadarkanku.
“Eh, iya mba maaf saya melamun. Hehehe. Ini mba uangnya”, sahutku sambil tersenyum malu.
Waktu menunjukan pukul 16.30 ketika aku meninggalkan tempat tersebut. Tidak seperti saat berangkat tadi jalanan lancar dan sekarang macet total. Aku yang mengendarai motor harus menyelip diantara mobil-mobil.
“Ini kan belum waktu orang pulang kerja, tapi kok sudah macet begini”, pikirku sambil melihat jam tangan.
Setelah aku berhasil menerobos, ternyata aku lihat seorang wanita terluka parah tergeletak di tengah jalan. Masyarakat sekitar dan beberapa polisi terlihat berusaha memindahkan wanita tersebut dan mengatur lalu lintas.
Kusempatkan diri untuk bertanya pada orang sekitar yang ikut menyaksikan peristiwa tersebut.
“Ada apa pak ?”, tanyaku kepada seorang ojek motor di daerah tersebut.
“Engga, itu ada yang ketabrak mobil tadi. Padahal dia mau menolong anaknya yang ingin menyeberang. Anaknya main lari saja, ibunya berusaha mengejar, eh, malah ibunya yang ketabrak mobil”, jawab ojek tersebut.
“Sekitar jam berapa pak ?”, tanyaku penasaran.
“Baru sekitar setengah jam yang lalu kok”, jawabnya.
Aku berpikir sungguh kasihan anaknya. Menurut pandanganku anaknya masih berusia 8 sampai 9 tahunan. Masih perlu kasih sayang dari seorang ibu.
Akupun melanjutkan perjalanan pulang tanpa berpikir apapun. Sesampainya di tempat kost, akupun langsung berbaring sejenak. Lalu ku tatap langit-langit sambil meratapi apa yang baru dilakukan Tara. Aku tidak pernah menyangka dengan hal tersebut. Dulu dia yang menginginkan aku untuk setia, tapi malah kebalikannya. Aku pikir sudahlah mungkin dari akunya sendiri yang penuh dengan kekurangan.
Tiba-tiba telepon genggam ku bergetar. Ternyata pesan dari Tara, dia ingin bertemu denganku besok di rumahnya. Aku bilang ke dia bahwa besok aku bisa bertemu dengannya. Tiada pesan balasan lagi dari dia tidak seperti biasa yang selalu merindukanku setiap saat.
Terbangunku, aku melihat lagi surat tadi pagi. Aku baca lagi isi surat tersebut. Ternyata sama persis seperti apa yang terjadi tadi. Aku mulai bertanya-tanya siapa yang menulis surat ini. Ini adalah sebuah pesan yang menurutku akan menjadi nyata.
Akupun semakin terheran-heran kenapa mesti aku yang mendapatkan pesan ini. Apa aku harus mencegah agar hal ini tidak terjadi.
Beberapa rangkai keanehan pun mulai menyelimuti hari-hariku.
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar