Chapter 009
“Halo ci, udah sampe dimana ci ?”, tanyaku melalui telepon genggamku.
“Udah di parkiran nih, sama Doni sama Aldi juga”, balasnya.
“Yaudah, gua tunggu di lobi ya ”, ucapku singkat.
“Oke”, balasnya sambil menutup telepon.
Akupun menunggu beberapa saat di lobby utama rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Tak lama kemudian Aci datang bersama Aldi dan Doni. Aci menghampiriku dan bertanya dimana keberadaan ayahnya yang langsung aku jawab bahwa ayahnya sedang dibawa ke kamar mayat karena sudah tidak bisa ditolong lagi nyawanya. Aci tak kuat membendung air matanya dan berlari mencari kamar mayat. Doni juga mengikutinya dibelakangnya. Aku heran melihat Aldi yang tidak mengeluarkan air mata sedikitpun dan tetap berdiri di sebelahku. Aku sempatkan bertanya kepada Aldi.
“Hei, Aldi, kenapa kamu kok engga nangis sama sekali ?”, tanyaku.
“Udah biasa kak”, jawabnya singkat.
“Hah maksudnya ? udah biasa ayah kamu meninggal ? atau gimana ?”, tanyaku semakin penasaran.
“Bukan kak, aku udah biasa ditinggal sama ayah, dia jarang sekali memperhatikan aku dan kak aci”, jawabnya menjelaskan.
“Ya, tapi itukan tetep aja ayah kamu, setidaknya kamu hormati dia, ayo, kita samperin kaka kamu”, ajakku.
“Yaudah ayo deh kak”, balasnya singkat.
Akupun menggandeng tanggannya Aldi menuju ke tempat Aci dan Doni berada. Ketika sampai di depan pintu kamar mayat, langkahku terhenti, dan melepas gandengan tanganku dengan Aldi. Aku melihat Aci menangis dipundak seorang Doni, entah apa karena rasa cemburu atau menyesal karena sudah membuat Aci menangis seperti itu. Aku menyesal karena seharusnya aku bisa menghentikan kecelakaan tersebut, namun semuanya seperti tidak ingin aku menghentikannya, surat itupun aku rasa juga begitu karena tidak memberikan waktu yang tepat akan terjadinya, serta truck seperti apa yang akan mengalami kecelakaan.
Lepas dari lamunanku, Aldi berlari kearah Aci dan Doni dan kemudian memeluk Aci. Aku yang merasa bersalah tidak berani masuk dan hanya menunggu diluar. Aku melihat sekelilingku yang penuh dangan kecemasan dan kesedihan, namun ada satu sudut yang cukup menyita pandanganku. Aku melihat sosok yang mirip dengan bapak-bapak yang memberikan aku pulpen pada hari sebelum aku mulai mendapat surat-surat aneh yang akan menjadi nyata. Akupun memberanikan diri untuk mendekatinya, namun semakin aku dekati malah semakin jauh jarak antara aku dan dia.
Aku mencoba mengikuti setiap langkah kemana ia pergi. Langkahnya pun menuju keluar rumah sakit dan aku mengikutinya meninggalkan Aci, Aldi dan Doni. Aku mengikutinya terus, hingga sampai disalah satu bioskop dekat situ yang biasa dikenal dengan Metropole. Namun tak berapa lama aku masuk kedalam bioskop, pandanganku teralihkan oleh pemandangan lain. Dimana ada seorang wanita yang aku kenal sedang duduk berdua dengan seorang pria. Dia adalah Tara, tidak seperti sebelumnya yang aku tidak berani menyapanya kini aku sapa dia.
“Tara ?”, ucapku mendekatinya sambil mengerutkan alis keatas.
“Irfan ?”, balasnya.
Tanpa aku mengucap kata lagi, aku memalingkan mukaku ke arah lain dan terus berjalan. Sampai disitu aku kehilangan jejak bapak-bapak yang aku ikuti sebelumnya. Akupun berjalan keluar bioskop dengan rasa tidak percaya, ingin marah dan kecewa. Aku hanya berfikir apa yang membuatnya bisa setega itu terhadap aku, dan apa yang membuatnya memilih dia dibanding aku. Aku juga malah menjadi bertanya-tanya apa maksud bapak itu melangkah menuju bioskop ini dan mungkin itu hanya bisa dijelaskan dengan satu kata yaitu takdir.
Aku yang sudah capek dengan rentetan peristiwa hari ini aku memutuskan untuk pulang ke Serpong dengan menggunakan kendaraan umum. Selama perjalanan hanya pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa yang ada dibenakku. Terdengar suara pengamen sambil memainkan gitarnya.
“Ketika ku lihat kau bersama dia, tak ada penyesalan dalam hidupku, dan apa yang kurasakan saat ini, seperti dahulu ku tak mengenalmu”, nyanyi si pengamen.
“Aduh nih pengamen kecil, masih kecil udah cinta-cintaan, bikin risau aja”, ucapku dalam hati.
Hampir 3 jam perjalanan dan lebih dari 3 kali aku berganti kendaraan umum, akupun sampai dikostsan. Aku yang sudah pasrah tidak akan bias mengambil jadwal kuliah, ternyata Bagus memberikan kabar baik bahwa jadwalnya bisa dicetak melalui website kampusku.
“Emang darimana aja lo fan ? semalem engga pulang”, tanya Bagus kepadaku.
“Panjang gus ceritanya, kalo gua ceritain pasti lo juga engga percaya, pokoknya aneh bin ajaib”, jawabku.
Akupun langsung masuk kamar dan mengganti pakaianku bersiap-siap mencari makan, karena waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku pergi ke warteg tempat aku biasa makan, dan sambil aku memakan makananku, aku menonton televisi yang ada di warteg tersebut. Ternyata kejadian kecelakaan hari ini masuk ke dalam sebuah acara berita di salah satu stasiun televisi. Aku juga melihat Aci, diwawancarai oleh beberapa wartawan mengenai peristiwa tersebut.
Aku hanya bisa tertunduk lesu melihat kesedihan Aci yang begitu sedih dalam layar kaca. Aku membayangkan jika aku yang menjadi dia, apa jadinya seorang aku. Akupun melanjutkan menyantap makananku.
Selesai aku makan, aku kembali ke kostsan. Tak ku sangka ketika baru masuk pintu kostsan, penjaga kost memberi aku sebuah pesan kecil kepadaku. Kata penjaga tersebut, itu pesan dari pramugari, yang menitipkannya semalam sebelum dia pindah kostsan. Aku tak tahu mengapa pramugari tersebut pindah, penjaga kost pun tidak menjelaskannya secara detil. Akupun membaca pesan tersebut sambil menaiki anak tangga menuju kamarku. Pesan itu berisikan bahwa dia berterimakasih banyak terhadap aku, serta meminta maaf karena sempat tidak percaya kepadaku dan juga candaan kecil tentang masak indomie yang membuat aku sempat tersenyum-senyum sendiri. Sampai diatas, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Woi fan, kenapa lo senyam senyum senyam senyum sendiri ?”, tanya Sam kepadaku.
“Ini Sam”, balasku singkat sambil menunjukan kertas kepada Sam.
“Apaan tuh ? Surat cinta ya ? Dari siapa dah ?”, tanya Sam penasaran.
“Dari pramugari bawah”, jawabku sambil menggerak-gerakan alis ke atas dan senyum.
“Kan dia pindah semalem, iya dia nyariin lo tuh fan, lo kemane ga pulang ?”, ucap Sam.
“Ah masa ? Uye-uyee Sam”, jawabku agar dia tidak bertanya lagi kepadaku.
“Iyee, bener, tanya aja Bagus, Uye-uye mulu lo Fan !”, ucapnya.
“Mempung masih muda sam”, jawabku singkat sambil masuk ke kamar.
Aku menghidupkan komputerku lalu aku buka situs jejaring sosial facebook. Aku melihat-lihat profil Tara, dari situ aku tahu bahwa pria yang bersamanya tadi adalah guru les drumnya. Aku langsung menghapus dia dari daftar pertemanan. Aku tak mau ada namanya di tampilan beranda facebookku. Aku kemudian melakukan pencarian nama Malika Ayu. Ternyata ada dan fotonya pun tampak seperti dia yang asli dengan gaya yang tomboy ditemani motor merahnya. Akupun menambahkan dia sebagai teman ke facebookku. Tak lama berselang, terdapat pemberitahuan bahwa Ayu menerima aku sebagai temannya. Dia menulis di dinding aku tentang kejadian hari ini, dan dia berterima kasih sekali sudah menyadarkan dia. Dia bilang ayahnya saja bisa menerima semua keburukannya, namun mengapa dia tidak bisa menerima keburukan ayahnya. Aku senang sebuah cerita yang berakhir bahagia. Aku membalasnya dengan memberi nomor telepon genggamku agar dia bisa menghubungiku kapan saja ketika dia butuh aku.
Aku mengirim pesan kepada Aci, untuk meminta nomor telepon genggamnya Doni karena aku ingin berbicara dengan Doni. Setelah kutunggu beberapa lama, Aci tak membalas pesanku, akhirnya aku mencoba untuk menghubunginya.
“Halo ci, ini gua Irfan, Doninya ada ?”,ucapku.
“Iya ini gua Fan, Doni, Ada apa ?”, balasnya.
“Gua mau ngomong sesuatu, lo ada waktu luangkan ?”,ucapnya.
Doni tak menyaut dan diam saja.
“Yaudah langsung aja deh, Don, gua mohon lo jangan pernah nyakitin Aci ya, Gua engga sanggup ngeliat dia sedih, itu sebabnya juga gua pulang tanpa pamit tadi. Gua mau lo jaga dia baik-baik bahkan kalo bisa lo jaga jangan sampai dia kehilangan keluarganya lagi. Oh iya Don, gua juga sebenernya merasa bersalah banget sama dia karena seharusnya gua bisa cegah dia kehilangan orang tuanya, karena gua udah tau itu bakalan terjadi Don. Gua juga sebenernya merasa cemburu sih Don sama lo, tapi engga apa-apa deh, gua yakin dia aman sama lo kok. Take care buat Aci ya Don”, ucapku perlahan-lahan.
Doni tak memberikan ucapan sepatah katapun dan langsung mematikan teleponnya begitu saja. Akupun heran mengapa, namun yasudahlah, setidaknya aku sudah menyampaikan, tidak mungkin juga omonganku tidak dia dengarkan dan pikirkan. Aku hanya bisa berharap, Doni akan menjaganya dengan baik.
Bersambung.
0 komentar:
Posting Komentar