Pages

Labels

Jumat, 01 Juli 2011

Pesan Nyata (008)

Chapter 008


            “Fan, fan, fan, bangun, udah pagi nih, sarapan yuk !”, seru ayu sambil membangunkan tidurku.
            “Hmmm, iya iyaa”, balasku sambil mencoba membuka mata.
            “Ayo saraapan dulu yuk !”, ajak dia tersenyum kepadaku.
            “Iya iya yu”, balasku tersenyum padanya.
            Akupun bangun sambil mengucek mata dan berjalan mengikuti Ayu kemeja makan.
            “Fan, mending lo cuci muka dulu gih, ga enak banget sarapan tapi lo nya masih kaya orang ngantuk, hahaha”, ucapnya sambil mengambilkan aku piring.
            “Hahahaha, iya iya yu”, sahutku sambil tertawa.
            Akupun segera kekamar mandi untuk mencuci muka dan aku mencoba membuka surat yang kemarin. Entah mengapa semua tulisannya muncul kembali dan menceritakan tentang sebuah kecelakaan truk dimana supir truknya meninggal dirumah sakit karena pendarahan. Supir truk terebut tidak teridentifikasi tentang keluarganya. Sehingga tidak tahu mau dikubur dimana. Kemungkinan akan dilakukan otopsi terhadap mayatnya. Kurang lebih begitulah gambaran isi surat tersebut dan berisikan juga tempat kejadian dan dimana rumah sakit supir itu dibawa, namun tidak keterangan waktu yang jelas kapan terjadinya peristiwa tersebut.
            Seselesainya aku membaca dan mencuci muka akupun kembali keruang makan untuk sarapan bersama Ayu. 
            “Lama amat lo fan ? ngapain aja ?”, tanyanya penasaran.
            “Urusan pria”, jawabku singkat .
            Kamipun akhirnya sarapan bersama sambil bercerita-cerita tentang kuliah kami masing-masing. Baru aku ketahui ternyata aku dan dia masuk kuliah pada tahun yang sama. Tidak aku lupa menanyakan tentang kabar ayahnya yang kemarin sempat terluka karena pencurian mobil. Akupun juga sempat bertanya ada masalah apa ayahnya sampai harus jauh pergi ke Serpong. Namun Ayu mengalihkan pembicarannya seperti ada yang disembunyikan. Ketika aku tanya ayahnya kerja dimana, dia hanya menjawab ayahnya membuka beberapa restoran di beberapa food court mall di Jakarta namun tidak sampai ke luar Jakarta.
            Setelah selesai sarapan akupun miminta izin untuk mandi dan meminta Ayu meminjami aku handuk. Karena aku melihat jam dinding yang menunjukan pukul 8.00 dan aku harus ke kampus untuk mengambil jadwal kuliah yang telah ditetapkan pihak kampusku pada pukul 10.00. Setelah Ayu memberikan handuk kepadaku akupun bergegas mandi.
            Selama aku mandi, aku memikirkan kemana aku harus menuju terlebih dahulu. Apakah aku harus ke kampus atau menyelamatkan supir truk itu terlebih dahulu. Apalagi jaraknya yang cukup jauh antara kampus aku dengan tempat kecelakaan itu terjadi. Akupun lalu mengguyur kepalaku. Biarkan semua terjadi mengalir seperti air saja menurut aku kali ini.
            Setelah selesai aku mandi dan berpakaian, aku berjalan keluar kamar mandi dan mendengar suara ribut. Aku yang hanya seorang tamu berusaha untuk tidak mendengarkan, namun yang aku dengar itu seperti suaranya Ayu dan Ayahnya. Tiba-tiba ada suara bantingan pintu dan Ayu keluar dari pintu itu dengan wajah kesal dan berjalan cepat sekali ke arah ku sambil memakai jaketnya.
            “Lo mau ikut gue atau lo nanti balik sama bokap gue yang brengsek itu ?!” , tanya dia dengan nada yang cukup membentak.
            “Hah ? ”, aku hanya bisa terdiam.
            Ayu langsung jalan lagi keluar rumah.
            “Tunggu-tunggu yu !”, sahutku sambil langsung menaruh handuk dan mengambil tasku.
            “Waaaah bangke, gue lupa kalo motor gue disita polisi”, ketus Ayu.
            “Nah itu maksud gua yu, kita mau naik apa ?”, sahut ku sambil menghampirinya.
            “Tau lah fan, cabut aja yu”, ucapnya dengan gayanya yang tomboy.
“Ga pamitan dulu yu ?”, tanyaku.
“Udah ga usah, ga pantes”, jawabnya sambil berjalan keluar rumah.
Akupun berjalan mengikuti Ayu. Sambil berjalan akupun sempatkan diri untuk bertanya.
“Sebenernya ada apa sih Yu ? Kok keliatannya lo benci banget sama ayah lo ? ”, tanyaku penasaran.
“Lo ga usah bahas deh fan, dan ga usah ikut campur urusan gua, ngerti !”, jawabnya kesal.
“Yaudah, yaudah, terus sekarang kita mau kemana ?”, tanyaku baik.
“Tau ah fan !”, balasnya.
“Ikut gua aja ya, ke pinggir tol situ deket jembatan layang situ”, ucapku.
“Yaudah ayoo, kayaknya tempat yang pas juga buat bunuh diri !”, balasnya.
“Woi, apaan dah ngomong kaya gitu !”, seruku.
“Lah, Bodo Amat !”, balasnya singkat.
Akupun tak membalas ucapannya, karena aku tahu dia sedang sangat kesal, kalo aku tetap berbicara sepertinya hanya akan membuatnya semakin kesal saja, aku hanya bisa mengajaknya ke pinggir tol itu. Mengapa aku memilih pinggir tol sebagai tujuan kami berjalan, karena disanalah tempat terjadinya kecelakaan yang disebutkan oleh surat tersebut. Tepatnya di jalan layang penghubung antara tol dalam kota dengan tol Kebun Jeruk yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahnya Ayu.         
Sesampainya di tempat yang dimaksud surat, akupun melihat keadaan sekitar yang cukup padat. Aku melihat kondisi lalu lintas di jalan layang tersebut sedang macet dan aku merasa jika macet, mana mungkin terjadi kecelakaan. Akupun memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan bersama Ayu.
“Fan, sebenernya kita ngapain sih kesini ?”, tanya Ayu.
“Gua, juga ga tau yu, kita liat aja apa yang bakalan terjadi nanti ”, jawabku.
“Gue paling ga suka nih, jalan ga ada tujuannya gini mau ngapain ”, balasnya.
“Percaya sama gua, gua punya alesan tersendiri ngajak lo kesini ”, ucapku.
“Udah yuk ah cabut !”, seru Ayu.
“Praaaaaank”, tiba-tiba terdengar suara pecah.
“Tuh kan yu, gua bilang juga apa ? ayo kita cek ”, ajakku.
“Fan, ngapain sih, udah dari sini aja ”, ucap Ayu.
Tanpa peduli ucapan Ayu, akupun berlari menyeberang jalan dan memasuki tol, mendekati lokasi kejadian. Kejadiannya cukup parah, dimana ada sebuah truk yang mengangkut tiang pancang beton, mundur di jembatan laying tersebut dan menabrak truk yang di belakangnya. Tiang pancang beton itupun lepas dari ikatannya dan menembus kaca truk supir yang ada di belakangnya. Supir tersebut tertusuk atau terhimpit antara tiang pancang dan kursi supir.
Aku lemas melihat kejadian itu, dimana supir tersebut menjerit minta tolong dan orang-orang sedang berusaha mengeluarkan dia dari truk tersebut. Akhirnya kuberanikan diri untuk membantu bapak supir tersebut. Aku mendekatinya masuk kedalam truk dan memegang tangannya. Namun tiba-tiba supir tersebut berhenti menjerit dan mencoba berbicara kepadaku.
“Nak, mau engga kamu tolongin bapak ?”, ucap supir tersebut pelan.
“Iya pak, ini saya lagi nolongin bapak”, balasku panik.
Tiba-tiba bapak supir tersebut menggemgam tanganku erat.
“Sampaikan ini kepada anak saya, Ayah pulang menemui ibumu”, ucapnya sambil memberi aku sebuah foto didalam liontin dalam genggamannya.
Lalu mulai terdengar suara ambulan datang dan beberapa mobil polisi serta derek mobil. Truk yang tadi menabrak mulai perlahan-lahan maju bermaksud agar betonnya bisa ditarik lagi. Ketika tiang beton itu tertarik sedikit kamipun yang menolong langsung menarik sang supir dari kursinya dan membawanya segera menuju ambulans. Supir tersebut tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Sehingga aku terpaksa ikut kedalam ambulans. Akupun memanggil Ayu untuk ikut denganku.
“Yu, sini ikut gua !”, ajakku.
“Hah ngapain ?”, tanyanya.
“Udah cepet naik, nanti gua jelasinnya”, jawabku.
Ayupun berlari kearah ambulans dan menaikinya.
“Ngapain sih fan, gila kali ya lo ?”, tanyanya panik.
“Ini tangan gua, ga dilepasin sama si korban, kayaknya dia butuh gua banget”, jawabku coba menjelaskan.
“Hah, itu darah fan, astaga gue ga kuat ngeliatnya !” ucapnya ketakutan, lalu memejamkan matanya di pundakku.
“Yah, dia takut, lo kalo balapan bisa kaya gitu tuh yu, gua kasih tau aja, kalo lo ga mau kaya gitu jangan balapan dah”, jawabku.
“Iya, iya”, balasnya sambil ketakutan di pundakku.
Tiba-tiba supir tersebut menghentikan genggamannya ke tanganku. Akupun menanyakan keadaan dia kepada petugas ambulans tersebut. Petugas itu berkata bahawa nyawa supir tersebut sudah tidak bisa diselamatkan. Itu semua dikarenakan luka yang terlalu parah pada dadanya.
Belum sempat aku menanyakan foto siapa dan ada dimana orang yang ada di liontin yang diberikannya kepadaku. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Akupun mencoba memperhatikan lagi dengan seksama. Ternyata satu orang wanita, dan satu orang pria. Aku menebak bahwa mereka anak dari bapak supir tersebut. Aku memperhatikan lagi wajahnya dengan seksama. Ada tahi lalat di dagunya anak wanita supir tersebut. Aku mencoba mengingat dan mengingat tentang siapa anak ini, aku sepertinya pernah tau.
Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa Aci memiliki tahi lalat di dagunya. Aku coba mengambil kartu identitas dari supir tersebut dari dompetnya dan setelah aku baca namanya, aku coba menelpon Aci apakah nama ayahnya cocok dengan nama di kartu identitas tersebut.
Setelah aku bertanya pada Aci, ternyata benar, akupun menyuruh dia untuk segera datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tempat ambulan ini membawa mayat ayahnya. Badanku merinding dan merasa berdosa sekali. Aku telah membiarkan 2 orang anak kehilangan kedua orang tuanya. Pertama ibunya dan sekarang ayahnya. Hati dan sekujur badan aku lemas dan bergetar.
“Fan, lo kenapa ?”, tanya Ayu bangun dari pundakku.
“Engga, apa-apa yu, gua cuman ngerasa gua kaya ngebunuh ini supir”, jawabku.
“Bukan fan, bukan salah lo kok fan. Emang semuanya udah takdir”, balasnya.
“Iya yu !”, ucapku.
“Fan, tiba-tiba gue pengen pulang fan, gue takut, bukan karna supir ini berdarah-darah fan, tapi gue takut kejadian sama bapak gue fan dan gue ga bisa liat dia untuk terakhir kalinya, gue mau minta maaf sama bapak gue”, ucap Ayu.
“Yaudah yu, cuman gua masih harus anter ini supir ke rumah sakit, lo pulang sendiri bisa kan ?”, tanyaku.
“Yaudah fan, gue nanti naik taksi aja dari rumah sakit”, jawabnya.
Sesampainya di rumah sakit, Ayu segera mencari taksi dan pulang kerumahnya dan aku masih mencoba menghubungi Aci untuk menanyakan keberadannya.

Bersambung..

0 komentar:

Posting Komentar