Pages

Labels

Minggu, 24 April 2011

Sisi Romantis Sang Ibu

"Doa Ibu"
Oleh : Imas Rubiyani

Anakku, belahan jiwaku…..
Waktu berlalu tanpa pernah kita sadari
Namun pelukan sayang ibu tak pernah kehilangan arti
Dekapan hangat ibu juga selalu menyertai
Doa tulus ibu melekat erat dalam ayunan langkah merajut mimpi
Anakku, jendela sanubariku…..
Perjuangan itu kini sudah dihadapan
Saatnya menjalani hidup dengan penuh kemandirian
Hadapi tantangan dengan senyuman
Sapa setiap kesulitan dengan keikhlasan
Raih bintang dengan penuh harapan
Anakku, lentera hidupku…..
Hidup ini tidak terlalu mudah dijalani
Ada kesulitan yang akan memperkaya hati
Tapi…..
Jadilah pemenang layaknya juara sejati
Dengan rendah hati dan luhur budi
Bertabur kasih bersulam pekerti
Anakku, bintang harapanku…..
Ayunkan langkah dengan ringan hati
Gapai setiap mimpi yang ada di sanubari
Bentangkan asa agar menjadi nyata
Ya Allah…ya rahman ya rohim., ijinkan aku memohon…
Lindungi anakku dalam teduh karunia-Mu
Bimbing anakku di setiap persimpangan yang membuatnya bimbang
Beri kemuliaan budi agar membuatnya berarti
Teteskan kebesaran jiwa agar membuatnya bermakna
Sentuh hatinya dengan semangat tulus untuk berbagi
Tanamkan keyakinan terhadap kebaikan
Penuhi tekadnya dengan kerja keras dan pantang menyerah
Teguhkan pribadinya agar tidak mudah goyah
Ya Allah…
Terima kasih untuk karunia terindah ini
Terima kasih untuk anugerah tidak ternilai ini

Buat Anakku Irfan
Selamat Ulang Tahun ya Nak,
semoga kakak  selalu sehat, bahagia dan diberi kemudahan
untuk meraih semua yang Kakak cita-citakan. Amin.
Peluk Cium dari Ibu, Bapak, Nindy & Bagas

Senin, 18 April 2011

Pesan Nyata (007)

Chapter 007


            Pukul 20.00 WIB, Akhirnya acara OMB hari inipun selesai. Akupun diberi kesempatan untuk mengambil tasku. Akupun langsung bergegas mengambil tasku dan membaca isi surat yang aku terima hari ini. Aku baca perlahan-lahan namun tetap saja aku tidak bisa konsentrasi karena aku merasa sudah lelah dengan acara hari ini. Setelah beberapa kali aku baca aku mendapatkan point-point pentingnya. Akan ada kecelakan karena kejar-kejaran sama polisi di daerah Alam Sutera. Akupun bergegas bersiap dan mencari ojeg di depan kampus, karena jam segini sudah tidak ada angkutan umum yang lewat depan kampus aku.
            “Bang ojeg bang”, seru aku kepada tukang ojeg.
            “Oke bos, kemana ?”, tanya tukang ojeg.
            “Alam sutera bang, berapaan bang kesana ?” balasku.
            “Biasanya berapa ?”, tukang ojeg bertanya balik.
            “Wah, saya ga pernah naik ojeg kesana bang”, sahutku.
            “15.000 yaah dek ?”, tanya tukang ojeg.
            “Oke deh bang”, balasku sambil naik ke motornya tukang ojeg tersebut.
            Aku dan tukang ojegpun bergerak menuju kearah Alam Sutera. Sampai di depan suatu restoran fast-food akupun meminta ojeg untuk menepi. Segera ku bayar tukang ojeg tersebut. Lalu aku telusuri daerah alam sutera dengan berjalan kaki, tetapi aku tidak melihat adanya tanda-tanda bakal terjadi kecelakaan. Lalu lintas tampak terkendali dan cukup sepi. Akupun membuka surat itu lagi dan membacanya perlahan-lahan. Ternyata kejadian tersebut baru terjadi pukul 22.15 dan aku langsung melirik ke arah jam tanganku yang ternyata baru menunjukan pukul 20.45. Aku masih harus menunggu satu setengah jam lagi. Akhirnya akupun memutuskan untuk makan dulu yang kebetulan tidak begitu jauh dari aku ada tukang nasi goreng.  Aku hampiri dan akupun memesan serta makan di pinggir jalan sambil mengawasi lalu lintas sekitar.
            Suap demi suap nasi aku campur dengan rasa khawatir. Tak dapat aku makan dengan tenang.
            “Dek, makannya santai aja, saya ga akan kemana-mana kok”, ucap tukang nasi goreng.
            “Eh, iyaa bang, hehehe”, jawab ku sambil tertawa kecil.
            “Nih minumnya, hati-hati keselek”, balas tukang nasi goreng.
            “Makasih makasih bang”, balasku.
            “Mau nonton balapan ya mas ?”, tanya abang tukang nasi goring.
            “Engga bang, emang biasanya ada balapan apa bang ?”, tanyaku balik.
            “Biasanya nanti jam 10 keatas rame disini pada balapan liar, balapan motor dek, seru”, sahutnya sambil mengelap piring.
            “Oh gituu, saya baru tau bang, saya termasuk orang baru tangerang bang, orang baru seminggu saya tinggal disini”, balasku.
            “Oh pantes”, jawabnya singkat.
            Akupun langsung menikmati nasi gorengku lagi sambil berpikir apakah mungkin kecelakaan tersebut karena balapan ini. Suap demi suap aku nikmati, hingga pada beberapa suap terakhir. Tiba-tiba segerombolan motor lewat di depan hadapanku. Aku mencoba melihat satu persatu motor-motor tersebut. Mataku tertuju pada sebuah motor gede buatan Jepang berwarna merah. Lalu akupun berusaha mengikuti kemana mereka pergi dan tanpa lupa aku langsung membayar nasi goreng. Untung saja tempat mereka berhenti tidak terlalu jauh sehingga aku tidak perlu lari-lari mengejarnya.
            Akupun memperhatikan pengendara motor merah tersebut. Ketika dia membuka helmnya dan ternyata itu Ayu. Aku membuka surat lagi, dan setelah aku perhatikan salah satu korbannya adalah Malika Ayu yang alamat rumahnya sama seperti Ayu yang aku kenal kemarin. Entah aku yang kelelahan atau kurang konsentrasi aku tidak bisa memahami isi surat ini dengan sekali baca.
            Akupun mencoba mendekati motornya Ayu. Setelah dekat akupun mengajaknya untuk pulang.
            “Malika Ayu !”, teriakku didepan motor merah karena berisik suara motor.
            “Elo ?”, menengok sambil keheranan.
            “Iya gue, Irfan yang kemaren lo anter sampe depan situ”, balasku.
            “Oh, ngapain lo kesini ?mana motor lo ?”, tanyanya angkuh.
            “Gue bukan mau balapan yu, gue mau ajak lo pulang kerumah udah malem”, ajakku.
            “Eh, siapa elo ya ? berani banget nyuruh gue balik, bokap gue aja ga segitunya”, balasnya ketus.
            “Gue cuman pengen kasih tau ke lo, kalo nanti bakalan terjadi sesuatu yang buruk kalo lo ga cepet pulang”, balasku halus.
            “Ogah, gue mau balapan !”, jawabnya.
            Melihat ayu yang keras kepala, akupun memutuskan untuk mengempiskan ban motornya. Aku langsung mengambil kunci motornya yang terpasang di motornya serta menunduk dan membuka pentil motornya ayu dan mengempiskan bannya. Lalu tiba-tiba badanku terpental karena ditendang oleh seorang laki-laki. Akupun mengerang kesakitan. Aku melihat tampangnya Ayu dan laki-laki tersebut seakan berkata “Rasain lo!”. Badan akupun diangkat oleh teman-temannya Ayu dan tangan aku di pegang erat-erat oleh mereka sehingga membuat tanganku tak bisa bergerak. Laki-laki itupun akhirnya memukul aku pada bagian wajah. Akupun kesakitan tak berdaya. Lalu laki-laki itu bersiap ingin menendangku. Sebelum dia menendang terdengar suara sirine polisi. Merekapun langsung berlarian kearah motornya masing-masing. Aku langsung dilepaskan dan dibiarkan jatuh ke tanah. Ayupun panik mencari kuncinya dikantong celanaku. Setelah dia dapatkan kuncinya akupun langsung menarik tangannya dengan erat agar dia tidak bisa pergi. Karena jika dia pergi habislah sudah nyawanya karena kecelakaan kejar-kejaran dengan polisi.
            Akhirnya semua diakhiri dengan polisi mendatangi aku dan Ayu. Tanpa banyak bertanya polisi membawa kami ke mobilnya. Hanya bilang kepada kami bahwa nanti saja jika ingin memberi penjelasan, di kantor polisi.
            Sesampainya di kantor polisi, saya dan Ayu langsung dimasukan ke ruang tahanan untuk menunggu pemberian penjelasan. Saya sambil menahan sakit pada wajah dan pinggang saya karna dipukul dan ditendang lelaki tak dikenal tadi. Ayupun tampak diam dan sedikit memasang wajah kesal kepadaku. Beberapa saat kemudian datang beberapa polisi membawa aku keruang pemeriksaan. Tanpa aku sangka sebelumnya, ternyata Doni yang memeriksa aku. Betapa bersyukurnya aku saat itu. Aku semakin percaya, perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan juga. Itupun terbukti saat aku menjelaskan semua kronologis kejadian yang sebenarnya dan Doni percaya padaku bahwa aku dan Ayu tidak bersalah dan membebaskan kami berdua, namun motornya Ayu disita sementara sebagai jaminannya. Doni bilang itu sebagai tanda balas jasa aku ketika membantu mengatasi perampokannya dirumahnya waktu itu.
            Akupun mengajak Ayu pulang yang masih ada di dalam ruang tahanan. Dia seakan tidak percaya bahwa dia dan aku dibebaskan sebegitu mudahnya. Namun dia tetap saja masih kesal kepadaku karena motornya disita polisi. Akupun mengatakan bahwa kalau ayu berhenti balapan maka motor dalam jangka waktu tertentu akan dikembalikan.
            Karena waktu udah cukup larut, aku memutuskan untuk mengantar Ayu pulang namun Ayu masih saja diam kepadaku. Tiba-tiba ada mobil buatan eropa lewat dihadapanku.
            “Irfan, mau gua anter pulang ga ? sekalian gua juga mau pulang”, tanya Doni kepadaku sambil membuka kacanya.
            “Tapi gua mau anter temen gua dulu Don”, jawabku.
            “Oh, yaudah biar gua anter aja sekalian emang rumahnya dimana ?”, tanyanya balik.
            “Di kebun jeruk Don, gak apa-apa nih ?”, tanyaku.
            “Yaudah, gak apa-apa, ada jalan belakangnya kok dari ciledug ke kebun jeruk jadi engga begitu jauh”, jawabnya.
            “Okeeeh”, jawabku sambil jalan mendekati ke mobilnya Doni.
            Namun ayu masih saja berdiri dipinggir jalan dan seperti acuh.
            “Yu, kata doni disini sering terjadi kenampakan yu”, ucapku kepada ayu.
            Ayupun langsung masuk kedalam mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ternyata dia takut juga dengan hal yang seperti itu. Akupun berusaha menahan tawaku. Tidak beberapa lama perjalanan aku setengah sadar, antara tidur dengan bangun. Mataku tertutup, namun telingaku masih mendengar. Aku mendengar beberapa kali Doni coba menggoda Ayu. Namun Ayu tetap masih kaku, belum bisa tersenyum sedikitpun hanya memberi arah jalan kerumahnya.  
             Sesampainya dirumah Ayu, Ayupun mencoba membangunkan aku.
            “Fan, fan, mending tidur dirumah gue aja yuk”, sapanya.
            “Hmmmm, hah ?”, jawabku dengan mata yang masih sayup dan setengah sadar.
            “Iya nginep dirumah gue aja, kasian juga si Doni kalo harus balik ke Serpong lagi”, balas Ayu.
            “Oh gitu, yaudah deh yaudah”, jawabku.
            “Don, gue nginep disini aja deh, lo langsung balik aja keruma, makasih banyak ya Don”, ucapku kepada Doni.
            “Iya ga pa apa fan, itung-itung balas budi jagain Aldi”, sahutnya.
            Akupun dan Ayu turun dari mobil dan langsung masuk rumah, untungnya si Ayu membawa kunci rumah, Doni juga langsung menancap gas mobilnya lagi.
            “Fan, tunggu disiti sebentar ya”, sambil menunjuk sofa ruang tamu.
            “Iya, iya yu, gampang”, sahutku keheranan.
            Aku heran mengapa Ayu yang tadinya super jutek bisa jadi sebaik ini. Tak beberapa lama kemudian Ayupun datang lagi menghampiriku dengan memberikan beberapa bantal dan selimut.
            “Lo tidur di sofa aja ga pa apa kan fan ?”, tanya Ayu.
            “Engga apa apa Yu, santai aja”, jawabku.
            “Kalo masih kedinginan masuk aja kekamar gue ya”, ucapnya.
            “Hah ? ngapain ?”, tanyaku kaget.
            “Ambil selimut lagi ! udah malem jangan cari gara-gara !”, sahutnya.
            “Ohh, iya iya, ini udah cukup kok”, balasku.
            “Yaudah, gue tidur dulu ya fan”, ucapnya.
            “Yo, sama-sama Yu”, balasku.
            Akupun mempersiapkan diri untuk tidur. Namun aku masih saja tidak bisa tidur, karena memikirkan surat untuk hari esok akankah datang kepada aku atau tidak. Karena secara aku berada ditempat yang berbeda. Aku rogoh kantongku, dan buka surat yang untuk hari ini, semua tulisan sudah lenyap, namun ada satu huruf 'A' di atas kiri surat tersebut. Tanpa peduli artinya apa, akupun akhirnya tidur dengan sendirinya.


            Bersambung…