Kamis, 25 November 2010
Pesan Nyata (005)
Sabtu, 06 November 2010
Status itu umpan pancing, Facebook itu kolamnya…
Selasa, 26 Oktober 2010
Pesan Nyata (004)
Chapter 004
Sesampainya aku di kostsan, aku langsung naik menuju kamar dan bergegas mandi. Setelah selesai mandi, aku menyempatkan diri untuk membuka internet. Seperti biasa, aku langsung membuka situs sosial yaitu Facebook melalui komputer jadulku.
Aku iseng mencari nama Aci di situs tersebut. Namun hasilnya banyak sekali dan tidak mungkin aku melihatnya satu persatu. Aku lebih memilih untuk bertanya nama lengkapnya nanti. Aku yang sambil mengusap-usap kepalaku dengan handuk aku melihat telepon genggamku. Ternyata ada sms dan itu dari Aci. Dia meminta tolong aku untuk menemani adiknya besok malam, karena dia ada urusan penting yang mendadak. Aku sambil senyam-senyum mengiyakan permintaan dia dengan membalas smsnya.
Aku berpikir akan dapat kesempatan lebih dekat dengannya, sambil tertawa malu di dalam hati. Tapi perutku yang keroncongan membuyarkan semuanya. Akupun pergi keluar mencari makan. Akupun berhenti disebuah warteg. Tanpa berpikir panjang aku langsung memesan dan makan di tempat itu.
Setelah aku selesai makan dan hendak ingin minum, ada yang menyapa aku.
“Tumben engga masak indomie ?”, tanya seorang wanita.
Ternyata dia pramugari yang satu kost dengan aku.
“Engga kak, capek, jadinya mendingan makan di warteg aja deh. Lagipula masa makan mie terus kak hehehehe”, jawab aku.
“Iya juga ya, udah selesainya makannya ?”, tanya pramugari tersebut.
“Iya kak, kaka tumben udah pulang ?”,sahutku.
“Iya, kan kemarin baru pulang masa udah jalan lagi. Besok kaka paling berangkat lagi ke Surabaya”, jawab pramugari.
“Oh gitu kak, kalo gitu aku duluan ya kak, masih ada tugas”, balasku sambil malu-malu.
“Oh iya, iya, silahkan”, balasnya.
Ternyata memang cocok dia menjadi pramugari selain cantik dia juga sopan dan ramah. Semakin membuat aku deg-degan.
Akupun melanjutkan langkah kecilku kembali menuju kostsan. Sesampainya disana aku melihat Bagus, Sam dan Leo sedang sibuk menyiapkan perlengkapan untuk OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) besok. Aku yang belum menyiapkan apa-apapun tercengang melihat mereka. Akhirnya aku meminta saja kepada mereka apa yang harus dibawa besok. Beras 1,5 liter aku kumpulkan dari tiga orang tersebut. Masing-masing aku dapat setengah liter.
“Haaahh, belum apa-apa udah minta-minta gimana nanti. Kita 4 tahun bakalan satu kost nih”, celetuk Leo.
“Awas, aja ini anak kalau dia ternyata lebih sering minta sama gue !”, sahut aku dalam hati karena merasa tersindir.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, kamipun masuk ke kamar masing-masing karena waktu sudah menunjukan jam 9 malam lewat dan juga besok pagi jam setengah 7 pagi sudah harus ada di kampus. Aku yang lelah, tertidur dengan begitu mudahnya.
“Brrrrrrrrrrrrrr…”, gigil aku.
Dinginpun membangunkan aku. Meski alarmku belum berbunyi tapi aku mencoba menyegarkan diri. Waktu menunjukan pukul 4 pagi. Aku melihat ketempat biasa terdapat aku melihat surat dan aku tidak melihat sepucuk suratpun ada disana. Aku yang tambah penasaran, aku mencoba menanti kapan suratnya dating. Sampai pukul 5 ternyata tidak ada surat yang datang. Aku tinggal mandi sebentar, ternyata juga tidak muncul sepucuk suratpun. Lalu akupun menyiapkan barang bawaan hari ini jangan sampai ada yang lupa.
Jam 6 tepat aku selesai dan siap berangkat ke kampus, namun belum ada surat yang datang. Tanpa aku peduli akupun bergegas berangkat ke kampus.
Ketika keluar kamar, aku bertemu Sam, Leo dan Bagus, tapi entah kemana si Eko. Tiba-tiba ada orang yang keluar dari kamar mandi. Itu si Eko, baru selesai mandi. Tidur paling cepat tapi malah dia yang belum siap. Kamipun memutuskan untuk jalan terlebih dahulu. Karna waktu untuk sampai di kampus tinggal 30 menit lagi. Kamipun bergegas mencari angkutan umum, karena selama tiga hari kita OMB tidak diperkenankan membawa kendaraan. Setelah dapat angkutan, kitapun menyuruh supir angkutan tersebut ngebut. Namu ketika ingin jalan, ada suara teriakan.
“ Woi, tungguin !”, seru Eko.
“Wah, cepetan ko !”, balas Sam.
Setelah Eko naik, supirpun langsung menancap gas. Sesampainya di kampus, kami dihadapkan seribu mahasiswa baru. Kami pun berpisah menuju kelompok masing-masing. Akupun mengikuti jalannya OMB sampai jam istirahat.
Karna tenggorokan aku yang haus, aku membuka tasku dan aku mengambil botol minumku. Sewaktu aku melihat kedalam tas, ternyata ada surat dan pulpen yang biasa ada di kamarku. Aku sempat heran, aku tidak pernah memasukan surat itu kedalam tas, mengapa bisa ada di dalam tasku. Tanpa peduli jawabannya aku langsung membaca surat tersebut.
Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor pesawat GA 326 jurusan Jakarta-Surabaya gagal lepas landas pada pukul 14.15. Lima orang awak kapal menjadi korban jiwa dan puluhan penumpang luka berat serta lainnya luka ringan. Hal, ini disebabkan perubahan cuaca secara mendadak sehingga mengganggu pilot untuk lepas landas.
Aku langsung teringat dengan pramugari yang bertemu tadi malam. Dia akan terbang ke Surabaya hari ini, jangan-jangan pesawat yang akan ditumpanginya mengalami hal seperti itu. Aku bergegas mencari pintu keluar kampus karena waktu telah menunjukan pukul 12.56. Aku melihat pintu utama sudah dipadati senior, sehingga aku tidak mungkin keluar melalui pintu tersebut. Lalu akupun lewat pintu belakang. Hanya ada beberapa satpam disana, jadi aku memutuskan untuk lewat pintu itu.
Saat aku menuju disana aku bertemu dengan teman sekelompok aku. Aku meminta dia untuk menitip tasku agar tidak terlalu mencurigakan keluar kampus. Setelah keluar kampus akupun langsung menaiki ojeg menuju kostsan aku.
Sesampainya di kostsan memang ada mobil penjemput bergambar Garuda Airlines. Aku melirik sebentar kedalam mobil ternyata di kursi kiri depan ada pria, tampaknya seorang pilot pesawatnya. Aku menyuruh ojegku untuk tunggu sebentar. Akupun masuk kedalam kostsanku. Aku memberanikan diri menuju kamar pramugari tersebut. Sempat ragu untuk mengetuk pintunya. Namun sebelum aku mengetuk, pramugari tersebut sudah membukanya. Aku yang kaget tergagap-gagap untuk bertanya.
“Ada apa ?”, tanya pramugari heran.
“Eee, eenggak kak, kaka mau ke Surabaya kan ?”, tanyaku.
“Iya, emangnya kenapa ?”,balasnya.
“Nomer pesawat kaka berapa ? GA 326 bukan ?”, tanyaku panik.
“Iya bener, udah kaka mau berangkat dulu ya udah ditunggu supir didepan dan pesawat kaka jam 2”, sahut dia.
“Sebentar kak, nanti bakalan ada perubahan cuaca mendadak, jadi tolong beritahu pilotnya supaya menunda penerbangan setelah cuaca tersebut berubah”, kataku.
“Kamu tau darimana ? Jangan sok tau !”, sahutnya.
“Ya aku tau aja kak”, jawabku.
Lalu pramugari tersebut tidak peduli kata-kataku dan langsung menarik kopernya. Aku yang bingung tidak bisa bicara apa-apa lagi. Tak sengaja aku melihat kearah bawah meja dapur. Aku melihat ada sepotong kayu dengan paku yang tertancap. Aku langsung mengambil dan lari menghampiri mobil penjemput tersebut. Lalu aku pukul ban mobil tersebut dengan kayu dan ban mobil itupun bocor. Akupun langsung bergegas menaiki ojegku yang tadi aku suruh tunggu untuk balik ke kampus.
Selama perjalanan ke kampus, aku melihat surat tersebut. Ternyata tulisannya belum hilang menandakan aku belum berhasil. Aku lipat kembali dan kumasukan saja surat itu kekantong celanaku.
Sesampainya dikampus aku langsung lewat pintu belakang yang tembus ke toilet belakang. Aku berjalan sambil pura-pura membenarkan resleting, agar mereka mengira aku dari kamar mandi. Akupun langsung mencari barisan kelompok aku. Ternyata sedang ada seminar, sehingga orang-orang tidak terlalu fokus dengan aku. Disela-sela seminar, aku menyempatkan diri membaca surat tersebut dan akhirnya hilang juga tulisannya. Akupun menjadi sedikit lega dan fokus kembali mengikuti acara.
Pukul 16.30 menandakan acara OMB hari pertama selesai. Akupun bergegas pulang naik angkutan umum dengan anak kost yang lainnya. Sesampainya ditempat kost, aku langsung mandi dan berkaca ria, karena mau kerumah Aci. Setelah selesai, akupun bergegas berangkat. Sebelum berangkat aku mengirim pesan melalu telepon genggamku ke Aci untuk memberitahu bahwa aku sedang menuju kesana.
“Wiih, mau kemana lo fan ? wangi amat ?”,tanya Sam.
“Prikitiiewww sam”,sahut aku.
“Wah baru berapa hari disini udah dapet uyee, uyee ajaa”,balasnya.
“Hahahaha..ya semoga aja lebih dari sekedar uyeee. Jalan dulu ya sam !”,balasku.
“Iyeee pan, sukses daaah !”, jawabnya.
Prikitiew itu bahasa lain dari wanita dan uye itu bahasa lain dari gebetan atau juga bukan teman dan bukan juga pacar. Itu bahasa yang secara tidak langsung disepakati anak kost sebagai kata kode, agar orang lain tidak bisa tahu selain anak kost.
Sesampainya di rumah Aci, akupun mengetuk pintunya. Tok…Tok…Tok…Hati aku terkejut ketika melihat wanita dengan gaun merah membukakan pintu untuk aku.
“Ohhh, Irfan, sebentar y ague panggil dulu si Aldi”, kata Aci.
“Aldi !! Aldi !! sini !! ada mas Irfan !” serunya.
Acipun masuk ke dalam rumah mencari Aldi. Aku yang masih terpesona, akhirnya sadar setelah Aldi menarik-narik tanganku.
“Kak, kak, kak !”,panggil Aldi.
“Eh iya di, maaf kaka ngelamun. Kaka kamu cantik juga ya”, balasku.
“Waaah, kaka, dia udah punya pacar”,jawab Aldi.
Tanpa sempat bertanya siapa, Aci pun keluar rumah dengan menggandeng seorang pria.
“Doni ?”, tanyaku.
“Irfan ? Ada apa kesini ?”, balasnya.
“Ini mau jemput si Aldi, kata kakanya mau dititip ke gue”, balasku.
“Ohhh, gitu !”, balasnya.
“Kalian udah saling kenal ?” tanya Aci.
“Iya ci, tapi ceritanya panjang, nanti aku certain pas kita makan ya”, jawab Doni.
“Oke, kalo begitu, kita nitip Aldi ya Fan ?”, tanya Aci.
“Iya, engga apa-apa kok, nanti hub gue aja waktu mau pulang”,jawabku.
Merekapun berjalan menuju sebuah mobil sedan buatan eropa dan langsung menancap gas.
“Tuh kan kak, apa aku bilang”, sahut Aldi.
“Wuaaaah, kalo gitu ga usah dibahas lagi ya. Kamu ikut kaka aja yuk ke kostsan kaka ?”,tanyaku.
“Yaudah ayo kak !”,sahutnya.
Kamipun menaiki motor maticku, bukan mobil sedan buatan eropa. Sambil mengeluh dalam hati, ternyata urusan penting dan mendadaknya itu pergi makan malam dengan laki-laki lain.
Bersambung…
Pesan Nyata (003)
Chapter 003
Hmmmmmt, hmmmmt, hmmmmmt alarm di handphoneku bergetar menandakan aku sudah harus bangun dan bersiap-siap. Kubangun dan membuka mata, hanya bisa pasrah ketika aku disuguhkan sepucuk surat seperti hari kemarin. Aku berharap surat itu bisa berubah menjadi makanan hangat. Tanpa aku perduli surat itu aku bergegas mandi. Karna hari ini hari Senin dan aku harus pergi ke kampus untuk daftar ulang.
Kubasahi semua kepalaku dengan air, agar bisa mendinginkan sedikit kepala ini yang hampir pecah karena kejadian kemarin. Kuyakini mulai hari ini aku akan masuk kedalam proses untuk melupakanya. Walau sempat aku berpikir bahwa aku tidak bisa, tapi aku harus.
Setelah selesai mandi dan berpakaian. Aku membuat sarapan, ya walaupun hanya sekedar roti tapi cukup mengganjel perut pagi ini. Sambil ku baca surat yang datang hari ini.
Jam 15.35 WIB terjadi perampokan di sebuah rumah di daerah Cildeug. Rumah tersebut milik seorang dokter. Tersangka berhasil kabur dengan membawa uang sebesar 150 juta beserta perhiasan dan mobil milik anak dokter tersebut. Dalam peristiwa tersebut dua orang dinyatakan tewas tertembak. Seorang satpam dan anak pemilik rumah tersebut. Tertera juga alamat rumah itu dengan lengkap. Begitulah kurang lebih isi surat yang datang hari itu.
Aku langsung lihat jam, ternyata baru menunjukan pukul 8.15. Jadi aku masih sempat untuk pergi ke kampus terlebih dahulu. Setelah selesai sarapan akupun menyiapkan data-data
yang harus dikumpulkan. Setelah itu aku berangkat.
Sesampainya di kampus, aku lihat pemandangan yang ramai. Sehingga aku harus menunggu giliran. Aku dapat giliran pada jam 10. Aku harus menunggu satu setengah jam lagi untuk bisa daftar ulang.
Kusempati diri untuk melihat sekeliling, mencari pengganti Tara tapi, rata-rata bukan tipe aku ternyata. Setelah lama menunggu, gilirankupun tiba. Langsung aku kumpulkan berkas-berkas dan foto untuk kartu mahasiswa. Aku diberitahu bahwa akan ada pertemuan untuk persiapan OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) jam 16.00 di kampus.
Saat ingin jalan pulang aku bertemu Bagus, Sam dan Leo. Lalu aku dekati mereka. Ternyata mereka juga baru selesai daftar ulang, lalu kamipun memutuskan untuk pulang bareng. Sesampainya di kostsan ternyata ada mahasiswa baru juga yang kuliah di kampus yang sama denganku. Kami pun berkenalan dan cerita banyak. Namanya Eko, ternyata rumah dia di daerah Jakarta Barat. Aku sempatkan diri untuk bertanya jalan ke arah Ciledug. Dia berkata bahwa itu searah dengan rumahnya dan diapun menjelaskan jalan menuju arah sana. Lalu dia bertanya ada apa di Ciledug. Aku bilang padanya bahwa ada urusan mendadak. Lalu dia mengingatkan kalau nanti jam 4 sore ada pertemuan persiapan OMB.
Setelah panjang mengobrol dengan mereka, akupun memutuskan untuk masak makan siang. Aku sambil berharap bahwa pramugari yang tadi malam akan menyapaku. Setelah aku ambil mangkok, garpu, indomie dan telur, akupun menuju dapur di bawah.
Aku melihat pintu kamar mereka tertutup rapat. Akupun putus asa. Selang beberapa lama aku merebus indomie. Tiba-tiba ada yang menyapaku.
“Ngekost disini juga ya ? kuliah apa kerja ?”, tanya seorang pramugari sambil mencuci piring bekas dia makan.
“Eeeeee, Iya kak. Masih kuliah kok kak,” jawab aku sedikit terkejut.
“Ooooh, semester berapa ? “, balas pramugari.
“Baru semester satu kak. Baru masuk kuliah besok, hehehehe”, jawab aku.
“Oh iya, emang ada cara masak baru indomie ya ?”, tanyanya.
“Uppss, oh iya salah masukin bumbu kak. Waaaduuuuh”, jawab aku sambil panik karena salah memasukan bumbu.
Aku menaburkan bumbu pada rebusan indomie bukannya pada mangkok.
Setelah selesai mencuci piring dia masuk kembali ke kamar. Akupun melanjutkan masak dan kemudian aku makan.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 13:30. Aku sudah harus berangkat ke Ciledug. Aku berangkat dengan bermodalkan nekat dan sepucuk surat. Aku terus menelusuri jalan yang sudah diberitahukan oleh Eko.Alam Sutra – Graha Raya – Ciledug itulah rute yang aku tempuh. Cukup membuat aku pusing karna jalannya berliku-liku. Setelah hampir satu jam akhirnya aku sampai pada komplek perumahan yang tertera di surat itu.
Saat aku tiba, pagar rumah sudah terbuka dan aku melihat mobil boks parkir di depan rumah itu. Aku langsung memarkirkan motorku dan berusaha mencari sebalok kayu. Lalu aku masuk dengan membawa sebalok kayu. Aku melangkah pelan-pelan menuju garasi kayu yang agak terbuka sedikit. Aku lihat seorang satpam sedang menghadap ke tembok dengan tangan dibelakang kepala. Setelah aku lihat lagi, ternyata dia sedang ditodong pistol oleh seorang perampok.
Deg, deg, deg, deg… Jantungku berdetak kencang. Keringatku berkucuran keluar, kalau aku tidak berhasil mungkin bisa saja aku yang mati pikirku dalam hati. Aku tarik nafas dalam-dalam lalu aku beranikan diri. Aku tendang pintu tersebu. Perampok tersebut agak terkejut melihat aku yang datang tiba-tiba. Sebelum dia bisa berkutik lebih banyak aku langsung memukulnya dengan balok berkali-kali sampai dia jatuh dan tidak sadarkan diri. Satpam itu langsung mengambil pistol si perampok.
“Mas, mas tunggu sini aja ya, di dalam masih ada 3 orang lagi. Mas, jaga pintu itu, nanti kalo ada yang mau kabur, langsung pukul aja pake balok ya ?”, kata satpam terburu sambil berjalan menuju kedalam rumah.
“Oh, Iya iya pak !”, jawab ku sambil bersiap-siap.
Setelah satpam itu masuk, terdengar suara beberapa kali tembakan dan beberapa saat kemudian aku melihat satpam itu keluar sambil memegang bahunya, sepertinya terkena tembak. Tiba-tiba ada yang mengalungkan pisau ke leherku, ternyata dia perampok yang tadi aku pukuli. Balok kayu yang ada di tanganku langsung ditendangnya.
“Jatuhkan pistol lo !”, seru perampok itu kepada satpam tadi.
“Iya iya, tapi lepasin anak itu ! “, jawab satpam tersebut.
Aku pasrah tidak bisa bergerak, karena kalau bergerak putuslah leherku.
“Tidak, sekarang kumpulkan semua uang dan perhiasan milik tuan rumah ini !”, perintah perampok itu.
Doooor…. Terdengar suara peluru terbang menuju tepat di tangan perampok itu. Tembakan tersebut membuat tangannya terluka cukup parah dan melepaskan genggaman pisau dan aku. Akupun langsung berusaha lepas dari perampok itu sejauh-jauhnya. Ternyata itu peluru dari pistol anak pemilik rumah itu yang baru datang. Anak pemilik rumah itu ternyata seorang polisi. Kami langsung mengumpulkan para perampok itu dan mengikatnya. Ada yang hanya kakinya tertembak, ada yang hanya tangannya saja dan ada yang kedua-duanya tetembak.
Akupun meminta izin memakai kamar mandi, karena tangan dan pipiku terkena darah perampok itu, bahkan tanganku luka terkena pisau si perampok. Aku melihat kaca sejenak sambil mencuci tangan dan berpikir akhirnya selesai juga. Aku melihat jam tanganku ternyata sudah jam 15.15 sedangkan aku harus ada di kampus jam 16.00. Sebelum aku keluar aku sempatkan diri membaca surat yang tadi pagi aku dapat, ternyata tulisannya telah menghilang, pertanda berhasil diselamatkan. Aku bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju pintu keluar.
“Hei, Mas, tunggu !”, panggil anak pemilik rumah itu kepadaku.
“Eh, iya mas. Ada apa ?”, jawabku.
“Kok buru-buru banget ?, Mau kemana ?" tanya dia.
“Saya harus balik ke kampus. Ada urusan kuliah pak”, jawabku.
“Ohhhh, begitu, ok deh, terima kasih banyak yah. Oh iya, jangan panggil saya bapak. Panggil saja saya Doni !”, balas dia.
“Oh iya don, nama saya Irfan. Saya berangkat dulu ya ! Permisi !”, seru ku.
“Iya silahkan”, balas Doni.
Aku langsung memakai helm lagi dan langsung menancap gas menuju kampus. Sesampainya di kampus aku langsung mencari barisan kelompokku. Setelah selesai semua perkenalan dan permainan kelompok serta pembagian jadwal OMB besok dan apa saja yang harus dibawa selama OMB, akupun pulang.
Saat aku sedang mengendarai motor, aku melihat anak kecil sedang dikejar-kejar oleh tukang es krim. Ternyata itu si Aldi anak yang ingin bunuh diri kemarin. Akupun ikut mengejarnya. Setelah aku dekat akupun langsung menariknya.
“Hey, Aldi, Kamu kenapa lari-lari begitu dikejar penjual es krim ?”, tanya aku.
Aldi hanya terdiam dan kemudian menangis.
“Jangan tangkap aku ka’, aku ga mau masuk penjara”, jawab dia.
Tiba-tiba prnjual es krimpun sampai ditempat kami.
“Mas, ini adeknya ya ? Dia belum bayar tuh mas, main lari aja. Jangan diajarin maling dong mas, nanti gedenya mau jadi apa ?”, bentak penjual es krim.
“Iya iya maaf mas, emang berapa harga es krimnya biar saya yang bayar dua kali lipat deh mas ?”, jawabku.
“Jadi 15.000 mas, itu udah jadi 2 kali lipat“, sahut dia.
Akupun langsung mengambil uang dari dompetku.
“Ini mas uangnya, kembali 5000. Sekali lagi mohon maaf ya bang ?”, balasku.
Setelah memberi uang kembalian penjual es krim itupun pergi dengan muka yang sedikit kesal. Lalu aku membujuk Aldi yang masih menangis ketakutan.
“Udah, udah, kamu engga akan dipenjara kok di”, ucap ku kepada Aldi.
“Iya, iya kak, makasih yaa kak“, balas dia.
“Yaudah sekarang kakak anterin kamu pulang yah ?”, tanyaku.
“Iya kak, engga begitu jauh kok dari sini “, jawabnya.
“Oke, kalo gitu. Ayo naik motor kakak, pegangan ya ! Kasih unjuk jalannya !” seru aku.
“Iya iya kak“, sahutnya sambil menaiki motor aku.
Akhirnya kamipun sampai pada satu rumah kontrakan. Setelah turun dari motor Aldi mengetuk pintu rumah sambil memegang es krimnya. Akupun ikut turun mengantarnya. Selang beberapa lama Aldi mengetuk akhirnya dibukakan pintunya oleh kakaknya Aldi. Aku terpesona melihat kakaknya Aldi, sangat manis dan sederhana. Aku berpikir inilah yang aku cari.
“Mas, Adek saya mencuri lagi ya ? Maafin adek saya ya mas ! Sebentar uangnya saya ganti deh“, ucap dia sambil panik.
“Emmmmm, Mbak, engga usah. Saya ikhlas kok Mbak, boleh bicara sebentar engga Mbak tentang Aldi ?”, ucap aku terbata-bata.
“Oh iya, iya bisa kok. Sebentar saya ambilin minum dulu ya mas“, balasnya.
“Eh engga usah repot-repot mbak, cuman sebentar kok“, balasku.
Akhirnya kamipun duduk diteras depan rumahnya.
“Aldi, sana kamu mandi dulu ! Oh iya mas, kenalin nama saya Aci“, ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Oh iya, engga usah panggil mas, ngomongnya juga santai aja ci, kita seumuran kali nama gue Irfan“, sahutku sambil menyalami tangannya. Sengaja aku ngomong sedikit panjang biar bisa menggemgam tanganya agak lama.
“Oh gitu ya, iya deh fan. Oh iya si Aldi kenapa ?”, tanyanya penasaran.
“Sebenarnya ada masalah apa sih ? kalo boleh tau, soalnya kemarin gue liat dia mau bunuh diri dari jembatan di atas tol. Untung kebetulan gue ada disitu ci, langsung gue suruh pulang dia. Emangnya dia engga cerita apa-apa ci ?“, jawabku.
“Hah, engga ?”, balasnya keheranan.
“Dia bilang, dia engga mau bikin susah lo lagi ci !”, jawabku.
“Hmmmmmm, gitu, iya semenjak kita ditinggal ibu, semua biaya sekolah dia gue yang nanggung”, ucapnya.
“Hmmm, maaf yah gue turut berduka cita ci. Emangnya kapan meninggalnya ?”, tanyaku penasaran.
“Hari sabtu kemarin, dia tertabrak saat ingin mengejar si Aldi yang menyeberang sembarangan“, jawabnya sedih.
“Jangan-jangan ibu-ibu yang ada disurat waktu itu yang seharusnya bisa aku tolong tapi aku tidak menolongnya”, ucapku dalam hati.
“Sudah jangan sedih ci, mungkin memang sudah takdirnya. Ini pegang nomer handphone gue ci, kalo butuh apa-apa hubungin aja siapa tau bisa bantu, toh kost-kostsan gue juga ga begitu jauh dari sini”, ucapku sambil menuliskan nomer handphoneku di selembar kertas.
“Iya, iya makasih banyak ya fan. Mungkin adek gue bakalan dipukulin orang kali kalo ga ada lo fan”, balasnya.
Akupun akhirnya pamitan pulang dengan dia. Aku merasa sangat bersalah. Aku seperti yang membunuh ibu mereka namun tidak secara langsung. Harusnya aku bisa mencegah hal itu tidak terjadi. Mulai saat ini aku berjanji sama diriku sendiri aku akan senantiasa membantu mereka dari kesulitan dan akan mngikuti semua petunjuk surat yang selalu aku dapat setiap pagi. Walaupun harus mengorbankan waktu untuk kuliah ataupun yang lainnya. Karena nyawa orang lain lebih berharga daripada sekedar waktu yang aku punya.
Pesan Nyata (002)
Chapter 002
Aku keluar kamar dan lihat sekeliling yang masih sepi tanpa ada tanda – tanda kehidupan. Lalu datang seorang pria, ia mengaku bernama Bagus. Aku sempat heran ketika berkenalan dengannya.
“Irfan !”, tegasku.
“Bagus !”, balas dia.
“Nih orang baik banget kok baru kenal aja sudah bilang nama aku bagus” sahutku dalam hati.
Setelah kenal lebih jauh ternyata dia juga kuliah di tempat yang sama dengan aku. Tak lama kemudian tampak 2 orang pria membawa tas. Mereka berdua Leo dan Sam. Kami pun akhirnya ngobrol-ngobrol lebih dekat, karena kita satu kost dan satu kampus.
Karena aku merasa letih akupun memutuskan untuk pergi tidur duluan. Lama tak berselang aku masuk kamar sudah tidak terdengar lagi suara mereka mengobrol. Langsung dengan lelapnya akupun tertidur.
Tanpa sadar pagi pun sudah datang lagi. Aku bangun dan mengucek-ngucek mata sebentar. Tampak dengan mata yang masih setengah sadar, pulpen dan selembar surat seperti hari kemarin. Aku baca sejenak dan seperti kemarin tampak tulisan seperti berita.
Seorang anak tewas seketika, diduga anak tersebut bunuh diri lompat dari jembatan penyebrangan yang di bawahnya adalah tol Jakarta-Merak. Anak tersebut bernama Aldi usia 8 tahun. Didalam surat tersebut juga diberitahukan waktunya sekitar jam 10.30.
Aku langsung melihat jam dan terlihat 9.45. Akupun bergegas mandi dan langsung berangkat. Pukul 10.15 aku sudah ada ditempat tersebut sambil membawa surat tersebut. Aku tengok kanan kiri tak ada satu anak kecil pun yang melintas di jembatan tersebut.
Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. Ternyata ada sms dari Tara. Dia meminta aku untuk ketemu di sekolahnya jam 11 tepat. Lalu aku membalas bahwa aku tidak bisa kesana jam 11. Sedangkan perjalanan kesekolah dia aja paling cepat 1 jam. Lalu dia bilang kalo terlalu lama dia akan pulang dan tidak jadi ketemu. Iya aku kesana secepatnya balas aku.
Lepas pandanganku dari sms Tara, aku melihat anak kecil lewat di depan aku.
“Kamu Aldi kan ?”, tanya aku sambil menarik tangannya.
“Iya, aku Aldi !”, nampak ketakutan sambil mencoba melepaskan genggaman tanganku .
“Ga usah takut, kaka cuman mau nanya. Kamu kenapa mau bunuh diri ?”, tanyaku dengan wajah imut.
“Kok kaka tau aku mau bunuh diri ?”, balas dia penasaran.
“Ya, kaka tau aja. Ada yang bisikin kaka tadi malam “, canda aku sambil mengelus rambutnya.
Anak itupun tersenyum sejenak.
“Aku merasa bersalah kak, lebih baik aku mati aja kan ? Biar aku engga nyusahin kaka aku. Aku yang udah bikin kaka kehilangan segalanya”, jawab dia.
“Oh, Kamu punya kaka. Ya, tapi engga gitu donk di, kamu harusnya bantuin kaka kamu. Kalo kamu bunuh diri nanti yang bantuin kaka kamu siapa ? Kamu mau kaka kamu sendirian ? Kamu sayang engga sama dia ?”,tanya aku sambil berlutut dan menatap matanya.
“Ya, Sayang ka !”, jawab dia.
“Nah kalo gitu mendingan sekarang kamu pulang bantuin kaka kamu”, suruh aku.
“Kok kaka bisa tau kaka aku nantinya sendirian ? Kaka pacarnya ya ?”, tanya dia.
“Engga kok, pokoknya kaka tau aja”, jawab aku sambil tersenyum padanya.
“Yaudah aku pulang dulu ya kak”, sahut dia.
“Iya hati-hati ya”, balas aku.
Padahal disurat tersebut ada penjelasan anak itu meninggalkan siapa aja ketika dia meninggal dan ternyata hanya seorang kaka perempuan.
Aku lihat kembali surat tersebut dan aku kaget ketika melihat tulisannya hilang entah kenapa. Mungkin itu tanda aku berhasil menyelamatkan nyawa anak tersebut.
Aku melihat jam tanganku dan ternyata sudah hampir jam 11. Akupun bergegas menaiki motor dan berangkat menuju sekolah Tara.
Sesampainya disana aku melihat keadaan sekolah yang telah sepi kosong. Memang waktu sudah menunjukan jam 12.10 Aku tanya satpam sekolahnya.
“Pa, masih ada orang engga pa di dalem ?”, tanya aku.
“Wah udah pulang semua mas”, jawab satpam tersebut.
“Ohh, makasih ya pa, permisi”, kata aku.
Aku langsung sms Tara menanyakan keberadaan dia. Setelah cukup lama menunggu, sms dari diapun masuk ke telepon genggamku. Dia berkata kalau dia ada dirumah temannya bernama Tira. Akupun langsung tancap gas menuju rumahnya Tira.
Sesampainya disana aku disuguhkan tampang yang kurang bersahabat dan aku dicuekin. Setiap aku memandang dia, dia langsung buang mukanya ke arah lain. Aku diam sendiri sampai akhirnya Tira yang mengajak aku ngobrol. Sampai azan maghrib menggema aku masih dianggap tidak ada. Akhirnya aku pamit sama Tira buat Solat Maghrib.
Setelah selesai solat dan berdoa, akupun menarik tangannya Tara dan membawanya ke teras depan rumahnya Tira.
“Mau kamu apa sih ?”, tanya aku.
“Aku mau putus !”, jawabnya tegas.
“Waaauuuu, aku sudah jauh-jauh dari Serpong ke Tebet cuman buat denger kata itu”, jawab aku dalam hati.
“Terserah mau kamu apa pokoknya yang aku mau itu”, lanjut dia.
“Emang kamu udah engga sayang sama aku ?”, tanya aku tegas.
“Engga, tadinya aku mau jalan sama kamu, tapi kamunya kelamaan tau ga ! Aku udah males duluan. Tadinya aku mau ngetes aku masih sayang ga sama kamu “, jawab dia sambil membentak.
“Dengerin penjelasan aku dulu donk, aku kasih tau kenapa aku telat. Ada hal yang lebih penting”, jawab aku sambil menghela nafas.
“Ohh, jadi ada yang lebih penting dari aku ? Udah cukup aku ga mau denger penjelasan kamu lagi. Kamu kalo mau pulang, pulang aja sekarang sana. Aku udah engga bisa pokoknya jalanin hubungan pacaran sama kamu !”, jawab dia.
Akupun sudah tidak bisa mengucap kata lagi dan langsung mengambil helm dan jaket aku, berharap Tara akan mencegah aku pergi. Namun sampai aku menyalahkan motor dia tetap tidak mau menatap aku. Mungkin emang dia ingin aku pergi jauh-jauh.
Segera aku gas motorku dengan berat hati. Aku pergi begitu saja tanpa peduli lagi. Sepanjang perjalanan aku berharap sekali sesuatu terjadi padaku. Agar Tara tau bagaimana bila kehilangan seorang aku. Namun aku berpikir lagi, memang itu yang dia inginkan. Jadi aku coba menenangkan pikiran dengan melihat berbagai ekspresi orang-orang saat di jalan pulang. Tersenyum aku ketika ada orang yang sedang naik ojek, dia menangis kencang sambil menelpon. Membuat semua pengguna jalan langsung tertuju padanya. Aku menebak dia juga baru putus mungkin. Peristiwa itu membuat aku berpikir, tidak cuman aku yang merasakan patah hati. Aku berusaha tegar sebisa mungkin.
Sempat hati berpikir menyalahkan surat tadi pagi. Seandainya aku tidak pernah mendapat surat itu mungkin aku tidak akan telat menjemput dia. Tapi aku pikir sudahlah, itu memang takdir buat aku. Walaupun aku merasa itu sebagai kutukan.
Tanpa sadar aku sudah dekat dengan kostsan aku. Sesampainya disana, kulihat kostsan cukup ramai. Ternyata Bagus, Leo dan Sam sedang pada masak.
“Dasar cowo, masak aja berisik !”, kataku dalam hati.
Akupun naik ke atas menuju kamarku. Aku langsung ganti baju dan cuci muka sebentar lalu aku menyusul yang sedang pada masak. Aku sempatkan diri bertanya pada mereka.
“Eh, pada dapet surat ga setiap pagi ?”, tanyaku.
Mereka menjawab tidak pernah, malah jadi bahan bercandaan yang mereka kira surat cinta. Akupun ikut tertawa, cukup menghibur hati aku yang sedang hancur begini.
Ketika sedang asik mengobrol dan masak, semua pandangan tertuju pada pintu masuk kostsan. Dengan mata yang berbinar-binar dan terpaku. Kita melihat bidadari seperti turun dari langit. Memang seperti itulah kenyataannya. Tampak 2 wanita berseragam pramugari baru pulang dengan mobil antar jemput. Ketika mereka berbalik arah menuju kamarnya, kamipun saling menatap dan terpana dalam hati.
Kamipun melanjutkan masak dengan keringat dingin dan salah tingkah sedikit cari perhatian. Karena dari lirikan kita berempat mereka berdua sedang menuju ke arah kita. Ternyata kamarnya dekat dengan dapur. Dalam hati aku langsung timbul niat untuk sering-sering masak.
Setelah selesai masak kamipun kembali ke atas untuk menikmati makanan tersebut walaupun hanya mie goreng telur dengan beberapa nugget. Karena aku tidak menyumbang apa-apa aku hanya menyaksikan mereka makan. Akupun memutuskan untuk masuk ke kamar duluan.
Waktu sudah larut jadi aku putuskan untuk langsung tidur, karena besok hari pertama aku ke kampus.