Chapter 005
Sesampainya di kostsan, aku langsung mengajak Aldi naik ke kamar aku di atas. Akupun langsung bertanya pada Aldi tentang Aci.
“Di, kakakmu itu punya facebook ga ?”, tanyaku.
“Punya kak, punya kak..Namanya Putri Anastacia”, jawab Aldi.
“Wauuu, emang deh kaka kamu bener-bener putri, habis cantik dan manis sih hehehehe”, jawab aku.
“Siapa dulu adeknya”, balas Aldi.
Sambil kita bercanda-canda, kusempatkan untuk membuka Facebook dan mencari namanya. Setelah ketemu, langsung aku add dia sebagai temanku. Aku melihat profile picturenya sedang berduaan mesra dengan Doni.
“Hey di, kamu udah makan belum ?”, tanyaku.
“Belum kak “, jawab Aldi.
“Cari makan yuk di, sama kakak juga belum makan nih”, balasku mengajak.
“Ayo deh, tapi bayarin ya kak ?”, tanya dia.
“Iyaaaaaaa “, jawabku.
Akupun langsung meninggalkan kamar bersama Aldi mencari makan. Saat aku lewat dapur, kusempatkan diri melihat kamar si Pramugari. Ada rasa khawatir di dalam benakku, aku takut aku telah membunuh satu orang lagi walaupun surat yang tadi pagi sudah hilang semua tulisannya. Akupun terus melanjutkan mencari makan.
“Kamu mau makan apa di ?”, tanyaku.
“Aku sih apa aja kak”, jawabnya.
“Warteg aja yaaa ?” sahutku.
“Yaudah kak engga apa-apa”, balasnya.
Akupun singgah di warteg tempat aku biasa makan. Setelah memesan, kamipun langsung makan, namun disela-sela waktu aku bertanya tentang Aci.
“Di, kakakmu suka makanan apa ?”, tanyaku penasaran.
“Sate Padang kak”, jawab Aldi lugu.
“Ooooooh, kalo gitu nanti pulang sekalian beli deh”, ucapku.
Sebelum balik ke kostsanku kami membeli sebungkus sate padang. Setelah itu kamipun bergegas pulang ke kostsaku. Aldi yang tampak kekenyangan langsung mengantuk. Lalu aku suruh dia tidur di kasur aku. Akupun akhirnya menyiapkan barang bawaan OMB besok. Tiba-tiba telepon genggamku berdering, ternyata Aci yang menelponku, langsung dengan segera aku angkat teleponnya.
“Fan, Gue udah di jalan pulang bisa ga anterin Aldi pulang ?”, tanya Aci.
“Bukannya gue ga mau nganterin ci, tapi si Aldi tidur mending lo mampir dulu ke kostsan gue, bisa ga ?” sahutku.
“Oh gitu, yaudah deh, kostsan lo dimana ?”, tanya Aci.
“Di deket minimarket Kelapa Dua. Nanti gue tunggu di depan deh ”, jawabku.
“Okeee, ditunggu ya, thanks fan” balasnya.
Aci menutup telepon sebelum aku membalas ucapan terakhirnya. Tak lama berselang, sekitar 10 sampai 15 menit, Aci mengirimkan aku pesan singkat bahwa dia sudah di daerah Kelapa Dua. Akupun langsung membangunkan Aldi dan menggendongnya sampe kedepan kostsanku. Waktu yang sudah larut sekitar jam 22.30 menambah hawa dingin. Jalananpun sudah mulai sepi, aku takut Aci dan Doni kelewatan. Tak lama merekapun datang, Aci langsung turun dan mambukakan pintu mobil belakang, agar aku bisa menidurkan Aldi di kursi belakang. Setelah itu Acipun masuk lagi kedalam mobil dan membuka kaca mobil sambil bilang terima kasih kepadaku. Doni terlihat sangat sibuk dengan telepon genggamnya. Setelah mereka pergi, akupun balik ke kamar dan istirahat.
Terbangunku seperti hari kemarin, bergegas mandi dan berangkat kekampus bersama teman satu kostku. Seperti halnya hari kemarin., surat yang biasa muncul di kamar kostsanku belum muncul. Akupun tak peduli, mungkin seperti halnya hari kemarin yang akan tiba-tiba muncul didalam tasku. Aku seperti sudah terbiasa dengan keanehan yang mengganggu aku beberapa waktu ini.
Saat aku sedang ada seminar, aku melihat jam tanganku, ternyata waktu telah menunjukan pukul 8.20. Aku mencoba mengintip tasku, dan ternyata benar surat itu ada di tasku layaknya hari kemarin. Surat tersebut menjelaskan bahwa terjadi pencurian mobil dan korban ditusuk ditempat dan meninggal seketika. Lokasi dan waktu juga tercantum dengan jelas. Waktu kejadian menunjukan pukul 13.15. Akupun melanjutkan fokus aku ke seminar, aku taruh surat itu dikantong celanaku.
Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 12.00, tapi aku belum bisa keluar dari kampus karena sedang ada games perkelompok. Aku hanya bisa pasrah kali ini. Sampai pukul 12.45 aku masih belum bisa keluar kampus. Akhirnya pas jam satu teng ada games diluar kampus. Akupun langsung memisahkan barisan dan menaiki ojeg. Sambil menunjukan alamat yang ada disurat ke tukang ojeg.
Sesampainya di lokasi, ternyata sudah terlambat. Korban sudah tergeletak di pinggir jalan. Tanpa ada satu orang pun yang tahu. Akupun langsung meminta tukang ojeg yang tadi membantuku. Tanpa berpikir panjang akupun langsung menaiki sang korban ke atas motor ojeg dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Darah terus mengucur dari tubuh korban yang tampak seperti seorang bapak yang sudah bekerja. Bajukupun lama-lama berubah merah. Setibanya dirumah sakit, aku langsung meminta satpam untuk mengambilkan kursi roda atau semacamnya untuk membawa korban ke UGD. Tak lupa juga aku langsung membayar ojeg tersebut. Sudah di UGDpun korban tidak langsung dirawat, harus melakukan registrasi dulu. Akupun bergegas melakukan registrasi memakai ktp korban tersebut. Setelah registrasi, korbanpun akhirmya ditangani oleh tim dokter.
Akupun memutuskan untuk menunggu bapak tersebut di ruang tunggu. Setelah kuperhatikan alamat si korban, ternyata berasal dari daerah Kebun Jeruk. Aku bertanya-tanya sedang apa dia di daerah Tangerang. Akupun menyempatkan membaca surat yang dikantongku. Ternyata suratnya berubah merah, aku tidak tahu apa maksudnya pertanda ini. Lama aku menunggu, lebih dari dua jam, akhirnya dokter memanggil aku.
“Kamu anaknya ?”, tanya dokter tersebut.
“Bukan dok, saya cuman orang yang kebetulan lewat tadi dok”, jawabku sambil terbata-bata.
“Oh yaudah, ini pasien, lukanya tidak terlalu parah, cuman ga boleh banyak gerak dulu. Masalah pembayaran sama obat bisa ditebus di kasir ya” , balas dokter tersebut.
“Makasih banyak ya dok ” jawabku.
Akupun menghampiri si korban yang setelah kuketahui namanya Anton setelah kumelihat KTP-nya.
“Pa Anton, saya ga punya uang buat bayar obat dan biaya operasi bapak tadi. Lalu bagaimana ?”, tanya saya.
“Oh tenang saja, saya ada kartu kredit kok, tolong bawa saya ke kasir”, balas Pak Anton.
Akupun bergegas mengambil kursi roda, agar Pak Anton bisa duduk sambil membayar ke kasir. Setelah semua proses pembayaran dan penebusan obat selesai saya mencarikan taksi untuk Pak Anton pulang. Setelah menemukan taksi dan membantu Pak Anton menaiki taksi, Pak Anton meminta aku untuk ikut dengannya pulang. Karna aku merasa aku bertanggung jawab atas kejadian ini akhirnya aku menuruti permintaan Pak Anton. Akupun memberitahukan alamat yang dituju kepada supir taksi.
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar