Chapter 006
“Namamu siapa mas ?”, tanya Pa Anton sambil menahan sakit di perutnya.
“Nama saya Irfan om”, jawabku.
“Kamu kuliah atau kerja ?”, tanyanya lagi.
“Saya baru masuk kuliah om”,balasku.
“Oh anak om juga baru masuk kuliah”, sahutnya.
“Kamu kuliah dimana ?”, tanya ia lagi.
“Di serpong om, namanya UMN”, jawabku.
“Jurusan ?”, balasnya.
“Teknik Informatika om”, jawabku.
“Oooh, kalo anak saya ambil Desain Komunikasi Visual di Binus”, balasnya.
“Yah, anaknya pasti cowo kalo ambil jurusan itu”, keluhku dalam hati.
“Ooooh, iya om saya juga sempet daftar disana om”, balasku.
Kamipun berbincang-bincang terus selama perjalanan. Diapun bilang kepada aku bahwa jika aku perlu apa-apa tinggal bilang saja kepada dia. Dia merasa berhutang nyawa denganku. Sesampainya dirumah Pak Anton akupun dipersilahkan masuk dan duduk di dalam rumahnya. Rumahnya sederhana namun rapih dan bergaya minimalis. Istri Pak Antonpun menyambut suaminya dengan tampak yang khawatir dan mambantu Pak Anton masuk ke kamar. Tak lama akupun disediakan minum oleh pembantunya Pak Anton. Lama aku menunggu namun Pak Anton tak kunjung keluar kamar. Padahal aku ingin segera pamit pulang ke Serpong.
Setelah 30 menit menunggu akhirnya Pak Anton keluar dan membawakan aku pakaian.
“Nih, kamu sebelum pulang ganti baju dulu, biar bersihan dikit, kamar mandinya disana ya !” menyuruhku sambil menyodorkan kaos dan menunjuk arah kamar mandi.
“Oh gitu, iyaa iyaaa Pak, makasih banyak” balasku.
Akupun permisi sebentar ke kamar mandi untuk ganti baju. Ketika aku selesai dan keluar kamar mandi aku melihat Pak Anton sedang berbincang pada seseorang yang menurut aku itu anaknya. Akupun mendekati mereka dan ternyata benar, dia anaknya Pak Anton yang setelah kenalan bernama Ayu. Aku kira awalnya anaknya Pak Anton ini pria, tidak taunya wanita yang sangat tomboy. Dandanannya saja seperti anak laki laki dan dia memiliki tato gambar kupu-kupu di bahu bagian belakangnya yang saat itu terlihat jelas karna dia memakai tank top. Namun dia memiliki tubuh yang seperti wanita biasa. Mukanya pun tampak manis.
“Nah Ayu, kamu kan sekarang udah kenal, anterin Irfan pulang ya ke serpong”, suruh Pak Anton ke anaknya.
Ayu tampak kesal dan cemberut langsung mengambil jaket kulitnya dan helm. Aku berpikir naik mobil, tidak tahunya naik motor gede salah satu merek buatan Jepang. Aku yang sempat kebingungan akhirnya pamit kepada Pak Anton. Lalu aku berjalan kearah teras rumah dan melihat Ayu menaiki motornya dan memakai jaket dan helmnya. Aku sempat kagum kepadanya.
“Wau, seksi banget nih cewe”, gerutuku dalam hati.
“Woii, mikirin apa lo ! cepet ambil helmnya disitu kalo mau bareng guee !” cetus Ayu sambil membuka kaca helmnya.
“Iya iyaaaaa yu”, jawab ku.
“Nih orang galaak amat”, seru aku dalam hati.
Akupun segera ambil helm dan naik ke motornya yang tampak sporty.
“Pegangan boy !” seru dia.
Aku langsung melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Woii, jangan macem-macem lo! Pegangan belakang motor !”, seru dia.
“Iya iyaaa, maaf maaf yu” , balasku.
Ayupun langsung menancap gasnya. Selama perjalanan aku diajak kebut-kebutan terus oleh Ayu. Perutkupun lama-lama terasa mual dan ingin muntah. Aku sempat bilang ke Ayu kalau jalannya pelan-pelan saja, tapi dia menjawabnya dengan menambah kecepatannya. Sampai pada daerah yang sudah lumayan dekat dengan Serpong akupun memutuskan untuk turun.
“Ayu, kalo gini terus caranya gue mending turun sampe sini aja! ”, seru aku.
Ayupun langsung memberhentikan motornya ditengah jalan. Aku langsung disuruh turun dengan kasar. Setelah aku turun dia langsung menancap gasnya lagi. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sebegitu marahnya kepadaku. Padahal aku sudah menolong ayahnya. Akupun langsung segera berjalan menuju pinggir jalan dan menunggu angkutan umum.
Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. Ternyata ada pesan singkat dari Aci yang isinya menanyakan keberadaanku, dia sangat membutuhkan aku, dan dia sekarang ada di kostsan aku. Akupun membalasnya untuk menunggu sebentar karena aku sedang menuju kesana. Akupun langsung mencari ojeg dan langsung meminta tukang ojeg tersebut mengantarkanku ke kostsan aku. Beda dengan saat berboncengan dengan Ayu, kali ini aku meminta ojeg tersebut untuk menambah kecepatannya.
Sesampainya di kostsan, aku langsung naik keatas mencari Aci. Aci yang sedang duduk nangis, tiba-tiba berdiri dan memelukku sangat kencang. Akupun kaget dan mencoba menenangkannya sambil menikmati saat-saat tersebut.
“Ada apa ci ? sabar-sabar ceritain ke gue pelan-pelan ci”, ucapku sambil mengelus rambutnya.
Aci masih belum bisa cerita dan masih menangis dipundakku. Aku mencoba melepaskan pelukannya tapi dia malah memelukku semakin erat dan seakan ga mau lepas. Lalu pelan-pelan dia mulai berbicara.
“Aldi fan”,ucapnya pelan sambil terisak-isak oleh tangisannya.
“Aldi kenapa ci?”, balasku yang mulai panik.
“Aldi hilang, tiba-tiba hilang, aku ngerasa udah jadi kaka yang jahat fan”, sahutnya.
“Yaudah nanti aja ceritanya, sekarang kita cari dia, mudah-mudahan ketemu” balasku sambil melepaskan pelukannya dan menuntun Aci ketempat duduk.
Aku langsung ambil kunci motorku, helm dan jaket untuk Aci dan aku. Akupun mengajak Aci mencari Aldi sambil memberikan jaket dan helm kepadanya. Aku selama perjalanan tidak berani bertanya apa-apa sama Aci, takut dia tambah nangis lagi. Awalnya aku mencari disekitar Gading Serpong namun tidak ada tanda-tanda Aldi sedikitpun. Acipun semakin sedih dan panik. Akupun teringat peristiwa Aldi ingin bunuh diri, maka segera aku menancap gas ke arah jembatan tol dan meyakinkan Aci, kalau Aldi pasti ada disana.
Sesampainya di jembatan tersebut, ternyata benar Aldi ada disana. Acipun langsung turun dari motorku dan berlari kearah Aldi dan memeluk Aldi. Aku rasa dia takut sekali kehilangan adiknya setelah kedua orangtuanya meninggal. Mereka berdua sama-sama menangis dan meminta maaf. Aku jadi sedih melihatnya walaupun aku tidak tahu permasalahannya. Akupun mengajak mereka pulang menaiki motorku.
Sesampainya di rumah kontrakan Aci, aku mengantarkan mereka berdua kedepan pintu rumahnya. Aci dan Aldipun langsung masuk kedalam rumah tanpa bilang sepatah kata apapun dan menutup pintu rumahnya hanya mengembalikan helmku saja. Akupun langsung berjalan kearah motorku dan sambil menghela nafas.
Lalu terdengar suara pintu terbuka, dan ada suara panggilan.
“Irfan, tunggu”, teriak Aci sambil berjalan kearah aku.
“Iya ada apa ci?”, sahutku sambil membalikan badan.
Tanpa bicara panjang lebar, dia mencium pipiku.
“Makasih banyak ya fan”, sambil memberikan jaketku.
Acipun langsung masuk ke dalam rumahnya lagi. Aku hanya bisa terdiam sejenak antara senang, terkejut dan staycool. Aku langsung menaiki motor dan pulang ke kostsan aku. Sambil senyum-senyum sendiri aku mencoba mengartikan arti ciuman di pipi kiriku dari Aci yang membuat kepalaku miring ke kiri. Haripun mulai menggelap dan mataharipun mulai termakan gelap. Aku yang lelah menaiki motorku dengan pelan-pelan sambil menikmati indahnya senja.
Sesampainya dikostsan ternyata Bagus, Leo, Sam dan Eko sudah pulang dari OMB di kampusku. Aku yang hampir tidak mengikuti OMB sama sekali hari ini hanya bisa mendengar mereka bertukar cerita tentang permainan-permainan yang dimainkan oleh panitia. Akupun sampe lupa kalau tasku masih ada di kampus. Sepertinya besok aku akan dihukum oleh panitia. Tanpa aku peduli aku langsung ganti baju dan cuci muka setelah itu masak indomie buat makan malamku. Nafsu makanku sudah berkurang drastis karena apa yang terjadi hari ini. Saat memasak, aku sempatkan diri melihat kamar Pramugari yang mungkin belum pulang dari Surabaya karena kamarnya gelap dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Setelah selesai semua, aku yang lelahpun tertidur tanpa beban. Esok harinya seperti hari kemarin-kemarinnya. Namun yang membedakannya hari ini aku dihukum oleh panitia harus menuruti semua perkataan panitia hingga acara selesai dan hari ini OMB berjalan sampai jam 7 malam. Aku hanya bisa pasrah sama waktu dan tetap sabar. Selama menjalani hukuman aku tidak boleh mengambil tasku sampai acara selesai. Aku takut sekali surat yang biasa aku terima tidak akan dapat terbaca olehku dan akan ada nyawa yang hilang lagi. Aku sempat memohon kepada panitia namun mereka tetap tidak mengizinkan. Akupun hanya pasrah dan meminta maaf kepada tuhan untuk tidak bisa menyelamatkan nyawa hari ini. Selama acara aku tidak konsen dan sering melamun sendiri memikirkan siapa yang ada di surat tersebut.
Bersambung..
....seru bangeet bacanya.....keren ceritanya chapter 006...
BalasHapusini beneran ngga sih??? kalo iya enak ya bisa di cium cewek, dibonceng....hahahaha......
lanjutkan.....
hahahahaha
BalasHapustapi horor lah kalo setiap hari dapet surat kaya gitu