Pages

Labels

Rabu, 03 Agustus 2011

Pesan Nyata (009)


Chapter 009


            “Halo ci, udah sampe dimana ci ?”, tanyaku melalui telepon genggamku.
            “Udah di parkiran nih, sama Doni sama Aldi juga”, balasnya.
            “Yaudah, gua tunggu di lobi ya ”, ucapku singkat.
            “Oke”, balasnya sambil menutup telepon.
            Akupun menunggu beberapa saat di lobby utama rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Tak lama kemudian Aci datang bersama Aldi dan Doni.  Aci menghampiriku dan bertanya dimana keberadaan ayahnya yang langsung aku jawab bahwa ayahnya sedang dibawa ke kamar mayat karena sudah tidak bisa ditolong lagi nyawanya. Aci tak kuat membendung air matanya dan berlari mencari kamar mayat. Doni juga mengikutinya dibelakangnya. Aku heran melihat Aldi yang tidak mengeluarkan air mata sedikitpun dan tetap berdiri di sebelahku. Aku sempatkan bertanya kepada Aldi.
            “Hei, Aldi, kenapa kamu kok engga nangis sama sekali ?”, tanyaku.
            “Udah biasa kak”, jawabnya singkat.
            “Hah maksudnya ? udah biasa ayah kamu meninggal ? atau gimana ?”, tanyaku semakin penasaran.
            “Bukan kak, aku udah biasa ditinggal sama ayah, dia jarang sekali memperhatikan aku dan kak aci”, jawabnya menjelaskan.
            “Ya, tapi itukan tetep aja ayah kamu, setidaknya kamu hormati dia, ayo, kita samperin kaka kamu”, ajakku.
            “Yaudah ayo deh kak”, balasnya singkat.
            Akupun menggandeng tanggannya Aldi menuju ke tempat Aci dan Doni berada. Ketika sampai di depan pintu kamar mayat, langkahku terhenti, dan melepas gandengan tanganku dengan Aldi. Aku melihat Aci menangis dipundak seorang Doni, entah apa karena rasa cemburu atau menyesal karena sudah membuat Aci menangis seperti itu. Aku menyesal karena seharusnya aku bisa menghentikan kecelakaan tersebut, namun semuanya seperti tidak ingin aku menghentikannya, surat itupun aku rasa juga begitu karena tidak memberikan waktu yang tepat akan terjadinya, serta truck seperti apa yang akan mengalami kecelakaan.
            Lepas dari lamunanku, Aldi berlari kearah Aci dan Doni dan kemudian memeluk Aci. Aku yang merasa bersalah tidak berani masuk dan hanya menunggu diluar. Aku melihat sekelilingku yang penuh dangan kecemasan dan kesedihan, namun ada satu sudut yang cukup menyita pandanganku. Aku melihat sosok yang mirip dengan bapak-bapak yang memberikan aku pulpen pada hari sebelum aku mulai mendapat surat-surat aneh yang akan menjadi nyata. Akupun memberanikan diri untuk mendekatinya, namun semakin aku dekati malah semakin jauh jarak antara aku dan dia.  
            Aku mencoba mengikuti setiap langkah kemana ia pergi. Langkahnya pun menuju keluar rumah sakit dan aku mengikutinya meninggalkan Aci, Aldi dan Doni. Aku mengikutinya terus, hingga sampai disalah satu bioskop dekat situ yang biasa dikenal dengan Metropole. Namun tak berapa lama aku masuk kedalam bioskop, pandanganku teralihkan oleh pemandangan lain. Dimana ada seorang wanita yang aku kenal sedang duduk berdua dengan seorang pria. Dia adalah Tara, tidak seperti sebelumnya yang aku tidak berani menyapanya kini aku sapa dia.
            “Tara ?”, ucapku mendekatinya sambil mengerutkan alis keatas.
            “Irfan ?”, balasnya.
            Tanpa aku mengucap kata lagi, aku memalingkan mukaku ke arah lain dan terus berjalan. Sampai disitu aku kehilangan jejak bapak-bapak yang aku ikuti sebelumnya. Akupun berjalan keluar bioskop dengan rasa tidak percaya, ingin marah dan kecewa. Aku hanya berfikir apa yang membuatnya bisa setega itu terhadap aku, dan apa yang membuatnya memilih dia dibanding aku. Aku juga malah menjadi bertanya-tanya apa maksud bapak itu melangkah menuju bioskop ini dan mungkin itu hanya bisa dijelaskan dengan satu kata yaitu takdir.
            Aku yang sudah capek dengan rentetan peristiwa hari ini aku memutuskan untuk pulang ke Serpong dengan menggunakan kendaraan umum. Selama perjalanan hanya pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa yang ada dibenakku. Terdengar suara pengamen sambil memainkan gitarnya.
            “Ketika ku lihat kau bersama dia, tak ada penyesalan dalam hidupku, dan apa yang kurasakan saat ini, seperti dahulu ku tak mengenalmu”, nyanyi si pengamen.
            “Aduh nih pengamen kecil, masih kecil udah cinta-cintaan, bikin risau aja”, ucapku dalam hati.
            Hampir 3 jam perjalanan dan lebih dari 3 kali aku berganti kendaraan umum, akupun sampai dikostsan. Aku yang sudah pasrah tidak akan bias mengambil jadwal kuliah, ternyata Bagus memberikan kabar baik bahwa jadwalnya bisa dicetak melalui website kampusku.
            “Emang darimana aja lo fan ? semalem engga pulang”, tanya Bagus kepadaku.
            “Panjang gus ceritanya, kalo gua ceritain pasti lo juga engga percaya, pokoknya aneh bin ajaib”, jawabku.
            Akupun langsung masuk kamar dan mengganti pakaianku bersiap-siap mencari makan, karena waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku pergi ke warteg tempat aku biasa makan, dan sambil aku memakan makananku, aku menonton televisi yang ada di warteg tersebut. Ternyata kejadian kecelakaan hari ini masuk ke dalam sebuah acara berita di salah satu stasiun televisi. Aku juga melihat Aci, diwawancarai oleh beberapa wartawan mengenai peristiwa tersebut.
            Aku hanya bisa tertunduk lesu melihat kesedihan Aci yang begitu sedih dalam layar kaca. Aku membayangkan jika aku yang menjadi dia, apa jadinya seorang aku. Akupun melanjutkan menyantap makananku.
            Selesai aku makan, aku kembali ke kostsan. Tak ku sangka ketika baru masuk pintu kostsan, penjaga kost memberi aku sebuah pesan kecil kepadaku. Kata penjaga tersebut, itu pesan dari pramugari, yang menitipkannya semalam sebelum dia pindah kostsan. Aku tak tahu mengapa pramugari tersebut pindah, penjaga kost pun tidak menjelaskannya secara detil. Akupun membaca pesan tersebut sambil menaiki anak tangga menuju kamarku. Pesan itu berisikan bahwa dia berterimakasih banyak terhadap aku, serta meminta maaf karena sempat tidak percaya kepadaku dan juga candaan kecil tentang masak indomie yang membuat aku sempat tersenyum-senyum sendiri. Sampai diatas, tiba-tiba ada yang memanggilku.
            “Woi fan, kenapa lo senyam senyum senyam senyum sendiri ?”, tanya Sam kepadaku.
            “Ini Sam”, balasku singkat sambil menunjukan kertas kepada Sam.
            “Apaan tuh ? Surat cinta ya ? Dari siapa dah ?”, tanya Sam penasaran.
            “Dari pramugari bawah”, jawabku sambil menggerak-gerakan alis ke atas dan senyum.
            “Kan dia pindah semalem, iya dia nyariin lo tuh fan, lo kemane ga pulang ?”, ucap Sam.
            “Ah masa ? Uye-uyee Sam”, jawabku agar dia tidak bertanya lagi kepadaku.
            “Iyee, bener, tanya aja Bagus, Uye-uye mulu lo Fan !”, ucapnya.
            “Mempung masih muda sam”, jawabku singkat sambil masuk ke kamar.
            Aku menghidupkan komputerku lalu aku buka situs jejaring sosial facebook. Aku melihat-lihat profil Tara, dari situ aku tahu bahwa pria yang bersamanya tadi adalah guru les drumnya. Aku langsung menghapus dia dari daftar pertemanan. Aku tak mau ada namanya di tampilan beranda facebookku. Aku kemudian melakukan pencarian nama Malika Ayu. Ternyata ada dan fotonya pun tampak seperti dia yang asli dengan gaya yang tomboy ditemani motor merahnya. Akupun menambahkan dia sebagai teman ke facebookku. Tak lama berselang, terdapat pemberitahuan bahwa Ayu menerima aku sebagai temannya. Dia menulis di dinding aku tentang kejadian hari ini, dan dia berterima kasih sekali sudah menyadarkan dia. Dia bilang ayahnya saja bisa menerima semua keburukannya, namun mengapa dia tidak bisa menerima keburukan ayahnya. Aku senang sebuah cerita yang berakhir bahagia. Aku membalasnya dengan memberi nomor telepon genggamku agar dia bisa menghubungiku kapan saja ketika dia butuh aku.
            Aku mengirim pesan kepada Aci, untuk meminta nomor telepon genggamnya Doni karena aku ingin berbicara dengan Doni. Setelah kutunggu beberapa lama, Aci tak membalas pesanku, akhirnya aku mencoba untuk menghubunginya.
            “Halo ci, ini gua Irfan, Doninya ada ?”,ucapku.
            “Iya ini gua Fan, Doni, Ada apa ?”, balasnya.
            “Gua mau ngomong sesuatu, lo ada waktu luangkan ?”,ucapnya.
            Doni tak menyaut dan diam saja.
             “Yaudah langsung aja deh, Don, gua mohon lo jangan pernah nyakitin Aci ya, Gua engga sanggup ngeliat dia sedih, itu sebabnya juga gua pulang tanpa pamit tadi. Gua mau lo jaga dia baik-baik bahkan kalo bisa lo jaga jangan sampai dia kehilangan keluarganya lagi. Oh iya Don, gua juga sebenernya merasa bersalah banget sama dia karena seharusnya gua bisa cegah dia kehilangan orang tuanya, karena gua udah tau itu bakalan terjadi Don. Gua juga sebenernya merasa cemburu sih Don sama lo, tapi engga apa-apa deh, gua yakin dia aman sama lo kok. Take care buat Aci ya Don”, ucapku perlahan-lahan.
            Doni tak memberikan ucapan sepatah katapun dan langsung mematikan teleponnya begitu saja. Akupun heran mengapa, namun yasudahlah, setidaknya aku sudah menyampaikan, tidak mungkin juga omonganku tidak dia dengarkan dan pikirkan. Aku hanya bisa berharap, Doni akan menjaganya dengan baik.  
           
Bersambung.

Jumat, 01 Juli 2011

Pesan Nyata (008)

Chapter 008


            “Fan, fan, fan, bangun, udah pagi nih, sarapan yuk !”, seru ayu sambil membangunkan tidurku.
            “Hmmm, iya iyaa”, balasku sambil mencoba membuka mata.
            “Ayo saraapan dulu yuk !”, ajak dia tersenyum kepadaku.
            “Iya iya yu”, balasku tersenyum padanya.
            Akupun bangun sambil mengucek mata dan berjalan mengikuti Ayu kemeja makan.
            “Fan, mending lo cuci muka dulu gih, ga enak banget sarapan tapi lo nya masih kaya orang ngantuk, hahaha”, ucapnya sambil mengambilkan aku piring.
            “Hahahaha, iya iya yu”, sahutku sambil tertawa.
            Akupun segera kekamar mandi untuk mencuci muka dan aku mencoba membuka surat yang kemarin. Entah mengapa semua tulisannya muncul kembali dan menceritakan tentang sebuah kecelakaan truk dimana supir truknya meninggal dirumah sakit karena pendarahan. Supir truk terebut tidak teridentifikasi tentang keluarganya. Sehingga tidak tahu mau dikubur dimana. Kemungkinan akan dilakukan otopsi terhadap mayatnya. Kurang lebih begitulah gambaran isi surat tersebut dan berisikan juga tempat kejadian dan dimana rumah sakit supir itu dibawa, namun tidak keterangan waktu yang jelas kapan terjadinya peristiwa tersebut.
            Seselesainya aku membaca dan mencuci muka akupun kembali keruang makan untuk sarapan bersama Ayu. 
            “Lama amat lo fan ? ngapain aja ?”, tanyanya penasaran.
            “Urusan pria”, jawabku singkat .
            Kamipun akhirnya sarapan bersama sambil bercerita-cerita tentang kuliah kami masing-masing. Baru aku ketahui ternyata aku dan dia masuk kuliah pada tahun yang sama. Tidak aku lupa menanyakan tentang kabar ayahnya yang kemarin sempat terluka karena pencurian mobil. Akupun juga sempat bertanya ada masalah apa ayahnya sampai harus jauh pergi ke Serpong. Namun Ayu mengalihkan pembicarannya seperti ada yang disembunyikan. Ketika aku tanya ayahnya kerja dimana, dia hanya menjawab ayahnya membuka beberapa restoran di beberapa food court mall di Jakarta namun tidak sampai ke luar Jakarta.
            Setelah selesai sarapan akupun miminta izin untuk mandi dan meminta Ayu meminjami aku handuk. Karena aku melihat jam dinding yang menunjukan pukul 8.00 dan aku harus ke kampus untuk mengambil jadwal kuliah yang telah ditetapkan pihak kampusku pada pukul 10.00. Setelah Ayu memberikan handuk kepadaku akupun bergegas mandi.
            Selama aku mandi, aku memikirkan kemana aku harus menuju terlebih dahulu. Apakah aku harus ke kampus atau menyelamatkan supir truk itu terlebih dahulu. Apalagi jaraknya yang cukup jauh antara kampus aku dengan tempat kecelakaan itu terjadi. Akupun lalu mengguyur kepalaku. Biarkan semua terjadi mengalir seperti air saja menurut aku kali ini.
            Setelah selesai aku mandi dan berpakaian, aku berjalan keluar kamar mandi dan mendengar suara ribut. Aku yang hanya seorang tamu berusaha untuk tidak mendengarkan, namun yang aku dengar itu seperti suaranya Ayu dan Ayahnya. Tiba-tiba ada suara bantingan pintu dan Ayu keluar dari pintu itu dengan wajah kesal dan berjalan cepat sekali ke arah ku sambil memakai jaketnya.
            “Lo mau ikut gue atau lo nanti balik sama bokap gue yang brengsek itu ?!” , tanya dia dengan nada yang cukup membentak.
            “Hah ? ”, aku hanya bisa terdiam.
            Ayu langsung jalan lagi keluar rumah.
            “Tunggu-tunggu yu !”, sahutku sambil langsung menaruh handuk dan mengambil tasku.
            “Waaaah bangke, gue lupa kalo motor gue disita polisi”, ketus Ayu.
            “Nah itu maksud gua yu, kita mau naik apa ?”, sahut ku sambil menghampirinya.
            “Tau lah fan, cabut aja yu”, ucapnya dengan gayanya yang tomboy.
“Ga pamitan dulu yu ?”, tanyaku.
“Udah ga usah, ga pantes”, jawabnya sambil berjalan keluar rumah.
Akupun berjalan mengikuti Ayu. Sambil berjalan akupun sempatkan diri untuk bertanya.
“Sebenernya ada apa sih Yu ? Kok keliatannya lo benci banget sama ayah lo ? ”, tanyaku penasaran.
“Lo ga usah bahas deh fan, dan ga usah ikut campur urusan gua, ngerti !”, jawabnya kesal.
“Yaudah, yaudah, terus sekarang kita mau kemana ?”, tanyaku baik.
“Tau ah fan !”, balasnya.
“Ikut gua aja ya, ke pinggir tol situ deket jembatan layang situ”, ucapku.
“Yaudah ayoo, kayaknya tempat yang pas juga buat bunuh diri !”, balasnya.
“Woi, apaan dah ngomong kaya gitu !”, seruku.
“Lah, Bodo Amat !”, balasnya singkat.
Akupun tak membalas ucapannya, karena aku tahu dia sedang sangat kesal, kalo aku tetap berbicara sepertinya hanya akan membuatnya semakin kesal saja, aku hanya bisa mengajaknya ke pinggir tol itu. Mengapa aku memilih pinggir tol sebagai tujuan kami berjalan, karena disanalah tempat terjadinya kecelakaan yang disebutkan oleh surat tersebut. Tepatnya di jalan layang penghubung antara tol dalam kota dengan tol Kebun Jeruk yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahnya Ayu.         
Sesampainya di tempat yang dimaksud surat, akupun melihat keadaan sekitar yang cukup padat. Aku melihat kondisi lalu lintas di jalan layang tersebut sedang macet dan aku merasa jika macet, mana mungkin terjadi kecelakaan. Akupun memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan bersama Ayu.
“Fan, sebenernya kita ngapain sih kesini ?”, tanya Ayu.
“Gua, juga ga tau yu, kita liat aja apa yang bakalan terjadi nanti ”, jawabku.
“Gue paling ga suka nih, jalan ga ada tujuannya gini mau ngapain ”, balasnya.
“Percaya sama gua, gua punya alesan tersendiri ngajak lo kesini ”, ucapku.
“Udah yuk ah cabut !”, seru Ayu.
“Praaaaaank”, tiba-tiba terdengar suara pecah.
“Tuh kan yu, gua bilang juga apa ? ayo kita cek ”, ajakku.
“Fan, ngapain sih, udah dari sini aja ”, ucap Ayu.
Tanpa peduli ucapan Ayu, akupun berlari menyeberang jalan dan memasuki tol, mendekati lokasi kejadian. Kejadiannya cukup parah, dimana ada sebuah truk yang mengangkut tiang pancang beton, mundur di jembatan laying tersebut dan menabrak truk yang di belakangnya. Tiang pancang beton itupun lepas dari ikatannya dan menembus kaca truk supir yang ada di belakangnya. Supir tersebut tertusuk atau terhimpit antara tiang pancang dan kursi supir.
Aku lemas melihat kejadian itu, dimana supir tersebut menjerit minta tolong dan orang-orang sedang berusaha mengeluarkan dia dari truk tersebut. Akhirnya kuberanikan diri untuk membantu bapak supir tersebut. Aku mendekatinya masuk kedalam truk dan memegang tangannya. Namun tiba-tiba supir tersebut berhenti menjerit dan mencoba berbicara kepadaku.
“Nak, mau engga kamu tolongin bapak ?”, ucap supir tersebut pelan.
“Iya pak, ini saya lagi nolongin bapak”, balasku panik.
Tiba-tiba bapak supir tersebut menggemgam tanganku erat.
“Sampaikan ini kepada anak saya, Ayah pulang menemui ibumu”, ucapnya sambil memberi aku sebuah foto didalam liontin dalam genggamannya.
Lalu mulai terdengar suara ambulan datang dan beberapa mobil polisi serta derek mobil. Truk yang tadi menabrak mulai perlahan-lahan maju bermaksud agar betonnya bisa ditarik lagi. Ketika tiang beton itu tertarik sedikit kamipun yang menolong langsung menarik sang supir dari kursinya dan membawanya segera menuju ambulans. Supir tersebut tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Sehingga aku terpaksa ikut kedalam ambulans. Akupun memanggil Ayu untuk ikut denganku.
“Yu, sini ikut gua !”, ajakku.
“Hah ngapain ?”, tanyanya.
“Udah cepet naik, nanti gua jelasinnya”, jawabku.
Ayupun berlari kearah ambulans dan menaikinya.
“Ngapain sih fan, gila kali ya lo ?”, tanyanya panik.
“Ini tangan gua, ga dilepasin sama si korban, kayaknya dia butuh gua banget”, jawabku coba menjelaskan.
“Hah, itu darah fan, astaga gue ga kuat ngeliatnya !” ucapnya ketakutan, lalu memejamkan matanya di pundakku.
“Yah, dia takut, lo kalo balapan bisa kaya gitu tuh yu, gua kasih tau aja, kalo lo ga mau kaya gitu jangan balapan dah”, jawabku.
“Iya, iya”, balasnya sambil ketakutan di pundakku.
Tiba-tiba supir tersebut menghentikan genggamannya ke tanganku. Akupun menanyakan keadaan dia kepada petugas ambulans tersebut. Petugas itu berkata bahawa nyawa supir tersebut sudah tidak bisa diselamatkan. Itu semua dikarenakan luka yang terlalu parah pada dadanya.
Belum sempat aku menanyakan foto siapa dan ada dimana orang yang ada di liontin yang diberikannya kepadaku. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Akupun mencoba memperhatikan lagi dengan seksama. Ternyata satu orang wanita, dan satu orang pria. Aku menebak bahwa mereka anak dari bapak supir tersebut. Aku memperhatikan lagi wajahnya dengan seksama. Ada tahi lalat di dagunya anak wanita supir tersebut. Aku mencoba mengingat dan mengingat tentang siapa anak ini, aku sepertinya pernah tau.
Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa Aci memiliki tahi lalat di dagunya. Aku coba mengambil kartu identitas dari supir tersebut dari dompetnya dan setelah aku baca namanya, aku coba menelpon Aci apakah nama ayahnya cocok dengan nama di kartu identitas tersebut.
Setelah aku bertanya pada Aci, ternyata benar, akupun menyuruh dia untuk segera datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tempat ambulan ini membawa mayat ayahnya. Badanku merinding dan merasa berdosa sekali. Aku telah membiarkan 2 orang anak kehilangan kedua orang tuanya. Pertama ibunya dan sekarang ayahnya. Hati dan sekujur badan aku lemas dan bergetar.
“Fan, lo kenapa ?”, tanya Ayu bangun dari pundakku.
“Engga, apa-apa yu, gua cuman ngerasa gua kaya ngebunuh ini supir”, jawabku.
“Bukan fan, bukan salah lo kok fan. Emang semuanya udah takdir”, balasnya.
“Iya yu !”, ucapku.
“Fan, tiba-tiba gue pengen pulang fan, gue takut, bukan karna supir ini berdarah-darah fan, tapi gue takut kejadian sama bapak gue fan dan gue ga bisa liat dia untuk terakhir kalinya, gue mau minta maaf sama bapak gue”, ucap Ayu.
“Yaudah yu, cuman gua masih harus anter ini supir ke rumah sakit, lo pulang sendiri bisa kan ?”, tanyaku.
“Yaudah fan, gue nanti naik taksi aja dari rumah sakit”, jawabnya.
Sesampainya di rumah sakit, Ayu segera mencari taksi dan pulang kerumahnya dan aku masih mencoba menghubungi Aci untuk menanyakan keberadannya.

Bersambung..

Minggu, 24 April 2011

Sisi Romantis Sang Ibu

"Doa Ibu"
Oleh : Imas Rubiyani

Anakku, belahan jiwaku…..
Waktu berlalu tanpa pernah kita sadari
Namun pelukan sayang ibu tak pernah kehilangan arti
Dekapan hangat ibu juga selalu menyertai
Doa tulus ibu melekat erat dalam ayunan langkah merajut mimpi
Anakku, jendela sanubariku…..
Perjuangan itu kini sudah dihadapan
Saatnya menjalani hidup dengan penuh kemandirian
Hadapi tantangan dengan senyuman
Sapa setiap kesulitan dengan keikhlasan
Raih bintang dengan penuh harapan
Anakku, lentera hidupku…..
Hidup ini tidak terlalu mudah dijalani
Ada kesulitan yang akan memperkaya hati
Tapi…..
Jadilah pemenang layaknya juara sejati
Dengan rendah hati dan luhur budi
Bertabur kasih bersulam pekerti
Anakku, bintang harapanku…..
Ayunkan langkah dengan ringan hati
Gapai setiap mimpi yang ada di sanubari
Bentangkan asa agar menjadi nyata
Ya Allah…ya rahman ya rohim., ijinkan aku memohon…
Lindungi anakku dalam teduh karunia-Mu
Bimbing anakku di setiap persimpangan yang membuatnya bimbang
Beri kemuliaan budi agar membuatnya berarti
Teteskan kebesaran jiwa agar membuatnya bermakna
Sentuh hatinya dengan semangat tulus untuk berbagi
Tanamkan keyakinan terhadap kebaikan
Penuhi tekadnya dengan kerja keras dan pantang menyerah
Teguhkan pribadinya agar tidak mudah goyah
Ya Allah…
Terima kasih untuk karunia terindah ini
Terima kasih untuk anugerah tidak ternilai ini

Buat Anakku Irfan
Selamat Ulang Tahun ya Nak,
semoga kakak  selalu sehat, bahagia dan diberi kemudahan
untuk meraih semua yang Kakak cita-citakan. Amin.
Peluk Cium dari Ibu, Bapak, Nindy & Bagas

Senin, 18 April 2011

Pesan Nyata (007)

Chapter 007


            Pukul 20.00 WIB, Akhirnya acara OMB hari inipun selesai. Akupun diberi kesempatan untuk mengambil tasku. Akupun langsung bergegas mengambil tasku dan membaca isi surat yang aku terima hari ini. Aku baca perlahan-lahan namun tetap saja aku tidak bisa konsentrasi karena aku merasa sudah lelah dengan acara hari ini. Setelah beberapa kali aku baca aku mendapatkan point-point pentingnya. Akan ada kecelakan karena kejar-kejaran sama polisi di daerah Alam Sutera. Akupun bergegas bersiap dan mencari ojeg di depan kampus, karena jam segini sudah tidak ada angkutan umum yang lewat depan kampus aku.
            “Bang ojeg bang”, seru aku kepada tukang ojeg.
            “Oke bos, kemana ?”, tanya tukang ojeg.
            “Alam sutera bang, berapaan bang kesana ?” balasku.
            “Biasanya berapa ?”, tukang ojeg bertanya balik.
            “Wah, saya ga pernah naik ojeg kesana bang”, sahutku.
            “15.000 yaah dek ?”, tanya tukang ojeg.
            “Oke deh bang”, balasku sambil naik ke motornya tukang ojeg tersebut.
            Aku dan tukang ojegpun bergerak menuju kearah Alam Sutera. Sampai di depan suatu restoran fast-food akupun meminta ojeg untuk menepi. Segera ku bayar tukang ojeg tersebut. Lalu aku telusuri daerah alam sutera dengan berjalan kaki, tetapi aku tidak melihat adanya tanda-tanda bakal terjadi kecelakaan. Lalu lintas tampak terkendali dan cukup sepi. Akupun membuka surat itu lagi dan membacanya perlahan-lahan. Ternyata kejadian tersebut baru terjadi pukul 22.15 dan aku langsung melirik ke arah jam tanganku yang ternyata baru menunjukan pukul 20.45. Aku masih harus menunggu satu setengah jam lagi. Akhirnya akupun memutuskan untuk makan dulu yang kebetulan tidak begitu jauh dari aku ada tukang nasi goreng.  Aku hampiri dan akupun memesan serta makan di pinggir jalan sambil mengawasi lalu lintas sekitar.
            Suap demi suap nasi aku campur dengan rasa khawatir. Tak dapat aku makan dengan tenang.
            “Dek, makannya santai aja, saya ga akan kemana-mana kok”, ucap tukang nasi goreng.
            “Eh, iyaa bang, hehehe”, jawab ku sambil tertawa kecil.
            “Nih minumnya, hati-hati keselek”, balas tukang nasi goreng.
            “Makasih makasih bang”, balasku.
            “Mau nonton balapan ya mas ?”, tanya abang tukang nasi goring.
            “Engga bang, emang biasanya ada balapan apa bang ?”, tanyaku balik.
            “Biasanya nanti jam 10 keatas rame disini pada balapan liar, balapan motor dek, seru”, sahutnya sambil mengelap piring.
            “Oh gituu, saya baru tau bang, saya termasuk orang baru tangerang bang, orang baru seminggu saya tinggal disini”, balasku.
            “Oh pantes”, jawabnya singkat.
            Akupun langsung menikmati nasi gorengku lagi sambil berpikir apakah mungkin kecelakaan tersebut karena balapan ini. Suap demi suap aku nikmati, hingga pada beberapa suap terakhir. Tiba-tiba segerombolan motor lewat di depan hadapanku. Aku mencoba melihat satu persatu motor-motor tersebut. Mataku tertuju pada sebuah motor gede buatan Jepang berwarna merah. Lalu akupun berusaha mengikuti kemana mereka pergi dan tanpa lupa aku langsung membayar nasi goreng. Untung saja tempat mereka berhenti tidak terlalu jauh sehingga aku tidak perlu lari-lari mengejarnya.
            Akupun memperhatikan pengendara motor merah tersebut. Ketika dia membuka helmnya dan ternyata itu Ayu. Aku membuka surat lagi, dan setelah aku perhatikan salah satu korbannya adalah Malika Ayu yang alamat rumahnya sama seperti Ayu yang aku kenal kemarin. Entah aku yang kelelahan atau kurang konsentrasi aku tidak bisa memahami isi surat ini dengan sekali baca.
            Akupun mencoba mendekati motornya Ayu. Setelah dekat akupun mengajaknya untuk pulang.
            “Malika Ayu !”, teriakku didepan motor merah karena berisik suara motor.
            “Elo ?”, menengok sambil keheranan.
            “Iya gue, Irfan yang kemaren lo anter sampe depan situ”, balasku.
            “Oh, ngapain lo kesini ?mana motor lo ?”, tanyanya angkuh.
            “Gue bukan mau balapan yu, gue mau ajak lo pulang kerumah udah malem”, ajakku.
            “Eh, siapa elo ya ? berani banget nyuruh gue balik, bokap gue aja ga segitunya”, balasnya ketus.
            “Gue cuman pengen kasih tau ke lo, kalo nanti bakalan terjadi sesuatu yang buruk kalo lo ga cepet pulang”, balasku halus.
            “Ogah, gue mau balapan !”, jawabnya.
            Melihat ayu yang keras kepala, akupun memutuskan untuk mengempiskan ban motornya. Aku langsung mengambil kunci motornya yang terpasang di motornya serta menunduk dan membuka pentil motornya ayu dan mengempiskan bannya. Lalu tiba-tiba badanku terpental karena ditendang oleh seorang laki-laki. Akupun mengerang kesakitan. Aku melihat tampangnya Ayu dan laki-laki tersebut seakan berkata “Rasain lo!”. Badan akupun diangkat oleh teman-temannya Ayu dan tangan aku di pegang erat-erat oleh mereka sehingga membuat tanganku tak bisa bergerak. Laki-laki itupun akhirnya memukul aku pada bagian wajah. Akupun kesakitan tak berdaya. Lalu laki-laki itu bersiap ingin menendangku. Sebelum dia menendang terdengar suara sirine polisi. Merekapun langsung berlarian kearah motornya masing-masing. Aku langsung dilepaskan dan dibiarkan jatuh ke tanah. Ayupun panik mencari kuncinya dikantong celanaku. Setelah dia dapatkan kuncinya akupun langsung menarik tangannya dengan erat agar dia tidak bisa pergi. Karena jika dia pergi habislah sudah nyawanya karena kecelakaan kejar-kejaran dengan polisi.
            Akhirnya semua diakhiri dengan polisi mendatangi aku dan Ayu. Tanpa banyak bertanya polisi membawa kami ke mobilnya. Hanya bilang kepada kami bahwa nanti saja jika ingin memberi penjelasan, di kantor polisi.
            Sesampainya di kantor polisi, saya dan Ayu langsung dimasukan ke ruang tahanan untuk menunggu pemberian penjelasan. Saya sambil menahan sakit pada wajah dan pinggang saya karna dipukul dan ditendang lelaki tak dikenal tadi. Ayupun tampak diam dan sedikit memasang wajah kesal kepadaku. Beberapa saat kemudian datang beberapa polisi membawa aku keruang pemeriksaan. Tanpa aku sangka sebelumnya, ternyata Doni yang memeriksa aku. Betapa bersyukurnya aku saat itu. Aku semakin percaya, perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan juga. Itupun terbukti saat aku menjelaskan semua kronologis kejadian yang sebenarnya dan Doni percaya padaku bahwa aku dan Ayu tidak bersalah dan membebaskan kami berdua, namun motornya Ayu disita sementara sebagai jaminannya. Doni bilang itu sebagai tanda balas jasa aku ketika membantu mengatasi perampokannya dirumahnya waktu itu.
            Akupun mengajak Ayu pulang yang masih ada di dalam ruang tahanan. Dia seakan tidak percaya bahwa dia dan aku dibebaskan sebegitu mudahnya. Namun dia tetap saja masih kesal kepadaku karena motornya disita polisi. Akupun mengatakan bahwa kalau ayu berhenti balapan maka motor dalam jangka waktu tertentu akan dikembalikan.
            Karena waktu udah cukup larut, aku memutuskan untuk mengantar Ayu pulang namun Ayu masih saja diam kepadaku. Tiba-tiba ada mobil buatan eropa lewat dihadapanku.
            “Irfan, mau gua anter pulang ga ? sekalian gua juga mau pulang”, tanya Doni kepadaku sambil membuka kacanya.
            “Tapi gua mau anter temen gua dulu Don”, jawabku.
            “Oh, yaudah biar gua anter aja sekalian emang rumahnya dimana ?”, tanyanya balik.
            “Di kebun jeruk Don, gak apa-apa nih ?”, tanyaku.
            “Yaudah, gak apa-apa, ada jalan belakangnya kok dari ciledug ke kebun jeruk jadi engga begitu jauh”, jawabnya.
            “Okeeeh”, jawabku sambil jalan mendekati ke mobilnya Doni.
            Namun ayu masih saja berdiri dipinggir jalan dan seperti acuh.
            “Yu, kata doni disini sering terjadi kenampakan yu”, ucapku kepada ayu.
            Ayupun langsung masuk kedalam mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ternyata dia takut juga dengan hal yang seperti itu. Akupun berusaha menahan tawaku. Tidak beberapa lama perjalanan aku setengah sadar, antara tidur dengan bangun. Mataku tertutup, namun telingaku masih mendengar. Aku mendengar beberapa kali Doni coba menggoda Ayu. Namun Ayu tetap masih kaku, belum bisa tersenyum sedikitpun hanya memberi arah jalan kerumahnya.  
             Sesampainya dirumah Ayu, Ayupun mencoba membangunkan aku.
            “Fan, fan, mending tidur dirumah gue aja yuk”, sapanya.
            “Hmmmm, hah ?”, jawabku dengan mata yang masih sayup dan setengah sadar.
            “Iya nginep dirumah gue aja, kasian juga si Doni kalo harus balik ke Serpong lagi”, balas Ayu.
            “Oh gitu, yaudah deh yaudah”, jawabku.
            “Don, gue nginep disini aja deh, lo langsung balik aja keruma, makasih banyak ya Don”, ucapku kepada Doni.
            “Iya ga pa apa fan, itung-itung balas budi jagain Aldi”, sahutnya.
            Akupun dan Ayu turun dari mobil dan langsung masuk rumah, untungnya si Ayu membawa kunci rumah, Doni juga langsung menancap gas mobilnya lagi.
            “Fan, tunggu disiti sebentar ya”, sambil menunjuk sofa ruang tamu.
            “Iya, iya yu, gampang”, sahutku keheranan.
            Aku heran mengapa Ayu yang tadinya super jutek bisa jadi sebaik ini. Tak beberapa lama kemudian Ayupun datang lagi menghampiriku dengan memberikan beberapa bantal dan selimut.
            “Lo tidur di sofa aja ga pa apa kan fan ?”, tanya Ayu.
            “Engga apa apa Yu, santai aja”, jawabku.
            “Kalo masih kedinginan masuk aja kekamar gue ya”, ucapnya.
            “Hah ? ngapain ?”, tanyaku kaget.
            “Ambil selimut lagi ! udah malem jangan cari gara-gara !”, sahutnya.
            “Ohh, iya iya, ini udah cukup kok”, balasku.
            “Yaudah, gue tidur dulu ya fan”, ucapnya.
            “Yo, sama-sama Yu”, balasku.
            Akupun mempersiapkan diri untuk tidur. Namun aku masih saja tidak bisa tidur, karena memikirkan surat untuk hari esok akankah datang kepada aku atau tidak. Karena secara aku berada ditempat yang berbeda. Aku rogoh kantongku, dan buka surat yang untuk hari ini, semua tulisan sudah lenyap, namun ada satu huruf 'A' di atas kiri surat tersebut. Tanpa peduli artinya apa, akupun akhirnya tidur dengan sendirinya.


            Bersambung…