Pages

Labels

Jumat, 01 Juli 2011

Pesan Nyata (008)

Chapter 008


            “Fan, fan, fan, bangun, udah pagi nih, sarapan yuk !”, seru ayu sambil membangunkan tidurku.
            “Hmmm, iya iyaa”, balasku sambil mencoba membuka mata.
            “Ayo saraapan dulu yuk !”, ajak dia tersenyum kepadaku.
            “Iya iya yu”, balasku tersenyum padanya.
            Akupun bangun sambil mengucek mata dan berjalan mengikuti Ayu kemeja makan.
            “Fan, mending lo cuci muka dulu gih, ga enak banget sarapan tapi lo nya masih kaya orang ngantuk, hahaha”, ucapnya sambil mengambilkan aku piring.
            “Hahahaha, iya iya yu”, sahutku sambil tertawa.
            Akupun segera kekamar mandi untuk mencuci muka dan aku mencoba membuka surat yang kemarin. Entah mengapa semua tulisannya muncul kembali dan menceritakan tentang sebuah kecelakaan truk dimana supir truknya meninggal dirumah sakit karena pendarahan. Supir truk terebut tidak teridentifikasi tentang keluarganya. Sehingga tidak tahu mau dikubur dimana. Kemungkinan akan dilakukan otopsi terhadap mayatnya. Kurang lebih begitulah gambaran isi surat tersebut dan berisikan juga tempat kejadian dan dimana rumah sakit supir itu dibawa, namun tidak keterangan waktu yang jelas kapan terjadinya peristiwa tersebut.
            Seselesainya aku membaca dan mencuci muka akupun kembali keruang makan untuk sarapan bersama Ayu. 
            “Lama amat lo fan ? ngapain aja ?”, tanyanya penasaran.
            “Urusan pria”, jawabku singkat .
            Kamipun akhirnya sarapan bersama sambil bercerita-cerita tentang kuliah kami masing-masing. Baru aku ketahui ternyata aku dan dia masuk kuliah pada tahun yang sama. Tidak aku lupa menanyakan tentang kabar ayahnya yang kemarin sempat terluka karena pencurian mobil. Akupun juga sempat bertanya ada masalah apa ayahnya sampai harus jauh pergi ke Serpong. Namun Ayu mengalihkan pembicarannya seperti ada yang disembunyikan. Ketika aku tanya ayahnya kerja dimana, dia hanya menjawab ayahnya membuka beberapa restoran di beberapa food court mall di Jakarta namun tidak sampai ke luar Jakarta.
            Setelah selesai sarapan akupun miminta izin untuk mandi dan meminta Ayu meminjami aku handuk. Karena aku melihat jam dinding yang menunjukan pukul 8.00 dan aku harus ke kampus untuk mengambil jadwal kuliah yang telah ditetapkan pihak kampusku pada pukul 10.00. Setelah Ayu memberikan handuk kepadaku akupun bergegas mandi.
            Selama aku mandi, aku memikirkan kemana aku harus menuju terlebih dahulu. Apakah aku harus ke kampus atau menyelamatkan supir truk itu terlebih dahulu. Apalagi jaraknya yang cukup jauh antara kampus aku dengan tempat kecelakaan itu terjadi. Akupun lalu mengguyur kepalaku. Biarkan semua terjadi mengalir seperti air saja menurut aku kali ini.
            Setelah selesai aku mandi dan berpakaian, aku berjalan keluar kamar mandi dan mendengar suara ribut. Aku yang hanya seorang tamu berusaha untuk tidak mendengarkan, namun yang aku dengar itu seperti suaranya Ayu dan Ayahnya. Tiba-tiba ada suara bantingan pintu dan Ayu keluar dari pintu itu dengan wajah kesal dan berjalan cepat sekali ke arah ku sambil memakai jaketnya.
            “Lo mau ikut gue atau lo nanti balik sama bokap gue yang brengsek itu ?!” , tanya dia dengan nada yang cukup membentak.
            “Hah ? ”, aku hanya bisa terdiam.
            Ayu langsung jalan lagi keluar rumah.
            “Tunggu-tunggu yu !”, sahutku sambil langsung menaruh handuk dan mengambil tasku.
            “Waaaah bangke, gue lupa kalo motor gue disita polisi”, ketus Ayu.
            “Nah itu maksud gua yu, kita mau naik apa ?”, sahut ku sambil menghampirinya.
            “Tau lah fan, cabut aja yu”, ucapnya dengan gayanya yang tomboy.
“Ga pamitan dulu yu ?”, tanyaku.
“Udah ga usah, ga pantes”, jawabnya sambil berjalan keluar rumah.
Akupun berjalan mengikuti Ayu. Sambil berjalan akupun sempatkan diri untuk bertanya.
“Sebenernya ada apa sih Yu ? Kok keliatannya lo benci banget sama ayah lo ? ”, tanyaku penasaran.
“Lo ga usah bahas deh fan, dan ga usah ikut campur urusan gua, ngerti !”, jawabnya kesal.
“Yaudah, yaudah, terus sekarang kita mau kemana ?”, tanyaku baik.
“Tau ah fan !”, balasnya.
“Ikut gua aja ya, ke pinggir tol situ deket jembatan layang situ”, ucapku.
“Yaudah ayoo, kayaknya tempat yang pas juga buat bunuh diri !”, balasnya.
“Woi, apaan dah ngomong kaya gitu !”, seruku.
“Lah, Bodo Amat !”, balasnya singkat.
Akupun tak membalas ucapannya, karena aku tahu dia sedang sangat kesal, kalo aku tetap berbicara sepertinya hanya akan membuatnya semakin kesal saja, aku hanya bisa mengajaknya ke pinggir tol itu. Mengapa aku memilih pinggir tol sebagai tujuan kami berjalan, karena disanalah tempat terjadinya kecelakaan yang disebutkan oleh surat tersebut. Tepatnya di jalan layang penghubung antara tol dalam kota dengan tol Kebun Jeruk yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahnya Ayu.         
Sesampainya di tempat yang dimaksud surat, akupun melihat keadaan sekitar yang cukup padat. Aku melihat kondisi lalu lintas di jalan layang tersebut sedang macet dan aku merasa jika macet, mana mungkin terjadi kecelakaan. Akupun memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan bersama Ayu.
“Fan, sebenernya kita ngapain sih kesini ?”, tanya Ayu.
“Gua, juga ga tau yu, kita liat aja apa yang bakalan terjadi nanti ”, jawabku.
“Gue paling ga suka nih, jalan ga ada tujuannya gini mau ngapain ”, balasnya.
“Percaya sama gua, gua punya alesan tersendiri ngajak lo kesini ”, ucapku.
“Udah yuk ah cabut !”, seru Ayu.
“Praaaaaank”, tiba-tiba terdengar suara pecah.
“Tuh kan yu, gua bilang juga apa ? ayo kita cek ”, ajakku.
“Fan, ngapain sih, udah dari sini aja ”, ucap Ayu.
Tanpa peduli ucapan Ayu, akupun berlari menyeberang jalan dan memasuki tol, mendekati lokasi kejadian. Kejadiannya cukup parah, dimana ada sebuah truk yang mengangkut tiang pancang beton, mundur di jembatan laying tersebut dan menabrak truk yang di belakangnya. Tiang pancang beton itupun lepas dari ikatannya dan menembus kaca truk supir yang ada di belakangnya. Supir tersebut tertusuk atau terhimpit antara tiang pancang dan kursi supir.
Aku lemas melihat kejadian itu, dimana supir tersebut menjerit minta tolong dan orang-orang sedang berusaha mengeluarkan dia dari truk tersebut. Akhirnya kuberanikan diri untuk membantu bapak supir tersebut. Aku mendekatinya masuk kedalam truk dan memegang tangannya. Namun tiba-tiba supir tersebut berhenti menjerit dan mencoba berbicara kepadaku.
“Nak, mau engga kamu tolongin bapak ?”, ucap supir tersebut pelan.
“Iya pak, ini saya lagi nolongin bapak”, balasku panik.
Tiba-tiba bapak supir tersebut menggemgam tanganku erat.
“Sampaikan ini kepada anak saya, Ayah pulang menemui ibumu”, ucapnya sambil memberi aku sebuah foto didalam liontin dalam genggamannya.
Lalu mulai terdengar suara ambulan datang dan beberapa mobil polisi serta derek mobil. Truk yang tadi menabrak mulai perlahan-lahan maju bermaksud agar betonnya bisa ditarik lagi. Ketika tiang beton itu tertarik sedikit kamipun yang menolong langsung menarik sang supir dari kursinya dan membawanya segera menuju ambulans. Supir tersebut tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Sehingga aku terpaksa ikut kedalam ambulans. Akupun memanggil Ayu untuk ikut denganku.
“Yu, sini ikut gua !”, ajakku.
“Hah ngapain ?”, tanyanya.
“Udah cepet naik, nanti gua jelasinnya”, jawabku.
Ayupun berlari kearah ambulans dan menaikinya.
“Ngapain sih fan, gila kali ya lo ?”, tanyanya panik.
“Ini tangan gua, ga dilepasin sama si korban, kayaknya dia butuh gua banget”, jawabku coba menjelaskan.
“Hah, itu darah fan, astaga gue ga kuat ngeliatnya !” ucapnya ketakutan, lalu memejamkan matanya di pundakku.
“Yah, dia takut, lo kalo balapan bisa kaya gitu tuh yu, gua kasih tau aja, kalo lo ga mau kaya gitu jangan balapan dah”, jawabku.
“Iya, iya”, balasnya sambil ketakutan di pundakku.
Tiba-tiba supir tersebut menghentikan genggamannya ke tanganku. Akupun menanyakan keadaan dia kepada petugas ambulans tersebut. Petugas itu berkata bahawa nyawa supir tersebut sudah tidak bisa diselamatkan. Itu semua dikarenakan luka yang terlalu parah pada dadanya.
Belum sempat aku menanyakan foto siapa dan ada dimana orang yang ada di liontin yang diberikannya kepadaku. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Akupun mencoba memperhatikan lagi dengan seksama. Ternyata satu orang wanita, dan satu orang pria. Aku menebak bahwa mereka anak dari bapak supir tersebut. Aku memperhatikan lagi wajahnya dengan seksama. Ada tahi lalat di dagunya anak wanita supir tersebut. Aku mencoba mengingat dan mengingat tentang siapa anak ini, aku sepertinya pernah tau.
Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa Aci memiliki tahi lalat di dagunya. Aku coba mengambil kartu identitas dari supir tersebut dari dompetnya dan setelah aku baca namanya, aku coba menelpon Aci apakah nama ayahnya cocok dengan nama di kartu identitas tersebut.
Setelah aku bertanya pada Aci, ternyata benar, akupun menyuruh dia untuk segera datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tempat ambulan ini membawa mayat ayahnya. Badanku merinding dan merasa berdosa sekali. Aku telah membiarkan 2 orang anak kehilangan kedua orang tuanya. Pertama ibunya dan sekarang ayahnya. Hati dan sekujur badan aku lemas dan bergetar.
“Fan, lo kenapa ?”, tanya Ayu bangun dari pundakku.
“Engga, apa-apa yu, gua cuman ngerasa gua kaya ngebunuh ini supir”, jawabku.
“Bukan fan, bukan salah lo kok fan. Emang semuanya udah takdir”, balasnya.
“Iya yu !”, ucapku.
“Fan, tiba-tiba gue pengen pulang fan, gue takut, bukan karna supir ini berdarah-darah fan, tapi gue takut kejadian sama bapak gue fan dan gue ga bisa liat dia untuk terakhir kalinya, gue mau minta maaf sama bapak gue”, ucap Ayu.
“Yaudah yu, cuman gua masih harus anter ini supir ke rumah sakit, lo pulang sendiri bisa kan ?”, tanyaku.
“Yaudah fan, gue nanti naik taksi aja dari rumah sakit”, jawabnya.
Sesampainya di rumah sakit, Ayu segera mencari taksi dan pulang kerumahnya dan aku masih mencoba menghubungi Aci untuk menanyakan keberadannya.

Bersambung..

Minggu, 24 April 2011

Sisi Romantis Sang Ibu

"Doa Ibu"
Oleh : Imas Rubiyani

Anakku, belahan jiwaku…..
Waktu berlalu tanpa pernah kita sadari
Namun pelukan sayang ibu tak pernah kehilangan arti
Dekapan hangat ibu juga selalu menyertai
Doa tulus ibu melekat erat dalam ayunan langkah merajut mimpi
Anakku, jendela sanubariku…..
Perjuangan itu kini sudah dihadapan
Saatnya menjalani hidup dengan penuh kemandirian
Hadapi tantangan dengan senyuman
Sapa setiap kesulitan dengan keikhlasan
Raih bintang dengan penuh harapan
Anakku, lentera hidupku…..
Hidup ini tidak terlalu mudah dijalani
Ada kesulitan yang akan memperkaya hati
Tapi…..
Jadilah pemenang layaknya juara sejati
Dengan rendah hati dan luhur budi
Bertabur kasih bersulam pekerti
Anakku, bintang harapanku…..
Ayunkan langkah dengan ringan hati
Gapai setiap mimpi yang ada di sanubari
Bentangkan asa agar menjadi nyata
Ya Allah…ya rahman ya rohim., ijinkan aku memohon…
Lindungi anakku dalam teduh karunia-Mu
Bimbing anakku di setiap persimpangan yang membuatnya bimbang
Beri kemuliaan budi agar membuatnya berarti
Teteskan kebesaran jiwa agar membuatnya bermakna
Sentuh hatinya dengan semangat tulus untuk berbagi
Tanamkan keyakinan terhadap kebaikan
Penuhi tekadnya dengan kerja keras dan pantang menyerah
Teguhkan pribadinya agar tidak mudah goyah
Ya Allah…
Terima kasih untuk karunia terindah ini
Terima kasih untuk anugerah tidak ternilai ini

Buat Anakku Irfan
Selamat Ulang Tahun ya Nak,
semoga kakak  selalu sehat, bahagia dan diberi kemudahan
untuk meraih semua yang Kakak cita-citakan. Amin.
Peluk Cium dari Ibu, Bapak, Nindy & Bagas

Senin, 18 April 2011

Pesan Nyata (007)

Chapter 007


            Pukul 20.00 WIB, Akhirnya acara OMB hari inipun selesai. Akupun diberi kesempatan untuk mengambil tasku. Akupun langsung bergegas mengambil tasku dan membaca isi surat yang aku terima hari ini. Aku baca perlahan-lahan namun tetap saja aku tidak bisa konsentrasi karena aku merasa sudah lelah dengan acara hari ini. Setelah beberapa kali aku baca aku mendapatkan point-point pentingnya. Akan ada kecelakan karena kejar-kejaran sama polisi di daerah Alam Sutera. Akupun bergegas bersiap dan mencari ojeg di depan kampus, karena jam segini sudah tidak ada angkutan umum yang lewat depan kampus aku.
            “Bang ojeg bang”, seru aku kepada tukang ojeg.
            “Oke bos, kemana ?”, tanya tukang ojeg.
            “Alam sutera bang, berapaan bang kesana ?” balasku.
            “Biasanya berapa ?”, tukang ojeg bertanya balik.
            “Wah, saya ga pernah naik ojeg kesana bang”, sahutku.
            “15.000 yaah dek ?”, tanya tukang ojeg.
            “Oke deh bang”, balasku sambil naik ke motornya tukang ojeg tersebut.
            Aku dan tukang ojegpun bergerak menuju kearah Alam Sutera. Sampai di depan suatu restoran fast-food akupun meminta ojeg untuk menepi. Segera ku bayar tukang ojeg tersebut. Lalu aku telusuri daerah alam sutera dengan berjalan kaki, tetapi aku tidak melihat adanya tanda-tanda bakal terjadi kecelakaan. Lalu lintas tampak terkendali dan cukup sepi. Akupun membuka surat itu lagi dan membacanya perlahan-lahan. Ternyata kejadian tersebut baru terjadi pukul 22.15 dan aku langsung melirik ke arah jam tanganku yang ternyata baru menunjukan pukul 20.45. Aku masih harus menunggu satu setengah jam lagi. Akhirnya akupun memutuskan untuk makan dulu yang kebetulan tidak begitu jauh dari aku ada tukang nasi goreng.  Aku hampiri dan akupun memesan serta makan di pinggir jalan sambil mengawasi lalu lintas sekitar.
            Suap demi suap nasi aku campur dengan rasa khawatir. Tak dapat aku makan dengan tenang.
            “Dek, makannya santai aja, saya ga akan kemana-mana kok”, ucap tukang nasi goreng.
            “Eh, iyaa bang, hehehe”, jawab ku sambil tertawa kecil.
            “Nih minumnya, hati-hati keselek”, balas tukang nasi goreng.
            “Makasih makasih bang”, balasku.
            “Mau nonton balapan ya mas ?”, tanya abang tukang nasi goring.
            “Engga bang, emang biasanya ada balapan apa bang ?”, tanyaku balik.
            “Biasanya nanti jam 10 keatas rame disini pada balapan liar, balapan motor dek, seru”, sahutnya sambil mengelap piring.
            “Oh gituu, saya baru tau bang, saya termasuk orang baru tangerang bang, orang baru seminggu saya tinggal disini”, balasku.
            “Oh pantes”, jawabnya singkat.
            Akupun langsung menikmati nasi gorengku lagi sambil berpikir apakah mungkin kecelakaan tersebut karena balapan ini. Suap demi suap aku nikmati, hingga pada beberapa suap terakhir. Tiba-tiba segerombolan motor lewat di depan hadapanku. Aku mencoba melihat satu persatu motor-motor tersebut. Mataku tertuju pada sebuah motor gede buatan Jepang berwarna merah. Lalu akupun berusaha mengikuti kemana mereka pergi dan tanpa lupa aku langsung membayar nasi goreng. Untung saja tempat mereka berhenti tidak terlalu jauh sehingga aku tidak perlu lari-lari mengejarnya.
            Akupun memperhatikan pengendara motor merah tersebut. Ketika dia membuka helmnya dan ternyata itu Ayu. Aku membuka surat lagi, dan setelah aku perhatikan salah satu korbannya adalah Malika Ayu yang alamat rumahnya sama seperti Ayu yang aku kenal kemarin. Entah aku yang kelelahan atau kurang konsentrasi aku tidak bisa memahami isi surat ini dengan sekali baca.
            Akupun mencoba mendekati motornya Ayu. Setelah dekat akupun mengajaknya untuk pulang.
            “Malika Ayu !”, teriakku didepan motor merah karena berisik suara motor.
            “Elo ?”, menengok sambil keheranan.
            “Iya gue, Irfan yang kemaren lo anter sampe depan situ”, balasku.
            “Oh, ngapain lo kesini ?mana motor lo ?”, tanyanya angkuh.
            “Gue bukan mau balapan yu, gue mau ajak lo pulang kerumah udah malem”, ajakku.
            “Eh, siapa elo ya ? berani banget nyuruh gue balik, bokap gue aja ga segitunya”, balasnya ketus.
            “Gue cuman pengen kasih tau ke lo, kalo nanti bakalan terjadi sesuatu yang buruk kalo lo ga cepet pulang”, balasku halus.
            “Ogah, gue mau balapan !”, jawabnya.
            Melihat ayu yang keras kepala, akupun memutuskan untuk mengempiskan ban motornya. Aku langsung mengambil kunci motornya yang terpasang di motornya serta menunduk dan membuka pentil motornya ayu dan mengempiskan bannya. Lalu tiba-tiba badanku terpental karena ditendang oleh seorang laki-laki. Akupun mengerang kesakitan. Aku melihat tampangnya Ayu dan laki-laki tersebut seakan berkata “Rasain lo!”. Badan akupun diangkat oleh teman-temannya Ayu dan tangan aku di pegang erat-erat oleh mereka sehingga membuat tanganku tak bisa bergerak. Laki-laki itupun akhirnya memukul aku pada bagian wajah. Akupun kesakitan tak berdaya. Lalu laki-laki itu bersiap ingin menendangku. Sebelum dia menendang terdengar suara sirine polisi. Merekapun langsung berlarian kearah motornya masing-masing. Aku langsung dilepaskan dan dibiarkan jatuh ke tanah. Ayupun panik mencari kuncinya dikantong celanaku. Setelah dia dapatkan kuncinya akupun langsung menarik tangannya dengan erat agar dia tidak bisa pergi. Karena jika dia pergi habislah sudah nyawanya karena kecelakaan kejar-kejaran dengan polisi.
            Akhirnya semua diakhiri dengan polisi mendatangi aku dan Ayu. Tanpa banyak bertanya polisi membawa kami ke mobilnya. Hanya bilang kepada kami bahwa nanti saja jika ingin memberi penjelasan, di kantor polisi.
            Sesampainya di kantor polisi, saya dan Ayu langsung dimasukan ke ruang tahanan untuk menunggu pemberian penjelasan. Saya sambil menahan sakit pada wajah dan pinggang saya karna dipukul dan ditendang lelaki tak dikenal tadi. Ayupun tampak diam dan sedikit memasang wajah kesal kepadaku. Beberapa saat kemudian datang beberapa polisi membawa aku keruang pemeriksaan. Tanpa aku sangka sebelumnya, ternyata Doni yang memeriksa aku. Betapa bersyukurnya aku saat itu. Aku semakin percaya, perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan juga. Itupun terbukti saat aku menjelaskan semua kronologis kejadian yang sebenarnya dan Doni percaya padaku bahwa aku dan Ayu tidak bersalah dan membebaskan kami berdua, namun motornya Ayu disita sementara sebagai jaminannya. Doni bilang itu sebagai tanda balas jasa aku ketika membantu mengatasi perampokannya dirumahnya waktu itu.
            Akupun mengajak Ayu pulang yang masih ada di dalam ruang tahanan. Dia seakan tidak percaya bahwa dia dan aku dibebaskan sebegitu mudahnya. Namun dia tetap saja masih kesal kepadaku karena motornya disita polisi. Akupun mengatakan bahwa kalau ayu berhenti balapan maka motor dalam jangka waktu tertentu akan dikembalikan.
            Karena waktu udah cukup larut, aku memutuskan untuk mengantar Ayu pulang namun Ayu masih saja diam kepadaku. Tiba-tiba ada mobil buatan eropa lewat dihadapanku.
            “Irfan, mau gua anter pulang ga ? sekalian gua juga mau pulang”, tanya Doni kepadaku sambil membuka kacanya.
            “Tapi gua mau anter temen gua dulu Don”, jawabku.
            “Oh, yaudah biar gua anter aja sekalian emang rumahnya dimana ?”, tanyanya balik.
            “Di kebun jeruk Don, gak apa-apa nih ?”, tanyaku.
            “Yaudah, gak apa-apa, ada jalan belakangnya kok dari ciledug ke kebun jeruk jadi engga begitu jauh”, jawabnya.
            “Okeeeh”, jawabku sambil jalan mendekati ke mobilnya Doni.
            Namun ayu masih saja berdiri dipinggir jalan dan seperti acuh.
            “Yu, kata doni disini sering terjadi kenampakan yu”, ucapku kepada ayu.
            Ayupun langsung masuk kedalam mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ternyata dia takut juga dengan hal yang seperti itu. Akupun berusaha menahan tawaku. Tidak beberapa lama perjalanan aku setengah sadar, antara tidur dengan bangun. Mataku tertutup, namun telingaku masih mendengar. Aku mendengar beberapa kali Doni coba menggoda Ayu. Namun Ayu tetap masih kaku, belum bisa tersenyum sedikitpun hanya memberi arah jalan kerumahnya.  
             Sesampainya dirumah Ayu, Ayupun mencoba membangunkan aku.
            “Fan, fan, mending tidur dirumah gue aja yuk”, sapanya.
            “Hmmmm, hah ?”, jawabku dengan mata yang masih sayup dan setengah sadar.
            “Iya nginep dirumah gue aja, kasian juga si Doni kalo harus balik ke Serpong lagi”, balas Ayu.
            “Oh gitu, yaudah deh yaudah”, jawabku.
            “Don, gue nginep disini aja deh, lo langsung balik aja keruma, makasih banyak ya Don”, ucapku kepada Doni.
            “Iya ga pa apa fan, itung-itung balas budi jagain Aldi”, sahutnya.
            Akupun dan Ayu turun dari mobil dan langsung masuk rumah, untungnya si Ayu membawa kunci rumah, Doni juga langsung menancap gas mobilnya lagi.
            “Fan, tunggu disiti sebentar ya”, sambil menunjuk sofa ruang tamu.
            “Iya, iya yu, gampang”, sahutku keheranan.
            Aku heran mengapa Ayu yang tadinya super jutek bisa jadi sebaik ini. Tak beberapa lama kemudian Ayupun datang lagi menghampiriku dengan memberikan beberapa bantal dan selimut.
            “Lo tidur di sofa aja ga pa apa kan fan ?”, tanya Ayu.
            “Engga apa apa Yu, santai aja”, jawabku.
            “Kalo masih kedinginan masuk aja kekamar gue ya”, ucapnya.
            “Hah ? ngapain ?”, tanyaku kaget.
            “Ambil selimut lagi ! udah malem jangan cari gara-gara !”, sahutnya.
            “Ohh, iya iya, ini udah cukup kok”, balasku.
            “Yaudah, gue tidur dulu ya fan”, ucapnya.
            “Yo, sama-sama Yu”, balasku.
            Akupun mempersiapkan diri untuk tidur. Namun aku masih saja tidak bisa tidur, karena memikirkan surat untuk hari esok akankah datang kepada aku atau tidak. Karena secara aku berada ditempat yang berbeda. Aku rogoh kantongku, dan buka surat yang untuk hari ini, semua tulisan sudah lenyap, namun ada satu huruf 'A' di atas kiri surat tersebut. Tanpa peduli artinya apa, akupun akhirnya tidur dengan sendirinya.


            Bersambung…

Jumat, 11 Februari 2011

Pesan Nyata (006)

            Chapter 006


            “Namamu siapa mas ?”, tanya Pa Anton sambil menahan sakit di perutnya.
            “Nama saya Irfan om”, jawabku.
            “Kamu kuliah atau kerja ?”, tanyanya lagi.
            “Saya baru masuk kuliah om”,balasku.
            “Oh anak om juga baru masuk kuliah”, sahutnya.
            “Kamu kuliah dimana ?”, tanya ia lagi.
            “Di serpong om, namanya UMN”, jawabku.
            “Jurusan ?”, balasnya.
            “Teknik Informatika om”, jawabku.
            “Oooh, kalo anak saya ambil Desain Komunikasi Visual di Binus”, balasnya.
            “Yah, anaknya pasti cowo kalo ambil jurusan itu”, keluhku dalam hati.
“Ooooh, iya om saya juga sempet daftar disana om”, balasku.
            Kamipun berbincang-bincang terus selama perjalanan. Diapun bilang kepada aku bahwa jika aku perlu apa-apa tinggal bilang saja kepada dia. Dia merasa berhutang nyawa denganku. Sesampainya dirumah Pak Anton akupun dipersilahkan masuk dan duduk di dalam rumahnya. Rumahnya sederhana namun rapih dan bergaya minimalis. Istri Pak Antonpun menyambut suaminya dengan tampak yang khawatir dan mambantu Pak Anton masuk ke kamar. Tak lama akupun disediakan minum oleh pembantunya Pak Anton. Lama aku menunggu namun Pak Anton tak kunjung keluar kamar. Padahal aku ingin segera pamit pulang ke Serpong.
            Setelah 30 menit menunggu akhirnya Pak Anton keluar dan membawakan aku pakaian.
            “Nih, kamu sebelum pulang ganti baju dulu, biar bersihan dikit, kamar mandinya disana ya !” menyuruhku sambil menyodorkan kaos dan menunjuk arah kamar mandi.
            “Oh gitu, iyaa iyaaa Pak, makasih banyak” balasku.
            Akupun permisi sebentar ke kamar mandi untuk ganti baju. Ketika aku selesai dan keluar kamar mandi aku melihat Pak Anton sedang berbincang pada seseorang yang menurut aku itu anaknya. Akupun mendekati mereka dan ternyata benar, dia anaknya Pak Anton yang setelah kenalan bernama Ayu. Aku kira awalnya anaknya Pak Anton ini pria, tidak taunya wanita yang sangat tomboy. Dandanannya saja seperti anak laki laki dan dia memiliki tato gambar kupu-kupu di bahu bagian belakangnya yang saat itu terlihat jelas karna dia memakai tank top. Namun dia memiliki tubuh yang seperti wanita biasa. Mukanya pun tampak manis.
            “Nah Ayu, kamu kan sekarang udah kenal, anterin Irfan pulang ya ke serpong”, suruh Pak Anton ke anaknya.
            Ayu tampak kesal dan cemberut langsung mengambil jaket kulitnya dan helm. Aku berpikir naik mobil, tidak tahunya naik motor gede salah satu merek buatan Jepang. Aku yang sempat kebingungan akhirnya pamit kepada Pak Anton. Lalu aku berjalan kearah teras rumah dan melihat Ayu menaiki motornya dan memakai jaket dan helmnya. Aku sempat kagum kepadanya.
            “Wau, seksi banget nih cewe”, gerutuku dalam hati.
            “Woii, mikirin apa lo ! cepet ambil helmnya disitu kalo mau bareng guee !” cetus Ayu sambil membuka kaca helmnya.
            “Iya iyaaaaa yu”, jawab ku.
            “Nih orang galaak amat”, seru aku dalam hati.
            Akupun segera ambil helm dan naik ke motornya yang tampak sporty.
            “Pegangan boy !” seru dia.
            Aku langsung melingkarkan tanganku di pinggangnya.
            “Woii, jangan macem-macem lo! Pegangan belakang motor !”, seru dia.
            “Iya iyaaa, maaf maaf yu” , balasku.
            Ayupun langsung menancap gasnya. Selama perjalanan aku diajak kebut-kebutan terus oleh Ayu. Perutkupun lama-lama terasa mual dan ingin muntah. Aku sempat bilang ke Ayu kalau jalannya pelan-pelan saja, tapi dia menjawabnya dengan menambah kecepatannya. Sampai pada daerah yang sudah lumayan dekat dengan Serpong akupun memutuskan untuk turun.
            “Ayu, kalo gini terus caranya gue mending turun sampe sini aja! ”, seru aku.
            Ayupun langsung memberhentikan motornya ditengah jalan. Aku langsung disuruh turun dengan kasar. Setelah aku turun dia langsung menancap gasnya lagi. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sebegitu marahnya kepadaku. Padahal aku sudah menolong ayahnya. Akupun langsung segera berjalan menuju pinggir jalan dan menunggu angkutan umum.
            Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. Ternyata ada pesan singkat dari Aci yang isinya menanyakan keberadaanku, dia sangat membutuhkan aku, dan dia sekarang ada di kostsan aku. Akupun membalasnya untuk menunggu sebentar karena aku sedang menuju kesana. Akupun langsung mencari ojeg dan langsung meminta tukang ojeg tersebut mengantarkanku ke kostsan aku. Beda dengan saat berboncengan dengan Ayu, kali ini aku meminta ojeg tersebut untuk menambah kecepatannya.  
            Sesampainya di kostsan, aku langsung naik keatas mencari Aci. Aci yang sedang duduk nangis, tiba-tiba berdiri dan memelukku sangat kencang. Akupun kaget dan mencoba menenangkannya sambil menikmati saat-saat tersebut.
            “Ada apa ci ? sabar-sabar ceritain ke gue pelan-pelan ci”, ucapku sambil mengelus rambutnya.
            Aci masih belum bisa cerita dan masih menangis dipundakku. Aku mencoba melepaskan pelukannya tapi dia malah memelukku semakin erat dan seakan ga mau lepas. Lalu pelan-pelan dia mulai berbicara.
            “Aldi fan”,ucapnya pelan sambil terisak-isak oleh tangisannya.
            “Aldi kenapa ci?”, balasku yang mulai panik.
            “Aldi hilang, tiba-tiba hilang, aku ngerasa udah jadi kaka yang jahat fan”, sahutnya.
            “Yaudah nanti aja ceritanya, sekarang kita cari dia, mudah-mudahan ketemu” balasku sambil melepaskan pelukannya dan menuntun Aci ketempat duduk.
Aku langsung ambil kunci motorku, helm dan jaket untuk Aci dan aku. Akupun mengajak Aci mencari Aldi sambil memberikan jaket dan helm kepadanya. Aku selama perjalanan tidak berani bertanya apa-apa sama Aci, takut dia tambah nangis lagi. Awalnya aku mencari disekitar Gading Serpong namun tidak ada tanda-tanda Aldi sedikitpun. Acipun semakin sedih dan panik. Akupun teringat peristiwa Aldi ingin bunuh diri, maka segera aku menancap gas ke arah jembatan tol dan meyakinkan Aci, kalau Aldi pasti ada disana.
            Sesampainya di jembatan tersebut, ternyata benar Aldi ada disana. Acipun langsung turun dari motorku dan berlari kearah Aldi dan memeluk Aldi. Aku rasa dia takut sekali kehilangan adiknya setelah kedua orangtuanya meninggal. Mereka berdua sama-sama menangis dan meminta maaf. Aku jadi sedih melihatnya walaupun aku tidak tahu permasalahannya. Akupun mengajak mereka pulang menaiki motorku.
            Sesampainya di rumah kontrakan Aci, aku mengantarkan mereka berdua kedepan pintu rumahnya. Aci dan Aldipun langsung masuk kedalam rumah tanpa bilang sepatah kata apapun dan menutup pintu rumahnya hanya mengembalikan helmku saja. Akupun langsung berjalan kearah motorku dan sambil menghela nafas.
            Lalu terdengar suara pintu terbuka, dan ada suara panggilan.
            “Irfan, tunggu”, teriak Aci sambil berjalan kearah aku.
            “Iya ada apa ci?”, sahutku sambil membalikan badan.
            Tanpa bicara panjang lebar, dia mencium pipiku.
            “Makasih banyak ya fan”, sambil memberikan jaketku.
            Acipun langsung masuk ke dalam rumahnya lagi. Aku hanya bisa terdiam sejenak antara senang, terkejut dan staycool. Aku langsung menaiki motor dan pulang ke kostsan aku. Sambil senyum-senyum sendiri aku mencoba mengartikan arti ciuman di pipi kiriku dari Aci yang membuat kepalaku miring ke kiri. Haripun mulai menggelap dan mataharipun mulai termakan gelap. Aku yang lelah menaiki motorku dengan pelan-pelan sambil menikmati indahnya senja.
            Sesampainya dikostsan ternyata Bagus, Leo, Sam dan Eko sudah pulang dari OMB di kampusku. Aku yang hampir tidak mengikuti OMB sama sekali hari ini hanya bisa mendengar mereka bertukar cerita tentang permainan-permainan yang dimainkan oleh panitia. Akupun sampe lupa kalau tasku masih ada di kampus. Sepertinya besok aku akan dihukum oleh panitia. Tanpa aku peduli aku langsung ganti baju dan cuci muka setelah itu masak indomie buat makan malamku. Nafsu makanku sudah berkurang drastis karena apa yang terjadi hari ini. Saat memasak, aku sempatkan diri melihat kamar Pramugari yang mungkin belum pulang dari Surabaya karena kamarnya gelap dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
            Setelah selesai semua, aku yang lelahpun tertidur tanpa beban. Esok harinya seperti hari kemarin-kemarinnya. Namun yang membedakannya hari ini aku dihukum oleh panitia harus menuruti semua perkataan panitia hingga acara selesai dan hari ini OMB berjalan sampai jam 7 malam. Aku hanya bisa pasrah sama waktu dan tetap sabar. Selama menjalani hukuman aku tidak boleh mengambil tasku sampai acara selesai. Aku takut sekali surat yang biasa aku terima tidak akan dapat terbaca olehku dan akan ada nyawa yang hilang lagi. Aku sempat memohon kepada panitia namun mereka tetap tidak mengizinkan. Akupun hanya pasrah dan meminta maaf kepada tuhan untuk tidak bisa menyelamatkan nyawa hari ini. Selama acara aku tidak konsen dan sering melamun sendiri memikirkan siapa yang ada di surat tersebut.

Bersambung..

Kamis, 25 November 2010

Pesan Nyata (005)


Chapter 005

            Sesampainya di kostsan, aku langsung mengajak Aldi naik ke kamar aku di atas. Akupun langsung bertanya pada Aldi tentang Aci.
            “Di, kakakmu itu punya facebook ga ?”, tanyaku.
            “Punya kak, punya kak..Namanya Putri Anastacia”, jawab Aldi.
            “Wauuu, emang deh kaka kamu bener-bener putri, habis cantik dan manis sih hehehehe”, jawab aku.
            “Siapa dulu adeknya”, balas Aldi.
            Sambil kita bercanda-canda, kusempatkan untuk membuka Facebook dan mencari namanya. Setelah ketemu, langsung aku add dia sebagai temanku. Aku melihat profile picturenya sedang berduaan mesra dengan Doni.
            “Hey di, kamu udah makan belum ?”, tanyaku.
            “Belum kak “, jawab Aldi.
            “Cari makan yuk di, sama kakak juga belum makan nih”, balasku mengajak.
            “Ayo deh, tapi bayarin ya kak ?”, tanya dia.
            “Iyaaaaaaa “, jawabku.
            Akupun langsung meninggalkan kamar bersama Aldi mencari makan. Saat aku lewat dapur, kusempatkan diri melihat kamar si Pramugari. Ada rasa khawatir di dalam benakku, aku takut aku telah membunuh satu orang lagi walaupun surat yang tadi pagi sudah hilang semua tulisannya. Akupun terus melanjutkan mencari makan.
            “Kamu mau makan apa di ?”, tanyaku.
            “Aku sih apa aja kak”, jawabnya.
            “Warteg aja yaaa ?” sahutku.
            “Yaudah kak engga apa-apa”, balasnya.
            Akupun singgah di warteg tempat aku biasa makan. Setelah memesan, kamipun langsung makan, namun disela-sela waktu aku bertanya tentang Aci.
            “Di, kakakmu suka makanan apa ?”, tanyaku penasaran.
            “Sate Padang kak”, jawab Aldi lugu.
            “Ooooooh, kalo gitu nanti pulang sekalian beli deh”, ucapku.
            Sebelum balik ke kostsanku kami membeli sebungkus sate padang. Setelah itu kamipun bergegas pulang ke kostsaku. Aldi yang tampak kekenyangan langsung mengantuk. Lalu aku suruh dia tidur di kasur aku. Akupun akhirnya menyiapkan barang bawaan OMB besok. Tiba-tiba telepon genggamku berdering, ternyata Aci yang menelponku, langsung dengan segera aku angkat teleponnya.
            “Fan, Gue udah di jalan pulang bisa ga anterin Aldi pulang ?”, tanya Aci.
            “Bukannya gue ga mau nganterin ci, tapi si Aldi tidur mending lo mampir dulu ke kostsan gue, bisa ga ?” sahutku.
            “Oh gitu, yaudah deh, kostsan lo dimana ?”, tanya Aci.
            “Di deket minimarket Kelapa Dua. Nanti gue tunggu di depan deh ”, jawabku.
            “Okeee, ditunggu ya, thanks fan” balasnya.
            Aci menutup telepon sebelum aku membalas ucapan terakhirnya. Tak lama berselang, sekitar 10 sampai 15 menit, Aci mengirimkan aku pesan singkat bahwa dia sudah di daerah Kelapa Dua. Akupun langsung membangunkan Aldi dan menggendongnya sampe kedepan kostsanku. Waktu yang sudah larut sekitar jam 22.30 menambah hawa dingin. Jalananpun sudah mulai sepi, aku takut Aci dan Doni kelewatan. Tak lama merekapun datang, Aci langsung turun dan mambukakan pintu mobil belakang, agar aku bisa menidurkan Aldi di kursi belakang. Setelah itu Acipun masuk lagi kedalam mobil dan membuka kaca mobil sambil bilang terima kasih kepadaku. Doni terlihat sangat sibuk dengan telepon genggamnya. Setelah mereka pergi, akupun balik ke kamar dan istirahat.
               Terbangunku seperti hari kemarin, bergegas mandi dan berangkat kekampus bersama teman satu kostku. Seperti halnya hari kemarin., surat yang biasa muncul di kamar kostsanku belum muncul. Akupun tak peduli, mungkin seperti halnya hari kemarin yang akan tiba-tiba muncul didalam tasku. Aku seperti sudah terbiasa dengan keanehan yang mengganggu aku beberapa waktu ini.
            Saat aku sedang ada seminar, aku melihat jam tanganku, ternyata waktu telah menunjukan pukul 8.20. Aku mencoba mengintip tasku, dan ternyata benar surat itu ada di tasku layaknya hari kemarin. Surat tersebut menjelaskan bahwa terjadi pencurian mobil dan korban ditusuk ditempat dan meninggal seketika. Lokasi dan waktu juga tercantum dengan jelas. Waktu kejadian menunjukan pukul 13.15. Akupun melanjutkan fokus aku ke seminar, aku taruh surat itu dikantong celanaku.
            Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 12.00, tapi aku belum bisa keluar dari kampus karena sedang ada games perkelompok. Aku hanya bisa pasrah kali ini. Sampai pukul 12.45 aku masih belum bisa keluar kampus. Akhirnya pas jam satu teng ada games diluar kampus. Akupun langsung memisahkan barisan dan menaiki ojeg. Sambil menunjukan alamat yang ada disurat ke tukang ojeg.
            Sesampainya di lokasi, ternyata sudah terlambat. Korban sudah tergeletak di pinggir jalan. Tanpa ada satu orang pun yang tahu. Akupun langsung meminta tukang ojeg yang tadi membantuku. Tanpa berpikir panjang akupun langsung menaiki sang korban ke atas motor ojeg dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Darah terus mengucur dari tubuh korban yang tampak seperti seorang bapak yang sudah bekerja. Bajukupun lama-lama berubah merah. Setibanya dirumah sakit, aku langsung meminta satpam untuk mengambilkan kursi roda atau semacamnya untuk membawa korban ke UGD. Tak lupa juga aku langsung membayar ojeg tersebut. Sudah di UGDpun korban tidak langsung dirawat, harus melakukan registrasi dulu. Akupun bergegas melakukan registrasi memakai ktp korban tersebut. Setelah registrasi, korbanpun akhirmya ditangani oleh tim dokter.
            Akupun memutuskan untuk menunggu bapak tersebut di ruang tunggu. Setelah kuperhatikan alamat si korban, ternyata berasal dari daerah Kebun Jeruk. Aku bertanya-tanya sedang apa dia di daerah Tangerang. Akupun menyempatkan membaca surat yang dikantongku. Ternyata suratnya berubah merah, aku tidak tahu apa maksudnya pertanda ini. Lama aku menunggu, lebih dari dua jam, akhirnya dokter memanggil aku.
            “Kamu anaknya ?”, tanya dokter tersebut.
            “Bukan dok, saya cuman orang yang kebetulan lewat tadi dok”, jawabku sambil terbata-bata.
            “Oh yaudah, ini pasien, lukanya tidak terlalu parah, cuman ga boleh banyak gerak dulu. Masalah pembayaran sama obat bisa ditebus di kasir ya” , balas dokter tersebut.
            “Makasih banyak ya dok ” jawabku.
            Akupun menghampiri si korban yang setelah kuketahui namanya Anton setelah kumelihat KTP-nya.
            “Pa Anton, saya ga punya uang buat bayar obat dan biaya operasi bapak tadi. Lalu bagaimana ?”, tanya saya.
            “Oh tenang saja, saya ada kartu kredit kok, tolong bawa saya ke kasir”, balas Pak Anton.
            Akupun bergegas mengambil kursi roda, agar Pak Anton bisa duduk sambil membayar ke kasir. Setelah semua proses pembayaran dan penebusan obat selesai saya mencarikan taksi untuk Pak Anton pulang. Setelah menemukan taksi dan membantu Pak Anton menaiki taksi, Pak Anton meminta aku untuk ikut dengannya pulang. Karna aku merasa aku bertanggung jawab atas kejadian ini akhirnya aku menuruti permintaan Pak Anton. Akupun memberitahukan alamat yang dituju kepada supir taksi.
                        Bersambung…

Sabtu, 06 November 2010

Status itu umpan pancing, Facebook itu kolamnya…

Seperti yang kita ketahui, facebook merupakan situs jaringan sosial yang salah satu fasilitas di situs tersebut adalah men-share “what’s on your mind” atau yang lebih dikenal dengan sebutan Status. Saya yakin anda yang baca ini punya facebook, hehehe.
Saya disini mau memberi sedikit masukan buat orang yang ingin orang yang anda suka tahu anda tanpa harus kenalan sebelumnya.
Tips Pertama :
Anda cari tau sedikit informasi tentang dia, paling tidak ada teman anda yang kenal dengan dia, atau mungkin anda cari sendiri di google. Tapi sebelum itu anda minimal harus tau nama panjang orang tersebut. Jika sudah tau, anda bisa mulai mencari akun facebooknya, dan add as friend dia. Jika kesusahan mencari di facebook, carilah seperti anda mencari tugas kuliah, sekolah ataupun mencari apapun, yaitu ketik nama panjangnya di google, mungkin akan ada yang cocok dengan dia yang anda cari.
Tips Kedua :
Bila sudah di add as friend, maka tunggu approval dari dia. Tiga hari belum di approve, coba ganti profile picture anda, tapi jelas harus foto asli anda, begitu seterusnya sampai dia meng-approve akun facebook anda sebagai teman. Biasanya, dia tidak akan meng-approve kalau bukan teman satu kantor, atau teman satu kampus/sekolah. Oleh karna itu, pasang profile picture anda yang terbaik, dan jangan yang terlalu norak, lebih bagus lagi kalau difoto itu anda sedang senyum. Ini akan membuat dia sedikit mempertimbangkan anda untuk menjadi temannya.
Tips Ketiga :
Ketika sudah diapprove, janganlah anda menulis “Thanks for Approve” atau semacamnya. Karna seakan-akan kita terlalu berharap di approve olehnya. Biarkan saja, pura-pura tidak tahu kalau anda sudah diapprove, dan jangan anda pasang status tentang approval tersebut. Biasa aja, kalau bisa engga usah update status saat itu, biar dia mengira anda belum buka facebook lagi.
Tips Keempat :
Janganlah anda memulai menulis didindingnya, kecuali dia memang ulang tahun atau sedang merayakan hari besar agama yang dianutnya. Kalo anda merasa ingin menulis sesuatu di dindingnya sebaiknya dipendam saja dulu, liat-liat saja fotonya dia dulu, yakinkan anda dulu ingin lebih dekat dengannya lagi atau tidaak.
Anda pasti bingung kapan dia tau saya kalau begitu caranyaa ya kan ? Caranya ada di tips terakhir
Tips Kelima :
Untuk tips terakhir ini anda harus terlihat perfect. Pasanglah foto anda yang paling keren. Paling menunjukan siapa diri anda sebenarnya. Lalu tulis status yang berbau humor atau inspirasi, jadi mungkin dia akan sedikit tersenyum melihat status anda. Lakukanlah pada saat dia dan anda sedang sama-sama online saja. Sehingga status anda akan muncul di beranda dia dan berada dipaling atas. Kalau diluar itu terserah anda mau nulis anda. Setelah menulis status itu, kita tunggu apa ada reaksi dari entah itu hanya sekedar “like” atau malah komentar di status anda. Jangan kecewa bila tidak ada tanggapan dari dia, yang jelas anda sudah bisa buat dia sedikit tersenyum saat itu. Lakukan hal yang sama setiap kali dia online, maka dia akan penasaran tentang diri anda sebenernya siapa walaupun dia ga akan bilang langsung kepada anda atau saya yang nulis ini. Tapi saya yakin dia akan buka halaman profile anda dan lihat foto-foto anda untuk mempertimbangkan anda. Jadi seperti “Status itu umpan pancingnya, dan Facebook itu Kolamnya”. Semakin sedikit atau kecil umpannya, ya semakin kecil juga kesempatannya. Kutiplah dari beberapa web bila anda tidak pandai merangkai kata.
Kalau semuanyaaa udah, tinggal bagaimana diri anda saja kalau bertemu dengan dia. Sapa sedikit seperti “Hai” atau sekedar senyum ke dia. Buat dia lebih penasaran dari sebelumnya. Sampai akhirnya dia akan tau diri anda siapa. Jangan sampe engga pernah nyapa kalau ketemu jadi dia tidak punya perasaan penasaran yang lebih.
(Semoga bisa membantu)